Info Kampus
Minggu, 18 Okt 2026
  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SOE - KAMI PASTIKAN ANDA MENDAPATKAN LAYANAN YANG BERKUALITAS, BERINTEGRITAS & PROFESIONAL

Exegesis Surat Titus 3:1-2 – Welmince L. Laning, M.Pd.K

Jumat, 16 Oktober 2026 Oleh : Ergidalty78

SIKAP DAN TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTEN TERHADAP PEMERINTAH

SERTA HUBUNGAN MEREKA  DENGAN ORANG-ORANG NON-KRISTEN

(Christian’s Conduct, Responsibility, and Relationship Toward Government and Outsiders)

Titus 3:1–2

Pendahuluan

Dalam surat-surat Pastoral, demikian juga Surat Titus tidak semata-mata merupakan sebuah surat biasa, mengingat pesan yang disampaikan adalah dimaksudkan untuk jemaat Kristen melalui Titus.[1]  Paulus ingin mendorong iman orang Kristen di pulau Kreta didasarkan atas Injil yang benar dan yang mengandung pengharapan akan kehidupan yang kekal. Pada saat yang sama Paulus juga memberikan peringatan agar memiliki kewaspadaan terhadap munculnya ajaran palsu dan para pengajar sesat.[2]

Isu Teologis dari Teks

Dalam dua ayat yang sedang dieksegesis yaitu 3:1 – 2, memberikan indikasi bahwa pengaruh ajaran sesat dari kalangan yang disebut sebagai para pengajar Yahudi memberikan andil terhadap perilaku politik di pulau Kreta. Disamping itu, isu “ketaatan, ketundukan terhadap pemerintah yang berkuasa” adalah isu yang sangat penting bagi masyarakat Kreta. Mengingat rakyat pulau Kreta sering dianggap sebagai komunitas yang mudah iri hati, cemburu baik secara sosial dan politik. Jika mereka merasa pemerintah telah merugikan hak-hak sipil mereka, maka pemberontakan dan demonstrasi massapun tidak terelakkan. Bahkan jika mereka terbukti bersalah melanggar aturan pemerintah, konsekuensi hukum yang layak mereka pun mereka anggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia yaitu hak kebebasan.[3]

Konteks Historis

Penulis dan Waktu Penulisan

Sebagaimana yang terdapat dalam pembukaan surat-surat pastoral lainnya, dalam surat ini kembali Paulus mengidentifikasi diri secara resmi sebagai penulis, tanggung jawab panggilan ilahinya, serta memberkati Titus sebagai obyek penerima suratnya (1:1, 4). [4] Surat ini kurang lebih ditulis pada waktu yang sama dengan penulisan surat 1 Timotius, tepatnya saat Paulus bebas dari peristiwa pemenjaraannya yang pertama.[5] Paulus dibebaskan dan berstatus sebagai tahanan rumah tidak lama sesudah tahun 62 dan sebelum peristiwa penganiayaan yang dilancarkan oleh Nero tahun 64 M. Ia menulis surat yang pertama kepada Timotius dan kemudian kepada Titus sesudah pembebasannya yaitu sebelum tahun 64 M atau bahkan sesudahnya. Dari 1 Timotius 1:3, disebutkan Paulus berada di Efesus lalu berangkat menuju Makedonia. Selanjutnya dalam Titus 1:5, dikisahkan bahwa Paulus mengunjungi orang-orang Kristen di Kreta. Kemungkinan lain, Paulus ditahan di Troas tahun 66 atau 67 M. Ia meninggalkan jubah dan beberapa catatan berharganya, mungkin untuk menghindari agar tuan rumahnya tidak turut ditahan, atau mungkin ia dibawa pergi secara tergesa-gesa.[6]

Penerima dan Hubungannya dengan Penulis

Tidak banyak informasi yang dapat dipelajari mengenai pribadi Titus, termasuk kapan dan di mana ia dilahirkan. Menurut informasi dari surat Galatia 2:1-5, dikisahkan bahwa Titus adalah seorang berkebangsaan Yunani dan tidak turut disunat.[7] Kemungkinan ia bertobat setelah mendengan khotbah Paulus, kemudian menyerahkan diri untuk dipakai sebagai alat Allah yang sangat berguna. Diperkirakan ia berangkat bersama Paulus dan Barnabas ke Yerusalem kurang lebih tahun 49 atau 50 (KPR. 15:25), pendapat ini diambil setelah mempelajari informasi dari surat Galatia karena nama Titus sama sekali tidak disebutkan dalam buku Kisah Para Rasul.[8] Absennya nama Titus dalam buku Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Lukas memungkinkan munculnya spekulasi bahwa Titus merupakan saudara Lukas.[9] Paulus menaruh kepercayaan yang besar terhadap Titus, diperkirakan Tituslah yang membawa surat Paulus kepada jemaat di kota Korintus, baik surat yang pertama maupun kedua. Perhatian Paulus kepada Titus tidak sebesar yang ia curahkan untuk Timotius. Hal ini diperkirakan karena Titus lebih tua secara usia, lebih dewasa secara kejiwaan, dan lebih teguh dalam pendirian.[10]

Titus  adalah  rekan  sekerja  (κοινωνος)  Paulus  saat  melayani  jemaat   di Korintus. Menyertai pelayanan Paulus ke Kreta (Titus 1:5), dan atas permohonan Paulus ia bergabung kembali di kota Nikopolis (3:12). Titus dapa juga ditemukan bersama Paulus saat ia menulis surat 2 Timotius di Nikopolis Utara di Dalmatia (2 Tim. 4:10).[11]

Tujuan Penulisan Surat Titus

Alasan utama Paulus mengirimkan surat serta memberikan berbagai dorongan di dalamnya adalah untuk memperjelas dan memperteguh tanggung jawab Titus dalam pelayanan jemaat. Seperti halnya Timotius (1 Tim. 1:3), Titus juga ditinggal di pulau Kreta, namun berbeda dengan Timotius yang diperintahkan untuk memperbaiki sebuah komunitas jemaat yang telah terbentuk, Titus diperintahkan untuk menunjuk dan mengatur sebuah komunitas jemaat yang belum terbentuk dengan baik (Titus 1:5).[12] Tidak hanya itu, Titus diberikan wewenang untuk menjaga kemurnian Injil dengan cara memberikan teguran terhadap mereka yang bermaksud menyelewengkan ajaran yang sehat (Titus 1:13).[13] Namun secara umum baik tugas Timotius dan Titus adalah tugas pelayanan yang bersifat pastoral artinya mendidik jemaat agar mampu mempersiapkan diri menjadi keluarga Allah yang hidup dalam kebenaran (1 Tim.3:15 cf. Tit. 2:11-13). [14]

Latar Belakang Kota Kreta dan Situasi Sosial

Pulau Kreta memiliki nama modern yaitu pulau Candia. Salah satu pulau yang tergolong luas di kawasan laut Mediteranian dan memiliki posisi yang berdekatan dengan kepulauan Yunani di sebelah Selatan. Diperkirakan pulau ini memiliki luas sekitar 140 mil. Meskipun daerah ini dipenuhi dengan pegunungan, namun juga memiliki lembah-lembah dan dataran rendah yang subur dan telah memiliki banyak kota.[15] Orang-orang Kreta memiliki kebiasaan yang kurang baik khususnya dengan pendatang baru, mereka kurang suka bergaul dan tidak suka dijajah. Mereka memiliki sistem pemerintahan yang demokratik sebelum kemudian dijajah oleh kekaisaran Roma pada tahun 67 sebelum Masehi dan dijadikan sebagai salah satu provinsi pemerintah Romawi.[16]

Di antara orang-orang percaya di pulau Kreta terdapat sekumpulan orang Kristen-Yahudi yang tidak dibedakan status keagamaannya oleh pemerintah Roma. Mereka sering dianggap sebagai kaum penghasut dan pemberotak. Beberapa karakter yang mereka miliki adalah mereka warisi dari tradisi dan prinsip para ahli Taurat dan mashab Farisi (Judaizing teachers).   Pengaruh mereka sangat kuat terutama pengajaran mengenai dongeng-dongeng Yahudi (Ioudai?koi/j mu,qoij)  dan perdebatan mengenai Taurat (ma,caj nomika.j) . Di sisi lain mereka melarang untuk memberi penghormatan atau penghargaan terhadap Kaisar sebagai pemerintah yang sedang berkuasa. Di bawah pimpinan Yudas dari Galilea, Theudas dan lain-lain pernah terjadi pemberontakan terhadap pemerintahan Romawi. Secara umum karakter masyarakat Kreta ada kecenderungan untuk memberontak dan mendurhaka. Karena itu nasihat Paulus yang tertulis dalam pasal 3:1-2 ini tidak dapat diterima sepenuhnya oleh orang-orang Kreta.[17]

Di pulau Kreta, nampaknya kekristenan telah berkembang sedemikian rupa. Pernyataan ini dikonfirmasi oleh istilah o[louj oi;kouj (1:11) yang berarti “banyak keluarga” orang percaya  yang terdapat di “setiap kota” kata. po,lin (1:5).[18] Memang keberadaan jemaat Kristen ini belum teratur sedemikian rupa dan oleh karenanya Paulus meninggalkan Titus untuk mengatur palayanan ini.

Konteks Sastra

Konteks Sempit

Setelah menasihati Titus sedemikian rupa (2:15) untuk mengajarkan “ajaran sehat” (2:1-14), Paulus menekankan dorongan untuk “berbuat baik” terhadap semua orang khususnya mereka yang belum percaya (3:1-8) sebagai perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan oleh para pengajar sesat (3:9-11). Di sini lebih khusus Paulus mendorong orang percaya agar bersikap dan bertingkah laku benar dalam hubungan mereka dengan pemerintah yang sedang berkuasa (3:1). [19]

Meskipun kehadiran para pengajar palsu di Kreta tidak dapat dihindarkan, namun dorongan untuk melawan pengajaran mereka tidak menempati status mendesak seperti yang Paulus sampaikan kepada Timotius di kota Efesus. Untuk melawan arus ajaran sesat ini Titus hanya diminta untuk memperingatkan (1:13), sementara pemilihan penatua dan pengawas jemaat lebih berfungsi secara maksimal untuk membentengi jemaat dan melawan berbagai ajaran sesat itu (1:9).[20] Kesaksian buku Kisah Para Rasul 2:11 menyebutkan bahwa ketika peristiwa Pentakosta terjadi, terdapat pula orang-orang yang datang dari pulau Kreta dan kemudian mereka bertobat setelah mendengar Injil. Dari Titus 3:9, dapat dimengerti bahwa atas usaha dan pengaruh para pengajar palsu Yahudilah mereka dikecoh dengan berbagai pengajaran sesat.[21]

Konteks Luas

Dalam karya tulis ini, Titus 3:1-2 diletakkan dalam konteks yang lebih luas dalam ikhtisar yang dikutip langsung dari tafsiran Guthrie[22], yaitu:

Ikhtisar Surat Kolose

  1. Pembukaan Surat (1:1-4)
  2. Syarat-syarat bagi penatua, pengawas jemaat (1:5-9)
  3. Para pengajar palsu di kota Kreta (1:10-16)
  4. Aturan tingkah laku bagi kehidupan Kristen (2:1-10)
  5. Golongan dewasa (2:1-3)
  6. Golongan muda (2:4-8)
  7. Golongan budak (2:9-10)
  8. Dasar teologis bagi kehidupan Kristen (2:11-3:7)
  9. Pengajaran  mengenai kuasa kasih karunia (2:11-15)
  10. Sikap orang Kristen di dalam sebuah komunitas (3:1-2)[23]
  11. Keunggulan Injil di atas penyembahan berhala (3:3)
  12. Kerja kuasa penyelamatan (3:4-7)
  13. Nasihat Penutup (3:8-11)
  14. Mengenai pekerjaan baik (3:8)
  15. Mengenai pengajaran sesat (3:9-11)
  16. Penutup (3:12-15)

Penyelidikan Teks

       (S)                          (O)                              (V)                                             (D/Acc.)

     [Subject]                            [Object]                                   [Verbs]                                                  [Dative/Accusative]

u`pomi,mnh|ske      auvtou.j

u`pota,ssesqai(

peiqarcei/n(

e`toi,mouj pro.j pa/n e;rgon avgaqo.n

avrcai/j

                [kai.] [24]

evxousi,aij

                                                mhde,na

                                                                                blasfhmei/n(

                        avma,couj ei=nai(

                        evpieikei/j(

                                                                                evndeiknume,nouj prau<thta

                                                                                                                                     pro.j

                                                                                                                                                                pa,ntaj avnqrw,poujÅ

Indonesian translation:

Ingatkanlah                          mereka

                                                           tunduk

                                                           taat

                                                           siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik

pada pemerintah

dan

orang-orang yang berkuasa,

                          Janganlah mereka                 memfitnah,

                                                                          bertengkar,

                                             mereka

                                                                         selalu ramah

                                                                         bersikap rendah hati/lemah lembut

                                                                                                                           terhadap

semua orang.

Terjemahan langsung:

Ingatkanlah mereka [orang-orang Kristen di Kreta] agar tunduk, taat, dan siap melakukan setiap pekerjaan baik terhadap pemerintah dan jajarannya yang berotoritas.

Janganlah mereka memfitnah, bertengkar, melainkan hendaklah mereka selalu rendah hati terhadap semua orang.

Sikap orang Kristen di dalam sebuah komunitas (3:1-2)

Ayat  1

~upomi,mnh|ske kata kerja yang diterjemahkan “ingatkanlah” ini dalam bentuk present active imperative diikuti kata ganti orang maskulin jamak akusatif auvtou.j yang bisa berarti “mereka atau orang-orang,” memberikan indikasi bahwa Paulus melalui Titus sedang mengingatkan kembali orang-orang percaya di Kreta mengenai hal apa yang Paulus pernah ajarkan sebelumnya. Peringatan ini tentu tidak ditujukan kepada orang yang tidak percaya, karena orang-orang percaya saja yang pernah mendapat pengajaran Paulus. Pernyataan “ingatkanlah” ini bisa jadi dikaitkan dengan ajaran Paulus misalnya dalam Roma 12:14 – 13:10.[25] Instruksi ini senada dengan apa yang pernah Paulus ajarkan dalam Roma 13:1-8, bahwa bagaimanapun, pemerintah adalah pihak yang memiliki andil jasa terhadap kekristenan[26] sekecil apapun. Sebagai seorang Kristen, salah satu tanggung jawab utamanya dalam lingkungan masyarakat patuh dan tunduk kepada pemerintahan yang ada dan menjadi warga masyarakat yang baik.

Tidak demikian dengan orang-orang Kreta yang terkenal keras kepala dan tidak taat peraturan.[27] Sepertinya jemaat telah mendengar pengajaran rasul mengenai topik ini, namun karena banyaknya pengajaran kitab suci maka menjadi sesuatu yang membahayakan jika kemudian mereka menjadi lupa. Isu mengenai “melupakan nasihat, ajaran, dan didikan” adalah isu yang cukup kental dibicarakan dalam Alkitab. Demikian juga penyebab utama kejatuhan Israel adalah melupakan ajaran dan didikan Tuhan. Dalam kitab Mazmur 106:13, 7 dikatakan, “Tetapi segera mereka melupakan…” Yesus  juga  pernah menunjukkan keluhan yang sama terhadap para muridNya dalam Mat. 16:9, “ Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi…” [28] Demikian juga dengan pengalaman pelayanan Paulus, Petrus dan Yohanes, mereka harus berulang-ulang kali menekankan hal tidak melupakan didikan.[29]

Istilah avrcai/j yang dipakai dalam petikan ayat ini memiliki pengertian “pemerintahan” secara duniawi, yang menunjuk langsung kepada kekaisaran Roma yang memiliki otoritas di berbagai tempat.[30] Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia memakai istilah “pemerintah” dalam bentuk tunggal, sementara dalam tulisan asli adalah berbentuk jamak yaitu “pemerintah-pemerintah” bisa dibandingkan dengan pemakaian istilah yang sama dalam Injil Lukas 12:11.[31] Kata  evxousi,aij diartikan sebagai “otoritas manusiawi” sebagai “pemegang atau pelaksana sebuah otoritas.”[32] Istilah evxousi,aij dapat secara langsung menunjuk para bawahan pemerintah kekaisaran Roma yang turut diberikan wewenang, seperti prokonsul atau yang lainnya.[33]

Semenjak setiap orang secara resmi dianggap sebagai warga negara, maka kata kerja infinitif u`pota,ssesqai seharusnya dimengerti dalam konteks middle voice yang dapat diartikan “tundukkan diri.” Hal ini mengacu kepada tindakan kerelaan dan kesadaran, dari pada dipahami dalam bentuk passive voice “tunduk.” Seorang Kristen tidak harus membiarkan kecenderungan keberdosaannya memiliki tempat untuk menjadi alat pemberontakan kepada pemerintah, sehingga mempengaruhi ketundukan dirinya.[34] Menjadi tunduk dan taat peiqarcei/n  terhadap pemerintah dapat secara langsung dipahami secara penuh (in an absolute sense).[35] Maksudnya orang percaya seharusnya rela menunjukkan ketundukan dan ketaatan secara penuh terhadap pemerintahan di atasnya. Mengingat kata peitharcheo dapat dimengerti sebagai “menjadi taat terhadap otoritas di atasnya,”[36] yang juga menunjukkan kesesuaian umum terhadap seluruh peraturan pemerintah setempat.[37] Saat Paulus menulis suratnya ini, pihak-pihak yang anti kekristenan menuduh bahwa orang-orang Kristen suka memberontak kepada pemerintah. Itu sebabnya tulisan yang diterima Titus ini akan menutup dan menyanggah berbagai tuduhan keliru tersebut. Orang Kristen didorong agar menjadi teladan kehidupan bermasyarakat dan berpolitik yang baik.[38]

Dalam frase pa/n e;rgon avgaqo.n e`toi,mouj ei=nai ini, Paulus mendorong agar setiap orang percaya di pulau Kreta siap melakukan setiap perbuatan baik. Artinya siap melakukan setiap perbuatan baik, baik terhadap sesama warga masyarakat maupun terhadap pemerintahan di manapun mereka berada.[39] Di mana pemerintah menghendaki aktivitas yang bersifat komunal, maka sikap yang dibutuhkan dari seorang Kristen adalah menunjukkan kerja sama dan keaktifannya dalam memberi tanggapan positif.[40] Beberapa orang seperti Kelly, Guthrie, dan Hendricksen, seperti yang dikutip oleh Fee, mengatakan tindakan ini merupakan perluasan tanggung jawab warga sipil dari Titus 1:16.[41]

Ayat 2

Jika seorang Kristen diperintahkan untuk berbuat sesuatu yang jelas-jelas diketahui sebagai kesalahan, tentu ia harus dengan tegas tidak perlu menunjukkan ketaatan terhadap perintah tersebut. Orang Kristen berhak menyatakan kesalahan orang lain termasuk pemerintah, namun tindakan tersebut seharusnya dilakukan dengan sopan dan tidak memfitnah.[42] Hal ini tentu akan menunjukkan  kontras  yang  sedemikian  rupa  dengan  tindakan  para pengajar palsu  (1:16). Mereka sering  terlibat  dalam  perdebatan  bahkan  perkelahian  atau  percekcokan (3:9).  Kata blasfhmei/n  atau “Blasphemiai” secara literal berarti “menghujat, menghina, mencerca atau menista” (1 Tim. 6:5).[43] Tidak dibenarkan jika seorang Kristen melakukan tindakan mencaci-maki (revile) orang atau pihak lain. Karena kata “Blasphemiai” juga berarti menumpuk kutuk atas, mencela, atau mengucapkan kata-kata celaan. Banyak kali memang istilah “menghujat” diarahkan untuk Tuhan, namun kali ini tindakan yang ditujukan terhadap sesama manusia.[44] Kata mhde,na berarti tidak satupun, tak seorangpun (no one),[45]  artinya Paulus memperingatkan dengan sungguh-sungguh agar orang percaya tidak melakukan tindakan penghujatan terhadap siapapun.[46]  Menarik, karena dalam terjemahan bahasa Indonesia memakai istilah “memfitnah” yang sejajar dengan istilah dalam bagasa Inggris “Slander” (English Majority Text Version). Betapa pentingnya nasihat agar tidak memfitnah orang atau pihak lain ini Paulus rasa sangat serius, karena tindakan memfitnah ini dapat merusak nama baik orang lain.[47]

Selanjutnya Paulus mendorong agar orang Kristen menjauhi tindakan pertengkaran avma,coj, karena apabila orang percaya suka bertengkar (contentious) dengan sesamanya sesungguhnya ia adalah orang yang patut dikasihani, karena ia telah gagal menjadi saksi bagi Kristus.[48]  Dalam terang ini, tepatlah apa yang dikatakan Yakobus dalam suratnya  yang berkata, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yak. 1:26).

 Sebaliknya, orang-orang yang percaya dituntut memiliki tanggung jawab yang positif yaitu menunjukkan sikap selalu “ramah”  evpieikei/j seorang akan yang lain. Istilah rendah hati atau lemah lembut diterjemahkan dari kata prau<thta. Orang orang seperti Mofatt dan Kelly lebih memilih istilah “conciliatory” yang berarti “bersikap mendamaikan” dari pada “considerate” yang berarti “berakal budi atau penuh pertimbangan “terhadap setiap orang” pro.j pa,ntaj avnqrw,pouj.” Tindakan ini sesuangguhnya memiliki nilai ganda, artinya jika benar-benar orang percaya mampu menerapkannya berarti secara tidak langsung ia sedangmenjalankan misi penginjilan.[49]

Aplikasi

Setiap orang Kristen haruss memiliki jiwa ketaatan yang tulus kepada hukum yang berlaku di negara di manapun ia berada dan ketundukan terhadap pemerintah yang di atasnya. Seperti pengajaran Paulus dalam Roma 13:1, “Bahwa Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”[50] Ketaatan orang Kristen, khususnya orang Kristen di Indonesia, terhadap pemerintah dapat ia tunjukkan melalui kesadaran untuk patuh terhadap setiap hukum yang berlaku, menunjukkan komitmen pro aktif dalam hak berpolitik secara benar, membayar pajak pemerintah, menghargai hak asasi, dan menjunjung tinggi kesetiaan terhadap negara.[51]

Bibliography

Aland, Barbara, Kurt Aland, Johannes Karavidopoulos, Carlo M. Martini, and Bruce M. Metzger. The Greek New Testament Fourth Revised Edition “Greek-Indonesian Diglot New Testament.” Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2000.

Blaiklock, E.M. Surat-surat Penggembalaan: Buku Pedoman untuk Mempelajari Surat-surat kiriman 1-2 Timotius dan Titus. Malang: Penerbit Gandum Mas, 1981.

Brill, J. Wesley. Tafsiran Surat Timotius dan Titus. Bandung: Kalam Hidup, 1978.

Dibelius, Martin and Hans Conzelmann. The Pastoral Epistes: A Commentary on The Pastoral Epistles. Philadelphia: Fortress Press, 1977.

Fee, Gordon. New International Biblical Commentary: 1 and 2 Timothy, Titus. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, Inc., 1988.

Guthrie, Donald. The Pastoral Epistles: An Introduction and Commentary. 2nd edition. The Tyndale New Testament Commentaries. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 1990.

Kent, Homer A. Jr. The Pastoral Epistles: Studies in 1 and 2 Timothy and Titus. Chichago: Moody Press, 1966.

Knight III, George W. NIGTC: The Pastoral Epistle “Titus.” Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 1992.

Lock, Walter. The Pastoral Epistles: 1 and 2 Timothy and Titus, A Critical and Exegetical Commentary. Edinburgh: T. & T. Clark, 1989.

Towner, Philip H. The IVP New Testament Commentary Series: 1-2 Timothy and Titus. ed.   Grant R. Osborne. Downers Grove, Illinois: Inter Varsity Press, 1994.

Sutanto, Hasan. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003.

Stott, John R.W. The Message of Timothy and Titus. Leicester, England: Inter Varsity Press, 1997.

Sykes, Philip F. and Robert H. Sykes. Timothy and Titus. Scarborough, Canada: Everyday Publications Inc., 1986

Electronic Sources

Barnes, Albert. Albert Barnes’ Notes on the Bible: Introduction Book of Titus. CD Rom,1798-1870.

Clarke, Adam.  Adam  Clarke’s  Commentary  on  the  Bible: Book of Titus. CD Rom, 1715-1832.

Gill, John. John Gill’s Exposition of the Entire Bible: Titus 3:1-2. CD Rom, 1690-1771.

Smith, William. Smith’s Bible Dictionary on Titus.  CD Rom, 1884.


[1] Homer A. Kent, Jr., The Pastoral Epistles: Studies in 1 and 2 Timothy and Titus (Chichago: Moody Press, 1966), 213.

[2] Gordon Fee, New International Biblical Commentary: 1 and 2 Timothy, Titus (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, Inc., 1988), 167.

[3] Adam Clarke, Adam Clarke’s Commentary on the Bible: Book of Titus (CD Rom, 1715-1832).

[4] Philip H. Towner, The IVP New Testament Commentary Series: 1-2 Timothy and Titus, ed. by  Grant R. Osborne (Downers Grove, Illinois: Inter Varsity Press, 1994), 217.

[5] Kent, 213.

[6] E.M. Blaiklock, Surat-surat Penggembalaan: Buku Pedoman untuk Mempelajari Surat-surat kiriman 1-2 Timotius dan Titus (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1981), 65-66.

[7] Philip F. Sykes and Robert H. Sykes, Timothy and Titus (Scarborough, Canada: Everyday Publications Inc., 1986), 57. Titus tidak turut disunat, meskipun sempat ada desakan, agar tidak menjadi batu sandungan ketika njil diberitakan kepada orang-orang non-Yahudi (Gal. 2:5).

[8] Ibid.

[9] Kent, 214.

[10] J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Timotius dan Titus (Bandung: Kalam Hidup, 1978), 105.

[11] George W. Knight III, NIGTC: The Pastoral Epistle “Titus” (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 1992), 8-9. Dalam tulisannya, ia mengutip pernyataan tradisi yang disebutkan oleh Eusebius bahwa Titus kemudian kembali ke Kreta dan menetap di sana untuk melayani Tuhan hingga usia senja sebagai uskup.

[12] Fee, 11.

[13] Donald Guthrie, The Pastoral Epistles: An Introduction and Commentary, 2nd edition, The Tyndale New Testament Commentaries (Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company, 1990),  201.

[14] Walter Lock, The Pastoral Epistles: 1 and 2 Timothy and Titus, A Critical and Exegetical Commentary (Edinburgh: T. & T. Clark, 1989),  xiii.

[15] William Smith, Smith’s Bible Dictionary  (CD Rom, 1884).

[16] Brill, 105-106.

[17] John Gill, John Gill’s Exposition of the Entire Bible: Titus 3:1-2 (CD Rom, 1690-1771).

[18] Lock, 121.

[19] Ibid., 200.

[20] Fee, hal. 11.

[21] Albert Barnes, Albert Barnes’ Notes on the Bible: Introduction Book of Titus (CD Rom,1798-1870).

[22] Guthrie,  hal. 192.

[23] My Emphasis verses.

[24] Ada beberapa terjemahan yang memakai ‘kai” yang diartikan “dan” di antara avrcai/j kai. evxousi,aij  [D2 075 81 256 (263) 365 436 1241 1319  1573  1852  2127  2200 Byz (KLP) arm eth geo slav Basil Chrysostom John – Damascus; Ambrosiaster Jerome Pelagius Augustine Speculum.  Barbara Aland and others, The Greek New Testament Fourth Revised Edition “Greek-Indonesian Diglot New Testament” (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2000), 1473.

[25] Knight III, 331.

[26] Fee, 201.

[27] Sykes,  67.

[28] John R.W. Stott, The Message of Timothy and Titus (Leicester, England: Inter Varsity Press, 1997), 198.

[29] Fil. 3:1; 2 Pet. 1:12-13; 3:11-12; 1 Yoh. 2:21, 24.

[30] Clark, Commentary on Titus 3:1 (CD Rom).

[31] Knight III, 332.

[32] Ibid.

[33] Clark.

[34] Kent, 237.

[35] Martin Dibelius and Hans Conzelmann, The Pastoral Epistes: A Commentary on The Pastoral Epistles (Philadelphia: Fortress Press, 1977), 147.

[36] Kent.

[37] Guthrie, 214.

[38] Brill, 133.

[39] Ibid.

[40] Guthrie.

[41] Fee.

[42] Brill, 134.

[43] Fee.

[44] Kent, 238.

[45] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), 1145.

[46] Clark, Titus 3:2.

[47] Brill.

[48] Kent

[49] Fee.

[50] Brill.

[51] Kent.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar