Info Kampus
Jumat, 16 Okt 2026
  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SOE - KAMI PASTIKAN ANDA MENDAPATKAN LAYANAN YANG BERKUALITAS, BERINTEGRITAS & PROFESIONAL

Integritas Guru PAK Menurut 1 Timotius 4:16 – Welmince L. Laning, M.Pd.K

Jumat, 16 Oktober 2026 Oleh : Ergidalty78

INTEGRITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT I TIMOTIUS 4:16

Oleh

WELMINCE L. LANING, M.Pd.K

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI SOE

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

2026

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas perkenananNya,  penulis diberi kekuatan serta hikmat sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik.  Harapan penulis,  kiranya penelitian ini dapat memberkati setiap Pembaca. Amin.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTARi
DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUAN4
Latar Belakang Masalah4
Rumusan Masalah9
Tujuan Penelitian9
Pentingnya Penelitian9
Paradigma Penulisan10
Ruang Lingkup Penulisan10
Metode Penelitian10
Penjelasan Judul11
Sistematika Penulisan11
BAB II KAJIAN TEORITIS13
Integritas Guru PAK13
Ketekunan Guru PAK Menghasilkan Keselamatan64
BAB III ANALISIS EKSEGETIS75
Latar Belakang Kitab75
Konteks Teks83
Garis Besar Teks90
Struktur Teks90
Eksegese Teks91
Rangkuman112
BAB IV IMPLIKASI INTEGRITAS GURU PAK MENURUT 1 TIMOTIUS 4:16 BAGI GURU PAK116
Integritas Guru PAK116
Ketekunan Guru PAK dalam Mengerjakan Keselamatan121
Implikasi Praktis bagi Guru PAK125
Rangkuman128
DAFTAR PUSTAKA 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Guru yang berintegritas pasti memiliki kepribadian yang baik, sebab “orang yang berintegritas senantiasa berusaha bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang normatif”[1] dan apa yang diajarkan, itulah yang dilakukannya oleh karena “orang yang berintegritas adalah orang yang memiliki keutuhan pribadi. Keutuhan pribadi mempunyai dampak signifikan dalam semua aspek dan dimensi kehidupan mereka yang memilikinya”.[2]

Setiap ajaran yang diberikan guru kepada murid pasti memiliki nilai yang baik karena tugas utama guru adalah mengajar, mendidik, dan melatih orang untuk mencapai kedewasan hidup. Kedewasan hidup selalu ditandai dengan nilai-nilai kehidupan yang baik dan tanggung jawab seseorang dalam setiap tugas yang dipercayakan kepadanya. Kedewasaan hidup tidak akan dicapai oleh orang yang sedang belajar, apabila gurunya tidak menanamkan nilai-nilai yang baik, dan nilai-nilai yang baik tidak bisa diberikan oleh guru apabila nilai-nilai itu tidak ada pada dirinya.

Guru yang berintegritas selalu ditandai dengan disiplin diri yang tinggi, sebab dalam setiap pengajarannya, guru selalu menanamkan kedisiplinan diri kepada murid. Baik disiplin terhadap waktu maupun kepatuhan terhadap setiap peraturan yang berlaku, dan bertanggung jawab terhadap setiap tugasnya demi tercapainya tujuan belajar. Selain itu, guru yang berintegritas pasti memiliki ketekunan karena mengemban tugas guru bukan hanya dalam waktu yang singkat dan dalam waktu-waktu tertentu saja , melainkan setiap hari dan sampai masa pengabdiannya selesai. Ketekunan pun merupakan hal penting yang perlu ditanamkan dalam diri murid agar muridpun tekun belajar sehingga mendapatkan hasil belajar yang baik. Guru yang berintegritas juga selalu menunjukkan rasa percaya diri dalam kehidupannya sebab, “kepercayaan diri datang dari tindakan yang berlandaskan integritas, kesadaran tujuan hidup, komitmen untuk merebut tanggung jawab, dan bukan datang dari mentalitas membiarkan semua terjadi.”[3]

Perihal mengenai guru yang berintegritas pun telah diajarkan Paulus kepada anak rohaninya, Timotius yang tertulis di dalam 1 Tim. 4:16 “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” Ayat ini menjelaskan bahwa Timotius sebagi seorang guru muda yang mengajarkan kebenaran harus memperhatikan hidup, yakni setiap tindakannya agar menjadi teladan dan memperhatikan juga ajarannya, yakni setiap perkataannya agar apa yang diajarkannya sesuai kebenaran sejati. Kedua hal ini harus berjalan selaras dalam kehidupan Timotius, sang guru muda itu agar ajarannya tidak menjadi bahan cemoohan orang lain dan dirinya tidak dipandang rendah karena usianya yang muda. Namun kesemuanya itu harus dilakukan dengan tekun agar menjadi kesaksian dan keselamatan bagi dirinya dan orang yang diajarnya.

Keselamatan setiap pribadi disediakan sebagai anugerah dari Allah yang adil, dinyatakan dalam kasih karunia melalui kematian dan kebangkitan Kristus kepada pendosa yang tidak layak namun oleh anugerah iman, percaya kepada keadilan Kristus yang sudah menebus hidupnya dan membenarkannya. Allah membenarkan pendosa yang tidak layak itu dengan memperhitungkan baginya keadilan Kristus yang sempurna, mengampuni dosa-dosanya, mendamaikan dia dengan diri-Nya sendiri di dalam dan melalui Kristus yang sudah ‘membuat perdamaian melalui darah salib-Nya’ (2 Kor 5:18; Rom 5:11; Kol 1:20), mengangkatnya menjadi keluarga-Nya (Gal 4:5 ; Ef 1:13; 2Kor 1:22), memberinya meterai, kesungguhan, dan buah sulung dari Roh-Nya di dalam hatinya, dan dengan demikian menjadikannya ciptaan baru. Oleh Roh yang sama sarana keselamatan berikutnya memampukannya berjalan dalam kehidupan yang baru, sambil makin mematikan perbuatan-perbuatan daging (Rom 8:13) sampai akhirnya dijadikan sama dengan Kristus (Rom 8:29) dan keselamatannya digenapi dalam kemuliaan (Filipi 3:21).[4]

Jalan keselamatan dilihat dari titik tolak pemikiran Alkitab ialah bahwa sejak kejatuhannya, manusia memerlukan pertolongan, yaitu keselamatan. Manusia berada dalam lingkaran setan pada posisi dan kondisi yang berbahaya, bersalah dan tak berdaya. Kesalahannya tidak melayakkan dirinya menerima bantuan yang dapat melepaskannya dari keadaan dan kedudukannya itu. Tidak ada kebijakan dan kekuatan manusiawi yang mampu memecahkan masalah itu untuk dapat keluar dari dalam lingkaran itu. Allah sendiri harus mengambil prakarsa jika manusia harus diselamatkan. Karya keselamatan telah dikerjakan dalam pribadi Yesus yang berpuncak pada jalan salib dan kebangkitannya menjadi bukti. Selanjutnya dikerjakan oleh orang-orang pilihan-Nya, baik penginjil maupun pengajar.

Mengajar membawa keselamatan tidak hanya dilakukan dengan menyampaikan tanpa bertindak, sebab Yakobus mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah hanya ‘oleh iman’ saja, tapi juga oleh ‘perbuatan’ (Yak 2:24). Tujuannya ialah untuk membuyarkan harapan siapa saja yang menggantungkan keselamatannya hanya pada pengetahuan intelektual tentang keberadaan Allah, tanpa adanya perubahan hati yang mendampakkan perbuatan-perbuatan yang adil.[5] Yakobus bukannya mengabaikan iman yang benar, tapi menekankan bahwa kehadiran orang beriman nampak melalui perbuatan yang pada gilirannya menunjukkan daya penyelamatan yang benar, dan bekerja melalui firman Allah dalam hati. Sehingga dapat membawa kembali orang-orang berdosa dari jalannya yang salah dan menyelamatkan nyawanya dari kematian (Yak 5:20).

Namun kenyataannya, guru-guru saat ini, secara khusus guru PAK tidak menunjukkan adanya karakter Yesus, Sang Guru Agung yang selalu mengajar dari limpahan hidup-Nya, sehingga tidak adanya sifat yang dapat memancarkan kewibaawaan di dalam diri. Guru PAK saat ini hanya mengajarkan tentang Tuhan dan karya keselamatan-Nya secara teori dan membentuk intelektual namun tidak ada perubahan hidup seperti orang yang hidup sebagai anak-anak Allah dalam diri murid-murid. Hal ini terjadi karena murid-murid tidak melihat contoh dari guru sehingga menganggap keselamatan hanyalah teori bukan perubahan hidup mencapai kedewasaan iman. Guru yang demikian bukanlah guru yang berintegritas dan keselamatan dirinyapun masih perlu dipertanyakan.

Akibatnya orang-orang yang diajarpun tidak dapat menerima keselamatan yang telah disediakan Allah, bahkan sebaliknya mencemooh guru yang mengajarkan kebenaran kepadanya. Dan pastinya tidak hidup seperti cara hidup Kristen sejati sehingga tidak tercapainya tujuan Pendidikan Agama Kristen yang menuntun orang pada kedewasaan iman di dalam Yesus Kristus, padahal, “Pendidikan Kristen harus memimpin orang-orang yang dididik agar memiliki pengenalan yang benar akan Allah sehingga mereka menjadi semakin dewasa, hidup lebih taat, lebih tertib, dan benar di dalam Tuhan.”[6] Untuk mencapai tujuan tersebut guru PAK harus menjadi pengajar yang efektif. Hendricks mengatakan bahwa “pengajar yang efektif selalu mengajar dari limpahan hidupnya yang penuh”,[7] bukan sekadar memberi teori.

Ajaran 1 Timotius ini dapat membentuk kepribadian guru untuk menjadi guru yang efektif dalam mengajar dan berdampak pada keselamatan, sebab konsep yang diajarkan oleh Paulus kepada Timotius ini dapat menuntun pola pikir setiap orang, baik guru maupun orang yang diajar untuk menerima keselamatn dan bagaimana hidup sebagai orang yang telah diselamatkan.

Melihat kenyataan dan masalah yang terjadi seperti yang telah diuraikan pada latar belakang penelitian ini, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “INTEGRITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT 1 TIMOTIUS 4:16”.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimanakah integritas Guru PAK menurut 1 Timotius 4:16?
  3. Bagaimanakah ketekunan Guru PAK dalam mengajar dapat membawa keselamatan bagi diri sendiri dan orang yang diajar?
  4. Tujuan Penelitian
  5. Untuk mengetahui integritas Guru PAK menurut 1 Timotius 4:16.
  6. Untuk mengetahui ketekunan Guru PAK dalam mengajar dapat membawa keselamatan bagi diri sendiri dan orang yang diajar.
  7. Pentingnya Penelitian

Penelitian ini dianggap penting bagi penulis karena bermanfaat bagi beberapa pihak antara lain:

  1. Bagi guru PAK, yakni memberi pemahaman yang benar tentang sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru PAK. Dalam penelitian ini, salah satu kebajikan yang harus dimiliki secara mutlak oleh guru PAK adalah integritas.
  2. Bagi siswa, dapat mengetahui apa makna integritas dalam kebenaran firman Tuhan yang di ajarkan Paulus kepada Timotius dan dapat menjadikannya sebagai referensi untuk waktu mendatang apabila memiliki cita-cita menjadi guru. Dan dapat hidup berintegritas di waktu sekarang.
  3. Bagi sekolah dan gereja, dapat mengetahui makna integritas dalam kebenaran firman Tuhan sehingga bisa menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam mencari guru agama bahkan juga untuk guru secara umum atau guru sekolah minggu dan guru injil di gereja dan mendorong jemaat memiliki integritas dalam hidup.
  4. Bagi penulis, yakni secara pribadi dapat dijadikan sebagai bahan refrensi di waktu mendatang dan mulai melatih diri dari sekarang untuk hidup berintegritas.
  5. Paradigma Penulisan

1 Timotius 4:16 memberi pengertian bahwa setiap guru, terlebih khusus guru PAK harus memperhatikan semua aspek hidupnya, baik cara hidup maupun ajarannya agar adanya keselarasan antara perkataan dan kelakuan di dalam hal mengajar. Semuanya itu harus dilakukan dengan ketekunan agar dapat mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan orang-orang yang diajarnya.

  1. Ruang Lingkup Penulisan

Penulis sadar bahwa penelitian tentang konsep integritas secara umum akan menemukan hasil yang sangat meluas. Oleh sebab itu, penulis mempersempit penelitian dengan berfokus kepada: Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen menurut 1 Timotius 4:16.

  1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam meneliti kasus ini adalah penelitian teologis eksegetis yaitu  penelitian ayat. Dalam hal ini penulis melakukan suatu studi exegetis dari 1 Timotius, mencari makna dan memaparkan aplikasinya, melalui pendekatan literatur. Penulis akan mengumpulkan data pustaka yang mendukung dan akan menyusunnya secara sistematika sehingga dapat dipahami dan dimengerti dengan mudah makna dari kitab 1 Timotius 4:16.

  1. Penjelasan Judul

Judul skripsi ini adalah “Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut 1 Timotius 4:16”. Kata integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan.[8] Integritas juga mengandung pengertian kekjujuran, terutama jujur terhadap diri sendiri karena menuntut kesatuan antara perkataan dan tindakan. Secara sederhana, integritas berarti apa yang dikatakan, itulah yang dilakuakan. Integritas guru PAK menurut 1 Timotius 4:16 adalah kesatuan antara cara hidup dan pengajaran yang berdampak pada keselamatan diri dan orang yang diajar apabila dilakukan dengan tekun.

  1. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan ini, antara lain sebagai berikut:

BAB I: penulis menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan pendahuluan, yakni latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, pentingnya penelitian, hipotesis, ruang lingkup penulisan, metode penelitian, dan definisi istilah atau penjelasan judul.

BAB II, penulis menguraikan tinjauan teoritis yang berhubungan dengan pokok masalah yang akan dibahas yakni integritas guru PAK.

BAB III, penulis menguraikan tentang analisis eksegetis 1 Timotius 4:16, yang di dalamnya meliputi latar belakang kitab, konteks teks, garis besar teks, struktur teks, eksegese teks, dan rangkuman.

BAB IV, penulis menjelaskan tentang makna integritas guru PAK dan implikasinya bagi guru PAK masa kini, mencakup pengendalian diri dan pengajaran serta ketekunan dalam mengajar yang membawa keselamatan.

BAB V, penulis mengakhiri penulisan skripsi dengan kesimpulan dan saran yang dianggap penting bagi pembaca.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

Pada bagian ini, penulis memaparkan berbagai teori sehubungan dengan integritas guru PAK dan ketekunannya mengahsilkan keselamatan yang diuraikan berdasarkan kajian pustaka.

  • Integritas Guru PAK

Integritas guru PAK merupakan suatu pokok pembahasan yang cukup luas dan mendalam sehingga penulis menguraikannya dalam beberapa poin, yakni pengertian integritas guru PAK, ciri-ciri guru PAK yang berintegritas, faktor-faktor yang mempengaruhi integritas guru PAK, kehidupan rohani guru PAK, pembentukkan integritas guru PAK, dan kualitas karakter guru PAK.

  • Pengertian Integritas Guru PAK

Integritas guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) berarti berbicara mengenai kemampuan untuk menyatukan ajaran dan kelakuan. Apa yang diajarkan oleh guru PAK, itulah yang dilakukannya. Integritas berarti penyatuan, keutuhan; jujur dan dapat dipercaya.[9] Padanan kata integritas dalam bahasa Yunani adalah alethes, artinya ‘jujur’ ketika mendeskripsikan seseorang. Dalam bahasa Inggris, kata “integrity” berarti ‘keterikatan yang kuat tehadap aturan yang khususnya terdiri dari nilai-nilai moral, kejujuran karakter dan prinsip moral yang baik, serta kualitas kejujuran.’[10] Dengan demikian integritas juga bisa berarti kejujuran dalam pembicaraan dan dalam perbuatan. Baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.

Terminologi integritas dalam Kamus Latin-Indonesia, secara umum kata “integritas” (Ind) dari kata “integer” (Lat) yang artinya:

1. dalam arti jasmani: a) utuh; seluruhnja; (masih) lengkap; seanteronja; genap; komplit; bulat; tidak tjidera; tidak kena luka; tidak dirusakan; b) tidak bercampur; murni (fontes) – c) tidak kurang suatu apa; sempurna; tidak bertjela; sutji (virgo); murni; tulen – d) tidak berubah; (masih) kuat; segar; belim laju; (masih) baru; tidak lelalh; pulih sembuh (valetudo); segar dan kuat – e) aeluruh (annus); f) tepat; tidak salah (verba) – 2. Dalam arti psychis dan moril: a) belum diputuskan; tidak ditetapkan; masih bebas; saja bebas untuk; saja mempunyai kekuasaan penuh atas, untuk; memegang hak (kuasa) penuh atas (untuk) – b) belum berpengalaman; masih baru – c) tidak berprasangka; tidak memihak; tidak berat sebelah – d) belum bususk; lurus hati; sutji; tidak mentjari kepentingan sendiri; tidak mentjari laba; tidak tamak; sutji hidupnya; tidak ditjemari.[11]

Berdasarkan pengertian integritas dalam kamus Latin-Indonesia, integritas adalah gambaran seorang pribadi yang memiliki kualitas diri dalam segala dimensi kehidupannya. Seorang yang berintegitas memiliki pikiran yang utuh, emosi yang stabil, kemauan yang teguh, tidak mudah menyerah, mampu berbagi dengan orang lain, menaati aturan yang ada, berfokus pada nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan. Orang yang berintegritas adalah orang jujur dan bermoral teguh. Jika dirumuskan, integritas adalah karakter pribadi yang menyatu atau melekat pada diri seseorang.

Kehidupan yang berintegritas adalah kehidupan yang dalam segala aspeknya memiliki beragam variasi yang terjalin secara harmonis. Integritas juga menyatakan kehidupan yang memiliki kesatuan, dengan kata lain kehidupan yang utuh dan segalanya menjadi kesatuan.[12] Secara historis telah dipahami bahwa orang yang berintegritas mengandung arti yang sama dengan pribadi yang utuh. Pribadi yang utuh atau orang yang berintegritas juga seperti angka yang utuh. Gambaran seorang pribadi yang utuh adalah seorang pribadi yang entah bagaimana tak terpecah-pecah.[13]

Dalam perspektif Alkitab, kehidupan yang berintegritas bersumber dari kedewasaan rohani dan psikologis. “Integritas moral dirasakan sebagai buah Roh dan disucikan melalui anugerah Allah.”[14] sederhananya, integritas merupakan cerminan karakter seseorang. Karakter terbentuk dari dan akibat pergaulan dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki oleh orang tersebut. Implikasi etisnya adalah seseorang berusaha hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan tempat orang itu hidup.

Allah ingin agar anak-anak-Nya pun harus mengikuti teladan-Nya, yakni selalu berbicara dengan jujur dan selalu bertindak dengan jujur dalam kehidupan sehari-hari karena Allah tidak pernah berbohong (Bilangan 23:19). Selain itu, “ketidakjujuran dalam perbuatan apa pun tidak sesuai bagi orang Kristen.”[15] Sama halnya yang diceritakan dalam bagian firman Tuhan, pada waktu Allah memilih Daud menjadi raja Israel, Daud dipilih karena hatinya (1 Samuel 16:7). Allah mencari orang yang mempunyai hati yang sama dengan-Nya. Sebagai orang Kristen, harus menunjukkan hati Allah; hati yang murni dan jujur, baik dalam pembicaraan maupun dalam pikiran. Artinya harus jujur dalam segala hal, karena kalau keadaan hati baik, pembicaraan dan perbuatan juga pasti baik.

Pengajaran dan cara hidup merupakan dua hal yang melekat dalam diri guru PAK, bahkan tidak dapat dipisahkan. Sebab guru adalah orang yang pekerjaan, mata pencahariannya, profesinya mengajar.[16] Hal yang sama juga dikatakan oleh Suharso dan Ana Retnoningsih “Guru adalah orang yang kerjanya mengajar.”[17] Namun  pekerjaan guru tidak sebatas mengajar untuk memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik karakter serta melatih keterampilan. Hamzah, dalam bukunya yang berjudul Profesi Kependidikan, mengatakan bahwa “Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar dan membimbing peserta didik.”[18] Pandangan ini juga didukung oleh Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen: “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan penididikan menengah.”[19]

Selain itu, guru merupakan model atau teladan bagi para murid dan semua orang yang menganggapnya sebagai guru,[20] atau guru adalah sosok yang dipercayai dan ditiru.[21] Berdasarkan pengertian ini penulis dapat katakan bahwa tugas utama guru tidak dapat terlaksana dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan bila hanya disampaikan secara teori (dengan kata-kata), tetapi harus disertai dengan tindakan nyata.

Guru PAK, pastinya adalah guru Kristen, karena istilah guru Kristen dapat dipahami dari tiga segi, yakni: Guru yang hanya “perspektif kristen” kedua, “guru yang kristen”, dan ketiga, “guru yang hanya memberi pengajaran yang berkaitan dengan iman Kristen”.[22] Maksudnya adalah orang yang mengemban tugas mengajar, dan juga dirinya sendiri adalah pengikut Kristus. Ruang lingkup pengajarannya bisa kepada siapa saja, namun terlebih utama kepada orang-orang Kristen yang sedang bertumbuh dalam hal iman hingga mencapai kedewasaan iman Kristen, yakni serupa dengan Kristus. Khoe Yao Tung, mengatakan:

“mengapa saya menjadi pendidik Kristen? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mengawalinya dengan anugerah kasih Kristus bagi kehidupan saya. Bagi saya, alasan utama menjadi pendidik Kristen adalah karya Kristus bagi kehidupan saya. Penebusan dosa manusia dalam karya penebusan Tuhan Yesus menjadikan relasi manusia dengan Allah yang putus karena dosa menjadi relasi terpulihkan. Hal ini adalah titik balik sekaligus ground motive panggilan ilahi bagi saya mengapa saya menjadi pendidik Kristen.[23]

Pandangan Tung, secara tersirat memberi pengertian bahawa menjadi pendidik Kisten atau guru PAK adalah panggilan Tuhan melalui kasih Kristus sehngga setiap orang yang telah meresponi panggilan Tuhan ini, yakni saat ini menjadi guru PAK adalah pengikut/murid Kristus. Hal ini berarti, dalam pelayanan pendidikan Kristen, fokus utama adalah Kristus. Dengan kata lain, pendidikan Kristen harus menyatakan kepada semua murid-muridnya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan, jalan keselamatan, kebenaran, hikmat, dan pengetahuan. Secara sederhana, pendidikan Kristen adalah memuridkan dan menggerakkan anak-anak dekat dengan Tuhan.

Guru Kristen harus memperhatikan bahwa mengajar merupakan amanat atau perintah Tuhan. Dalam hal itu, setiap guru Kristen harusnya menyadari bahwa Allah memerintahkannya untuk mengajar sebagaimana dinyatakan dalam Imamat 10:11, “Dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa.” Adapun dalam Matius 28:19-20, Tuhan Yesus memberikan amanat agar setiap orang Kristen melakukan pemuridan, terutama para guru, agar mereka mengajarkan segala yang telah diperintahkan Tuhan Yesus. Dalam ayat tersebut terkandung maksud bahwa guru-guru Kristen yang sudah dewasa harus mengajar orang Kristen baru.[24] Dengan demikian, guru PAK adalah ujung tombak pelayanan iman dalam pendidikan yang merupakan amanat penginjilan bagi setiap orang Kristen.

Segala perintah dan ketetapan Tuhan harus diajarkan oleh guru, namun bukan sekedar mentransfer pengetahuan tentang siapa Tuhan dan karya-Nya, melainkan juga mendidik untuk hidup dalam kebenaran sesuai firman Tuhan sehingga harus disertai tindakan nyata untuk menjadi contoh yang ditiru agar murid-murid dapat bertumbuh secara rohani. Dalam konteks gereja, Kenneth menyatakan, “sekolah minggu akan bertumbuh secara rohani sesuai dengan kedewasaan rohani dan kemampuan komunikasi gurunya.”[25] Pandangan ini memberi pengertian bahwa tindakan nyata yang dilakukan oleh guru harus sesuai dengan apa yang diajarkannya agar terciptanya kesatuan antara ajaran dan cara hidup. Itulah integritas guru PAK.

  • Ciri-Ciri Guru PAK yang Berintegritas

Integritas pribadi harus dijunjung tinggi pemimpin Kristen, termasuk guru PAK dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya dan menjadi dasar seluruh aktivitas pelayanan dalam upaya mencapai pertumbuhan dan perkembangan orang-orang Kristen yang dipimpin. Allah telah menunjuk beberapa orang dalam gereja (persekutuan orang percaya) untuk menjadi pemimpin (Efesus 4:11). Berdasarkan ayat ini, guru adalah salah seorang pemimpin dalam gereja. Menjadi pemimpin harus mempertanggung jawabkan pelayanan mereka kepada Tuhan.[26] Secara khusus, guru sebagai pengajar, harus bertanggung jawab memberikan pengajaran yang baik agar gereja bertumbuh dalam kedewasaan iman sesuai yang dijabarkan dalam (Efesus 4:13-15). Pengajaran yang baik sangat tergantung pada keberadaan guru-guru yang berintegritas tinggi.[27] Integritas pribadi tersebut tampak dalam wujud sebagai berikut:

  1. Kejujuran

Kejujuran terbukti sebagai unsur yang paling penting dalam hubungan pemimpin-pengikut. Kejujuran penting dalam kepemimpinan karena tanpa kejujuran, orang-orang yang dipimpin merasa didustai, diremehkan, dimanipulasi dan suatu saat akan kecewa.[28] Tuhan Yesus mengatakan “Jika ya, hendaklah kamu katakana: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakana: tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37). Jujur artinya tidak berbohong, lurus hati, dapat dipercaya kata-katanya, tidak khianat, dan sebagainya.[29] Sikap jujur ini harus tampak dalam seluruh kehidupan pemimpin atau guru dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi sikap yang dibarengi dengan sikap baik lainnya. Misalnya seseorang berkata dengan ramah atau tidak kasar, haruslah sesuatu yang jujur, bukan suatu kepura-puraan atau kebohongan. Apa gunanya seseorang bersikap lemah lembut, padahal menipu atau berbuat tidak benar.

Secara sederhana, jujur berarti mengatakan atau melakukan yang benar, apa adanya, tidak berbohong, dan berbuat curang.[30] Karena itu bila seseorang jujur dan hidup benar, pasti mengalami kegembiraan dan berbangga sebab Tuhan berkenan kepada orang jujur (Mzm. 64:11). Sebaliknya, akan sangat merugikan bila seseorang bergaul dengan tidak juur atau curang. Alkitab memberikan cukup banyak contoh tentang kehidupan orang-orang yang tidak jujur. Akibatnya, mereka menderita. Misalnya cerita “Gehazi dan Nabi Elisa” (2 Raj. 5:20-27). Selanjutnya, hati yang selalu jujur di hadapan Allah dan manusia akan menghasilkan keselamatan, damai sejahtera, dan berkat besar. inilah janji Allah bagi orang yang sudah diselamatkan-Nya, dan akan terus dipelihara-Nya hingga akhir hidup manusia.[31]

  • Ketulusan

Ketulusan hati mendominasi kehidupan orang-orang beriman dan berintegritas. Sebab, orang-orang yang demikian dituntut Tuhan Allah untuk beribadah dengan hati yang tulus (Yosua 24:14), Tuhan Yesus sendiri menghendaki para murid-Nya memiliki hati yang tulus seperti merpati (Mat. 10:16), dan jemaat Ibrani (Ibr. 10:22). Ketulusan hati terhadap Allah juga direfleksikan dalam etika hidup setiap hari, dan merupakan salah satu kunci agar dapat terbebas dari jebakan spirit pascamodern yang cenderung memimpin manusia ke jalan kehidupan yang tidak tulus. Ketulusan hati juga akan melindungi seseorang dari kerusakan moral.[32]

  • Keadilan

Keadilan adalah sebuah konsep yang menunjuk pada relasi. Karena itu seorang pemimpin seharusnya memiliki rasa keadilan dalam relasi sosial orang-orang yang dipimpin.[33] Rasa keadilan yang diterima oleh komunitas dari pemimpin, akan memberi dampak yang penting atau berarti dalam kinerja etis. Namun yang perlu diperhatikan, dalam menyalurkan keadilan bukan berarti sama rata dan sama rasa karena sikap demikian justru bukan keadilan. Manuel G. Velasquez mengatakan: “Prinsip dasar dari kadilan distributif adalah bahwa yang sederajat haruslah diperlakukan secara sederajat dan yang tidak sama juga harus diperlakukan dengan cara yang tidak sama.”[34] Berbuat adil bukan berarti apa yang diinginkan tetapi apa yang seharusnya dilakukan. Tentunya hal ini mempertimbangkan segala sesuatu dengan bijaksana dan sesuai dengan prinsip-prinsip moral. Akhirnya, pemimpin yang bertindak berdasarkan keadilan dapat membawa orang-orang yang dipimpin ke dalam kedewasaan psikologis dan spiritual.

  • Konsistensi

Pribadi yang berintegritas memiliki konsistensi dalam hidup. Karena itu, konsistensi seharusnya menjadi salah satu identitas diri pemimpin. Pemimpin yang konsisten tidak menciptakan pelayanan yang bersifat nomaden. Artinya mudah berpindah-pindah sesuai dengan permintaan atau tuntutan hidup.[35] Dengan demikian, seorang pemimpin perlu merenung dengan penuh perhatian terhadap diri untuk melihat kedalaman batin dengan pikiran jernih sehingga dapat mengetahui posisi, masikah mempunyai konsistensi dalam melakukan tugas dan tanggung jawab pelayanan atau telah jatuh ke dalam jurang amoralitas (melawan moral). Seorang pemimpin harus bersikap teguh untuk prinsip-prinsip moral, meski ada harga yang harus dibayar untuk hal itu. Mungkin diserang secara langsung atau melalui media tetapi jika seorang pemimpin tidak berani dan teguh mempertahankan prinsip, seharusnya tidak memimpin.

Ada atau tidak ada keuntungan karena kejujuran atau integritas, para pemimpin sejati harus mempertahankan kebenaran dan nilai-nilainya karena “Pemimpin yang percaya akan kebenaran pasti mencintai kebenaran dengan segenap hati dan melaksanakannya”.[36] Seperti yang dikatakan oleh seorang pemimpin, “jika saya mengkrompomikan salah satu prinsip saya untuk seseorang, dimanakah saya akan menetapkan peraturan?”[37]

  • Kemurnian

Kemurnian sama artinya dengan tidak tercemar oleh sesuatu yang asing, bebas dari segala sesuatu yang kotor, atau suci. Berintegritas berarti memelihara kemurnian hati yang mengakibatkan kemurnian pelayanan, dan kemurnian pelayanan diwujudkan tanpa mmempunyai tujuan lain kecuali mengasihi orang-orang yang dilayani. Kemurnian atau kesucian hati berasal dari hati yang telah diperbaharui dan disucikan darah Kristus, yang berdampak dalam pebuatan sehari-sehari.[38] Kemurnian itu sendiri dalam konsep teologi Rasul Petrus merupakan hasil dari proses pemurnian, digambarkan seperti emas yang dibakar di dalam api (1 Petrus 1:7).

Alkitab menyatakan bahwa segala janji, jalan, dan perintah Tuhan adalah murni (Mazmur 12:7; 18:31;19:9). Karena itu para pemimpin atau pengajar Kristen harus menjaga hati agar tetap murni. Seperti Rasul Paulus menjaga hati nurani yang murni di hadapan Tuhan dan manusia (Kis. 24:16), Timotius diingatkan Paulus agar menjaga kemurnian dirinya, bahkan kemurnian pengajaran teologinya (1 Tim. 4:16; 5:22). Tuhan Yesus sendiri mengatakan “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat. 5:8), artinya diberkatilah orang yang mengejar dan bejuanng untuk memiliki kesucian hati.

  • Rendah Hati

Kerendahan hati adalah identitas diri yang melekat pada diri Tuhan Yesus (Mat. 11:29). Kerendahan hati kontras dengan rendah diri dan sombong. Orang yang rendah diri mempunyai konsep diri yang rendah, yakni mereka cenderung menghina, tidak menerima, membenci dan tidak puas dengan diri, serta membandingkan diri dengan orang lain. Sebaliknya, orang sombong membanggakan diri, memuji-muji diri, meninggikan diri, meremehkan orang lain, memberi penilaian diri yang berlebihan, memamerkan diri, menghina orang lain, dan menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Tuhan Yesus tidak menginginkan pemimpin yang rendah diri dan sombong. Kerendahan hati muncul sebagai buah dari proses belajar yang kontinu dan konsisten kepada dan dari Tuhan Yesus. Pengenalan kepada Tuhan Yesus menlahirkan pengenalan kepada diri sendiri, dan pengenalan kepada diri sendiri melahirkan konsep diri yang baik, benar dan utuh.[39]

Satu contoh kerendahan hati yang dilakukan Yesus dan menjadi teladan bagi para pengikut-Nya adalah membasuh kaki para murid (Yoh. 13:4-5). Yesus adalah Tuhan, guru, dan pemimpin, namun telah melakukan tugas seorang bawahan (hamba). Dalam hal ini Yesus mau menunjukkan bahwa pelayanan dengan rendah hati tanpa mempedulikan kepentingan sendiri, itulah tanda kebesaran.[40] Niai yang terkandung dalam tindakan Yesus ini adalah tidak ada tempat bagi rasa tinggi hati dalam lingkungan Yesus dan mengikut Yesus tidak berarti dihormati oleh manusia lain. Jadi dapat dikatakan bahwa kerendahan hati tidak muncul dan hadir secara instan tetapi suatu proses yang penuh pergumulan, penderitaan dan benturan. Akhirnya, dalam anugerah Tuhan kerendahan hati hadir dan menjadi bagian dalam hidup dan pelayanan para pemimpin Kristen.

  • Tidak Mencari Kepentingan Sendiri

Mencari kepentingan sendiri sering juga disebut egoisme, dan egoisme adalah salah satu musuh yang menghambat perkembangan atau pertumbuhan orang Kristen. Yesus tidak memberi tempat bagi perkara-perkara yang menjurus pada kepentingan diri sendiri[41], dan rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi agar jangan mencari kepentingan diri sendiri atau puji-pujian yang sia-sia (Filipi 2:3). Itu berarti para pemimpin harus belajar untuk berkurban. Pengurbanan dapat diwujudkan dalam menyumbang pikiran. Meningkatkan ekonomi jemaat, menyisihkan dana bagi mereka yang kekurangan, membela yang lemah dan tertindas, dan sebagainya. Konkretnya, pemimpin yang tidak mencari kepentingan sendiri adalah mereka yang mengutamakan kepentingan orang yang dipimpin atau dilayaninya di atas kepentingan dirinya karena kasih kepada sesama.[42]

Perlu diperhatikan, ego manusia itu mudah rapuh dan gampang tersinggung. Ego sering menjadi penghalang bagi kepemimpinan yang efektif seperti Kristus.[43] Namun Yesus tidak pernah kecewa atau tersinggung, malahan Yesus menghindari publisitas dan pengakuan. Dalam seluruh kitab Injil, Yesus tidak pernah mengatakan, “Aku adalah Mesias”. Bahkan tidak pernah memberi isyarat siapakah Diri-Nya. Yesus hanya berkonsentrasi mengajar, berkhotbah, dan menunjukan tujuan kedatangan-Nya, lalu membiarkan orang-orang menyimpulkan sendiri. Ketika Yesus melakukan perjalanan dari desa ke desa, tidak berharap untuk disambut dengan penghargaan. Ego-Nya tidak mencari pemenuhan yang berasal dari pujian orang banyak, malahan Yesus mengatakan “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia” (Yoh. 5:41). Dengan teladan kepemimpinan ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa misi dalam kehidupan mereka adalah melakukan kehendak Allah Bapa, bukan memenuhi ego sendiri.

  • Terpercaya

Pemimpin yang terpercaya adalah pemimpin yang berintegritas. Mereka terpercaya karena mereka telah diuji dalam bermacam tantangan yang melanda kehidupan mereka. Misalnya tidak menyalahgunakan otoritas sebagai pemimpin, dapat menjaga rahasia pribadi orang-orang yang dilayani secara pribadi, tidak menyalahgunakan fasilitas umum untuk kepentingan pribadi, pengajaran yang diberikan sesuai Alkitab, dan sebagainya. Inilah yang memunculkan kepercayaan orang teradap pemimpin. Kepemimpinan membutuhkan kepercayaan, dan kepercayaan dapat dikatakan sebagai salah satu fondasi kepemimpinan.[44]

Dalam konteks organisasi, satu organisasi tidak mungkin dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya saling percaya antara sesama anggota karena kepercayaan merupakan atribut primer yang terkait dengan kepemimpinan, dan ketika kepercayaan ini rusak, kerusakan itu dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan pada kinerja kelompok.[45] Jadi dapat dikatakan kepercayaan anggota terhadap pemimpin merupakan salah satu unsur penting dalam organisasi agar organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik.

 Ciri-ciri guru PAK yang berintegritas ditinjau dari kepemimpinan Pastoral yang berintegritas, karena penulis sadar bahwa Guru PAK dan pemimpin Pastoral memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, yakni mengajar orang percaya tentang iman Kristen. Marian Brandt , mengatakan “Di bawah pimpinan Allah, maka gembala sidang adalah pemimpin dalam gereja. Apa yang dilakukan oleh gembala sidang atau pendeta itu? Ia memimpin, memberi makanan rohani, mengajar, dan menjaga.”[46] Gembala sidang atau pendeta adalah pemimpin pastoral.

 Dengan demikian ciri-ciri guru PAK adalah jujur, tulus, adil, konsisten, memiliki hati nurani yang murni, rendah hati, tidak egois, dan dapat dipercaya. Selain itu, adapun ciri-ciri pribadi yang berintegritas yaitu: “selalu menepati janji, taat, komitmen dipegang teguh dan bertanggung jawab, satu kata satu perbuatan, jujur dan terbuka, menghargai waktu, menjaga prinsip dan nilai-nilai yang diyakini.[47] Sehubungan dengan itu, Bram Soei Ndoen memberi parameter disiplin integritas, antara lain: jujur atau dapat dipercaya, pegang janji, keterbukaan, tulus (tidak munafik dan manipulative), dan motivasi yang benar (murni).[48] Artinya, setiap orang yang mampu melakukan atau memiliki sikap-sikap tersebut, dapat dikatakan sebagai orang yang berintegritas. Sikap-sikap dalam parameter tersebut juga berlaku bagi guru PAK jika ingin menjadi guru PAK yang berintegritas.

  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Integritas Guru PAK

Faktor-faktor yang mempengaruhi integritas adalah:

  1. Pengaruh Pascamodernisme

Perlu disadari bahwa manusia pascamodern adalah manusia yang suka berdusta sehingga dapat dikatakan sebagai orang-orang yang “dirasuki” oleh roh dusta. Roh itu memaksa manusia menciptakan begitu banyak bentuk kebohongan. Kebohongan itu kompleks dan canggih sehingga kebohongan seolah-olah bukan lagi tampak sebagai kebohongan  tetapi kebenaran. Wujud kebohongan semacam ini diciptakan dalam film, iklan, musik, arsitektur, desain, sastra, media, fashion, foto atau gambar, informasi, khotbah, pengajaran, kesaksian, dan sebagainya.[49] Yasraf Amir Piliang menyebut itu sebagai Hiperealitas.

“Hiperealitas menciptakan satu kondisi, yang didalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur dengan masa kini; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu.”[50]

Inilah budaya pascamodern, budaya yang menghilangkan batasan sehingga tidak ada lagi batasan yang jelas antara kebenaran dan kepalsuan. Pengaruhnya sampai kepada sendi-sendi kehidupan orang Kristen yang berdampak pada etika hidup.

  • Nomadisme

Banyak pemimpin rohani dewasa ini menciptakan model pelayanan yang bersifat nomaden. Artinya mudah berpindah-pindah sesuai dengan permintaan pangsa “pasar”.[51] Mental seperti ini dapat dikatakan sebagai mental inkonsisten yang mirip dengan sikap hidup politisi menjelang pemilihan umum, di mana mereka sibuk mengadakan berbagai langkah, maneuver, dan strategi politik yang tidak tetap.[52] Nomadisme adalah salah satu kecenderungan psikologis yang menghinggapi banyak orang dewasa ini, tidak hanya dalam politik tetapi juga dalam kehidupan rohani. Bahayanya mental nomad jika melanda teolog, pendeta, rohaniawan, akan terlihat dengan ciri-ciri yang inkonsisten, tidak pernah menetap, dan tanpa ketetapan (ucapan, diri, identitas, dan keyakinan). Hidup mereka begitu mudah berubah dan betukar identitas baru seperti orang yang berganti pakaian, sehingga tidak salah jika  Yasraf A. Piliang juga mengatakan, “Nomad adalah seorang skizofrenik (penyakit jiwa yang ditandai oleh ketidakacuhan), yang dengan mudah berpindah dari satu identitas ke identitas lainnya, dari satu keyakinan ke keyakinan lainnya.”[53]

Kenyataan seperti ini sebelumnya telah dilakukan oleh pemimpin dan pengajar rohani di dalam jemaat Galatia. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Gal. 1:6-8).

Selain itu, ada pun faktor itu berasal dari dalm diri guru sendiri. Misalnya, Teologi: Guru PAK tidak mempunyai pemahaman doktrin yang memadai sehingga mengakibatkan mistik (okultisme) masuk dalam pemahaman orang-orang yang diajar. Ajaran ekstrem merusak kerohanian (baptis ulang, melarang berhari Natal, melarang memakai dan menyebut nama Allah, melarang memakan makanan tertentu, dan sebagainya). Hal ini juga sering disebut kualitas yang rendah. Artinya mereka bukanlah orang-orang yang cakap dalam melakukan tugas dan tanggung jawab. Natur Dosa: guru PAK bermasalah dengan kebiasaan berbuat dosa (berzina, iri hati, sombong, pesta pora, sakit hati, dendam, permusuhan, amarah, curang, berdusta, rakus gosip, fitnah, dan sebagainya). Materi: guru PAK bermasalah dengan hal keuangan, utang piutang, pemakaian fasilitas sekolah/gereja, dan sebagainya.

  • Kehidupan Rohani Guru PAK

Kehidupan rohani sering juga disebut dengan istilah spiritualitas, yang sering dihubngkan dengan ketaatan atau semua perilaku agama. Namun jika berbicara mengenai spiritualitas guru PAK, berarti berbicara mengenai spiritualitas Kristen, yaitu spiritualitas dalam roh dan kebenaran. Artinya roh manusia bersekutu dengan Allah yang adalah Roh (Yoh. 4:24). Karena itu, spiritualitas Kristen bukan berfokus pada ketaatan atau semua perilaku keagamaan melainkan hubungan rohani yang dalam dengan Allah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa spiritualitas adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan pribadi seorang beriman dengan Allah berdasarkan pengenalan yang benar akan Tuhan secara intim setiap hari dengan Tuhan (Fil. 3:10).[54] Masalah spiritual jugalah yang menjadi letak perbedaan antara pemimpin sekuler dan pemimpin rohani.

Adapun beberapa kualifikasi spiritual yang harus dipenuhi oleh guru PAK. Kualifikasi spiritual guru PAK akan ditinjau dari kualifikasi spiritual pemimpin pastoral karena penulis sadar bahwa baik pemimpin pastoral maupun guru PAK adalah pemimpin Kristen yang membawa pengaruh bagi pertumbuhan spiritualiitas orang yang dipimpin (baik jemaat maupun murid). Kualifikasi yang harus dipenuhi untuk menjadi pemimpin Kristen menurut Yosafat, adalah sebagai berikut:[55]

  1. Panggilan Tuhan

Panggilan Tuhan merupakan kekuatan yang akan mengarahkan pikiran pemimpin dalam tugas dan tanggung jawab pelayanannya untuk memakai prinsip-prinsip Alkitab. Karena itu panggilan Tuhan merupakan salah satu syarat jika ingin terlibat dalam kepemimpinan Kristen karena panggilan Tuhan merupakan kekuatan dan kesetiaan pemimpin dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinannya. Panggilan Tuhan secara khusus dalam hal mengajar, sudah ada sejak dahulu. Dien Sumiyatiningsih mengatakan:

“Panggilan untuk mengajar jemaat sudah diawali sejak Perjanjian Lama. Dalam artian, umat menerima pendidikan dalam proses sosialisasi, baik dalam konteks keluarga maupun umat Allah. Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru, hal mengajar telah dimulai oleh Tuhan Yesus Kristus saat memanggil para murid-Nya menjadi komunitas murid Kristus yang menjadi ‘cikal-bakal’ gereja Kristen”.[56]

Di sinilah mandat pendidikan itu ditemukan, yakni Tuhan Yesus memanggil dan mendidik para murid-Nya dengan tujuan agar menjadi murid Kristus dan mengikuti-Nya. Di samping itu, Tuhan Yesus juga mempersiapkan dan melatih murid-murid-Nya agar nanti juga menjadi pendidik dan perpanjangan tangan Tuhan untuk memanggil banyak orang menjadi murid Kristus. Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus memberikan amanat agung dalam Matius 28:19-20. Karena itu, jelaslah bahwa orang Kristen dipanggil melakukan Tugas panggilan kristiani untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Termasuk di dalamnya juga terkandung tugas pemberitaan Injil.

Rasul Paulus pun dalam Efesus 4:1-16, mengungkapkan bahwa Tuhan telah menganugerahkan tugas-tugas pelayanan sebagai guru atau pengajaran gembala kepada gereja. Tugas dan jabatan tersebut tidak boleh dipandang lebih penting daripada tugas sebagai rasul, penginjil, dan nabi. Semua karunia tersebut, baik pemberita Injil, nabi, guru, gembala, diberikan Allah untuk membangun tubuh Kristus menuju kedewasaan iman.[57]

  • Memiliki Roh Tuhan

Tuhan yang memilih para pemimpin Kristen untuk mengerjakan misi-Nya. Tuhan juga yang memprlengkapi mereka dengan Roh-Nya. Roh Kudus berdiam di dalam hidup seseorang pada saat lahir baru dan sekaligus memperlengkapinya dengan karunia-karunai rohani demi kemuliaan Allah Bapa. Tanpa Roh Tuhan, seorang pemimpin tidak akan mampu mengemban tugas kepemimpinan karena sangat berat. Mesias (Tuhan Yesus) yang dinubuatkan dalam kitab Yesaya adalah hamba Tuhan yang diurapi. Firman Tuhan mengatakan: “ Aku telah menaruh Roh-Ku ke atas-Nya, supaya Ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yes. 42:1). Yesus adalah Hamba Tuhan yang dipenuhi oleh Roh Tuhan. Firman Tuhan kembali mengatakan: “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku  ” (Yes. 61:1).

Perjanjian Baru, khususnya injil Yohanes menyatakan Roh Kudus sebagai Penolong, Penyerta, Penghibur, Pengajar, Pengingat dan Pemimpin dalam hidup orang percaya (Yoh. 14:16-17, 25-26; 16:13). Roh Kudus juga memberi karunia dan buah Roh untuk memperlengkapi para pemimpin Kristen dalam tugas dan tanggung jawab (1 Kor. 12, 14; Gal. 5:22-23). Kemampuan mengerjakan tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin Kristen tidak terletak pada kemampuan diri semata-mata tetapi karena hikmat, kuasa, pertolongan, penghiburan, dan penyertaan Roh Allah yang Maha Kuasa, yang berdiam dalam hati para pemimpin.

  • Beriman

Kata iman berasal dari bahasa Yunani ‘pisteo’, yang artinya ‘aku percaya’ iman Kristen merupakan anugerah Tuhan untuk menerima keselamatan (Filipi 1:29). Iman Kristen bersifat supranatural yang membuat seseorang dapat memercayai hal yang seolah-olah “tidak masuk akal”. Misalnya mukjizat yang diceritakan Alkitab. Mungkin bagi orang-orang yang tidak beriman itu sangat tidak masuk akal dan kontra dengan rasio, namun bagi orang-orang yang beriman, mukjizat itu dapat diterima akal atau rasio karena iman.

Berdasarkan konsep Alkitab, iman mempunyai tiga pengertian yang lebih jelas dalam bahasa Inggris:

  1. Belief. Kata belief dapat berarti meyakini bahwa sesuatu benar, secara khusus ajaran agama, meyakini sesuatu ada, meyakini bahwa sesuatu tepat. Iman Kristen tidak hanya meyakini bahwa Allah ada karena hampir semua agama mengakui keberadaan Allah, bahkan dalam agama-agama suku juga meyakini ada Allah yang tertinggi. Misalnya bangsa Yunani menyebut “Theos”, bangsa Inca “Viracocha”, bangsa Santal “Thakur Jiu”, dan sebagainya.[58] Bahkan di Indonesia juga terdapat konsep Allah dalam banyak suku. Misalnya suku Jawa menyebut Allah “Gusti”, suku Batak “Debata Mula Jadi Nabulon”, suku Timor “Uis Neno”, dan sebagainya. Jadi percaya bukan hanya yakin dan mengakui ada Allah karena “setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yak. 2:19). Kepercayaan sekadar mengakui Allah ada tidak cukup. Kepercayaan harus kepada Allah yang sejati, yakni Allah yang benar-benar Allah. kepercayaan itu mempunyai dampak dalam seluruh dimensi kehidupaan, yaitu menyembah Allah dan melakukan perbuatan mulia berdasarkan kasih Kristus Yesus (1 Kor. 13:1-13).
  2. Faith. Kata ‘faith’ berasal dari kata latin ‘fidei’, yang berarti percaya kepada yang sejati, orsinal dan akurat. Sesorang dapat dikatakan memiliki ‘faith’ atau iman kepada Tuhan Allah, apabila orang itu menerima secara bulat kebenaran yang benar-banar benar yang kadang kala tidak bisa didemonstrasikan atau dibuktikan melalui proses logika berpikir. Faith atau iman membawa seseorang mempercayai atau meyakini bahwa Allah yang disembahnya benar-benar Allah yang sejati, pencipta langit dan bumi yang dikenal di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus saja. Iman kepada Tuhan Yesus itu mengeluarkan sifat Kristus. Artinya Tuhan Yesus yang berdiam dalam hidup seseorang membawa orang itu memancarkan tabiat, karakter, watak, moral, dan teladan Kristus dalam teori dan praktik setiap hari.
  3. Trust. Kata ‘trust’ atau percaya merupakan suatu sikap hati dan pikiran yang mempercayakan hidup kepada satu pribadi yang terpercaya, jujur, baik, dan tidak punya niat yang jahat. Iman memimpin orang-orang kepada penaklukan diri kepada Allah yang Maha Baik dan Maha Kasih yang tidak mempunyai sedikit pun niat jahat terhadap orang-orang tersebut. Allah adalah pribadi yang layak dipercaya, karena di dalam Diri-Nya ada damai sebab Allah adalah Raja Damai.

Sehubungan dengan itu, Thomas Groome (1990), dan dikutip oleh Dien Sumiyatiningsih mengungkapkan bahwa iman sebagai suatu keyakinan/kepercayaan (believing), sebagai upaya untuk memercayakan diri (trusting), dan tindakan (doing).[59] Dan Eddy Fance, mengatakan bahwa iman yang sejati adalah kepercayaan penuh kepada kuasa, kehendak, keputusan, dan waktu Allah sesuai dengan hikmat, kasih, dan kedaulatan-Nya yang mutlak tidak pernah salah. Bdk: Roma 8: 28.[60] Jadi, pemimpin yang terlibat dalam tugas dan tanggung jawab kepemimpinan harus mempunyai iman yang bersumber dari Allah. Iman dikaruniakan Allah untuk dapat menerima anugerah keselamatan. Iman itu melampaui pikiran tetapi tidak kontra dengan rasio manusia. Pemimpin yang mampu mengerjakan tugas kepemimpinan tidak sekadar percaya atau mengakui Allah ada tetapi memercayakan hidup dan matinya hanya kepada Allah yang sejati, yang dikenal di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Kepada Tuhan sejati inilah, pemimpin memercayakan setiap saat pelayanan atau mengajarnya dan tetap setia sampai akhir hidupnya (Wahyu 2:10).

  • Hidup dalam Doa

Ada beberapa definisi tentang doa yang diberikan oleh anak-anak Tuhan. Ada yang mengatakan “doa adalah napas kehidupan orang percaya”, “doa adalah komunikasi dengan Tuhan” “doa membina hubungan dengan Bapa di surga”, dan sebagainya. Yosafat sendiri memandang bahwa “doa adalah wujud ketergantungan mutlak kepada Allah”. Doa adalah salah satu tanda ketergantungan pemimpin kepada Tuhan yang memilih dan mengutusnya. Pemimpin yang tidak memelihara relasi dengan Tuhan dalam doa akan jatuh ke dalam dosa dan kehidupan duniawi. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan-Nya, Tuhan Yesus senantiasa berdoa. Alkitab melaporkan bahwa Tuhan Yesus Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana (Mark. 1:35). Kitab ibrani menuliskan Tuhan Yesus berdoa dengan “ mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari Maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr. 5:7).

Pemimpin seharusnya menjadi pendoa ayafaat. Dirinya harus mengkhususkan waktu setiap hari untuk menaikan doa syafaat bagi semua orang yang dipimpinnya. Alkitab berulangkali memerintahkan agar orang percaya senantiasa berdoa dan tinggal di dalam Kristus karena di luar Kristus orang percaya  tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh. 15:5). Jadi salah satu kekuatan pemimpin agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya terletak dalam doa mereka setiap hari.

  • Teologi yang Benar

Pemimpin perlu belajar teologi agar mereka mempunyai pemahaman yang memadai. Itu harus menjadi salah satu syarat untuk menjadi pemimpin di tengah-tengah orang percaya yang dipercayakan untuk dipimpin. Alasan penting seorang pemimpin memiliki pemahaman teologi yang benar adalah agar mereka mampu mengajar dan melayani dengan benar. Ada bahayanya jika pemimpin tidak mempunyai pemahaman yang baik dan benar. Misalnya, menyampaikan firman Tuhan secara keliru, dan tidak bisa dengan jelas membedakan ajaran yang menyimpang dari iman Kristen, padahal seorang pemimpin harus mengajar. Seperti yang dikatakan David L. Bartlett:

“kepemimpinan yang menjadi perhatian Surat-Surat Pastoral sebagian besar erat dengan kepemimpinan penatua atau penilik jemaat. Tanggung jawab penatua dan penilik jemaat itu utamanya untuk mengajar iman yang benar dan sebagai konsekuensinya mendisiplin mereka yang menyeleweng.”[61]

Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa kemurnian doktrin dan pengajaran yang baik menjadi salah satu penyebab dan pendorong pertumbuhan rohani orang Kristen. Kehidupan rohani guru PAK jika ditinjau dari kualifikasi spiritual pemimpin pastoral, adalah orang yang telah dibaharui hidupnya, dipakai Tuhan, memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, dan pastinya senantiasa belajar firman Tuhan. Hal yang sama juga dikatakan oleh Khoe Yao Tung, “Guru Kristen adalah guru yang telah lahir baru, memiliki relasi yang intim dengan Tuhannya dalam spiritual kehidupan kekristenannya. Guru Kristen juga memahami panggilan-Nya dalam ladang pendidikan Kristen dan terus belajar untuk memahami ilmu kependidikan dan subjek pembelajaran dari perspektif Kristen”.[62]

  • Pembentukan Integritas Guru

Integritas diri seseorang akan terbentuk apabila dibangun atau dilatih. Demikian pula pembentukkan integritas Guru PAK. Karena itu, setiap orang perlu membangun integritas dirinya, agar dapat membangun integritas kelompok dan organisasi di mana dirinya berada. Kalau hal ini dilakukan, pada gilirannya akan dapat pula menyumbang ke arah pembentukan integritas masyarakat secara luas. Beberapa langkah sederhana di bawah ini dapat menjadi pertimbangan dalam mengembangkan integritas pribadi:[63]

  1. Berbicara Sesuai Kenyataan dari berbagai pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Secara praktik nyata seseorang yang pernah berbohong, ingkar janji, atau pernah mengkhianati kepercayaan orang lain, itu disebut pribadi yang tidak jujur dan tidak memiliki integritas. Hal ini sejalan dengan pandangan agama yang menyatakan bahwa orang munafik itu memiliki tiga ciri utama, yakni: Apabila berbicara, perkataannya bohong. Apabila berjanji, diingkari. Apabila diberi kepercayaan atau amanah, berkhianat. Karenanya, untuk membangun integritas pribadi dalam pekerjaan, hindari tiga hal tersebut, seperti berbohong, mengingkari janji, dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan. Berbicaralah hanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Memang diperlukan keberanian untuk mengungkapkan segala sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang ada, terutama pada hal-hal yang bisa saja tidak mengenakkan.

  • Memenuhi sesuai apa yang dijanjikan.

Orang yang memiliki integritas selalu melakukan sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Dengan demikian, hindari untuk menjanjikan apa yang tidak dapat dilakukan, agar terhindar dari tindakan tidak menepati janji. Lebih baik menjanjikan dengan apa yang bisa dilakukan, sehingga dapat menjadi pribadi yang selalu menepati janji. Pribadi yang memiliki integritas adalah pribadi yang selalu menepati janji yang telah dibuatnya. Ketika memberikan janji, awalnya sudah memperhitungkan hal itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan akan bersungguh-sungguh memenuhi apa yang sudah dijanjikannya kepada orang lain. Dalam aplikasi nyata di dunia kerja, selalu tuntutan untuk senantiasa melaksanakan sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan, baik dalam hubungan dengan sesama rekan kerja, kepada atasan, kepada bawahan, ataupun kepada supplier dan konsumen.

  • Konsisten dalam Perkataan dan Perbuatan.

Setiap pribadi yang dapat menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan memiliki karakter terpuji. Kenyataan ini menunjukkan bahwa integritas adalah salah satu karakter terpuji. Berusaha menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan salah satu cara membangun integritas pribadi. Pada akhirnya akan memiliki karakter terpuji secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupan. Menjadi seseorang yang memiliki integritas tinggi diperlukan komitmen untuk menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Selain itu, selalu menepati janji sesuai dengan apa yang disampaikan dalam perkataan dan tindakan. Tidak kalah penting adalah dapat memegang teguh amanah dari orang lain.

Secara khusus dalam pandangan Kristen, cara melatih/membangun integritas adalah hidup dalam prinsip yang benar atau berpegang pada prinsip kebenaran yaitu sesuai kebenaran firman Tuhan (Alkitab). Prinsip yang perlu dipegang dalam hidup di sini adalah lembut tetapi tegas atau tegas tetapi lembut (Efesus 4:14-15). Penting sekali berpegang pada prinsip yang benar karena ada juga prinsip yang tidak benar, yang membuat seseorang tidak bisa membangun integritas, yakni prinsip sendiri/ego (semau gue atau kaku) dan prinsip orang lain/kompromi (plin-plan atau labil). Cara yang berikut adalah hidup dalam kesatuan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Kehidupan seperti ini sering disebut hidup tanpa topeng, yakni jujur, tulus, dan apa adanya (1 Yoh. 1:6-10), dan melakukan apa yang dikatan (Mat. 5:37). Selain itu, ada pun cara untuk melatih integritas adalah hidup dalam hubungan yang benar karena hubungan lebih penting, bahkan lebih penting dari pelayanan (Mat. 5:23-24).[64]

Semua cara dalam membentuk integritas dapat tercapai apabila dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan atau gaya hidup. Karena itu,   Integritas harus mulai dibangun dari hal kecil dalam hidup karena di situlah pola kebiasaan dibangun.[65]

  • Kualitas Karakter Guru PAK

Menjadi guru adalah panggilan yang disadari, maka mengisinya tentu harus sejalan dengan arah hidup yang telah menjadi harapan, cita-cita, keinginan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, tergambar dan terbayangkan dengan jelas bahwa hanya kebaikan yang ingin dicapai. Maka setiap guru harus mengembangkan dan memperkuat karakter, bukan untuk apa-apa, tapi karena hanya guru berkarakterlah yang akan berbahagia, yang dapat mendidik dan mengajar murid-murid menjadi manusia yang berkarakter. Tanpa itu, pendidikan karakter hanya fatamorgana, dan pasti setiap guru tidak mau itu terjadi.[66]

Guru berbahagia adalah guru yang sukses, dan guru yang sukses adalah milik guru berkepribadian/berkarakter. Kesuksesan guru bukan sekedar hasil tapi kesuksesan terus dirasakan pada saat upaya untuk memperoleh hasil dilakukan secara optimal dan maksimal, secara sadar dan tanggung jawab, dengan bijak dan percaya diri bahwa guru mampu berbuat sesuatu yang besar bagi kehidupan  manusia, dan semua itu memerlukan kepribadian yang kuat dan tangguh, agar semua dapat berjalan ke arah masa depan dan dapat dilihat dalam masa sekarang yang mungkin sangat sempit dan terbatas.[67] Dengan demikian penulis dapat katakan bahwa kepribadian guru merupakan modal utama dalam menjalankan peran dan tugas sebagai pendidik.

Peranan guru sangat penting karena guru merupakan aktor utama pembelajaran yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Jika dikaitkan dengan pendidikan karakter yang saat ini menjadi andalan pemerintah, maka peran guru dalam keberhasilan penghayatan pendidikan karakter kepada anak didik, menjadi kunci utama. Faktor lain seperti kurikulum, budaya, kegiatan-kegiatan spontan, hanya merupakan pendukung bagi guru. Guru harus memiliki karakter mulia, sebab bagaimana mau mengajar tentang pendidikan karakter, sementara guru yang bersangkutan tidak memahami apalagi mempraktikkan dalam kehidupan nyata. Seorang guru yang tidak memiliki karakter, tetapi mengajarkan pendidikan karakter pada murid, tidak akan menutup kemungkinan yang bersangkutaan akan gagal; bahkan malah bisa menjadi bahan tertawaan murid-muridnya.[68] Oleh karena itu, seorang guru, selain harus memiliki pemahaman, keterampilan dan kompetensi menganai karakter, harus juga memiliki karakter-karakter mulia itu dalam dirinya sendiri, mempraktikan dalam keseharian baik di sekolah maupun di masyarakat atau jemaat, dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup.

Seorang guru sebelum mengajarkan karakter kepada muridnya, harus terlebih dahulu memancarkan karakter-karakter mulia dari dalam diri guru bersangkutan. Selain itu, tanpa memiliki dan menjiwai karakter, proses pembelajaran yang dilakukan guru akan tanpa rasa. Model pembelajaran seperti itu sudah pasti menjemukan. Oleh karena itu, para guru harus terlebih dahulu menguasai dan melengkapi diri dengan karakter mulia, agar bisa sukses mendidik para muridnya. Maka sudah saatnya para guru merubah paradigma dan mindset masing-masing; dari sekedar memberikan teori ranah kognitif, ke arah pemberian teladan dan praksis nyata. Dari sekadar “pekerja” kurikulum, menjadi sosok bermakna bagi penumbuhkembangan karakter murid. Itu harga mati![69]

Guru juga merupakan pemimpin, dan salah satu kualitas umum kepemimpinan bahkan yang utama adalah karakter atau kepribadian. Kenneth menyatakan:

“kepribadian merupakan konsep yang sulit dijelaskan. Barangkali cara yang mudah untuk memahami istilah tersebut adalah dengan menggambarkannya sebagai jumlah seluruh reaksi yang tampak dari suatu organisme. Hasil yang ditemukan sudah tentu setiap orang memiliki kepribadian dan perbedaannya ditentukan oleh berbagai faktor yang menyertainya. Jika ciri-ciri  kepribadian diukur, ciri-ciri itu disebut “pembawaan.” Kemudian cirri-ciri tersebut dapat dimasukan dalam kategori-kategori seperti kestabilan emosi, kedewasaan emosi, kompleksitas emosi, temperamen, dan berbagai konsep yang serupa. Salah satu kategori pembawaan kepribadian yang paling umum dalam hubungannya dengan kepemimpinan adalah masalah introver dan ekstrover.”[70]

Introver adalah sifat kecenderungan berbuat atas dasar pemikiran pribadi (kepentingan sendiri), atau bersifat tertutup.[71] Sedangkan ekstrover adalah orang yang minatnya ditujukan seluruhnya kepada yang ada di luar dirinya dan tidak ditujukan kepada yang ada dalam pikiranya sendiri (bersikap terbuka).[72] Waktu melihat aspek-aspek kepemimpinan ini, banyak orang akan berpendapat bahwa orang yang ekstrover pada umumnya bisa menjadi pemimpin yang lebih baik daripada orang yang introver, tetapi pembawaan di tengah-tengah keduanya barangkali lebih baik karena seorang pemimpin yang ramah akan menolong kelompok untuk merasakan bahwa dirinya sedang berbuat lebih banyak, lebih memperhatikan, dan bisa lebih baik mengendalikan berbagai situasi.

Guru pada umumnya adalah pemimpin, demikian juga guru PAK. Namun guru PAK tidak hanya sekedar pemimpin biasa melainkan pemimpin Kerajaan Allah yang akan mengubah dunia bagi Kristus. Pemimpin Kerajaan Allah seharusnya memimpin berdasarkan jati diri, bukan hanya berdasarkan pengetahuan saja. Dalam hal ini karakter seorang pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kemampuannya untuk memimpin secara efektif dalam rentang waktu yang panjang. Sebab karakter sangat berpengaruh terhadap kemampuan dalam memimpin (baik ataupun buruk). Oleh karena itu pemimpin Kerajaan Allah (termasuk Guru PAK) harus menyadari pentingnya mengembangkan karakter Kristus sejak awal karier kepemimpinannya.

Ada sepuluh kualitas yang penting bagi pengembangan karakter seorang pemimpin, dan penjabarannya adalah sebagai berikut:

  1. Kasih.

Kasih adalah yang pertama dan terutama dari kualitas karakter yang penting bagi seorang pemimpin rohani. Kasih adalah tanda yang dimiliki oleh semua pengikut Kristus (Yoh. 13:34-35), dan kualitas itulah yang terutama dari segalanya menurut rasul Paulus (1 Kor. 13:13). Kasih yang tampak dalam kehidupan seorang pengikut Kristus, dinyatakan khussnya melelui ketaatan yang sempurna terhadap perintah Allah (Yoh. 14:15,21). Sebagai pemimpin Kerajaan Allah, kasih harus dinyatakan dalam segala sesuatu yang dilakukan dan ketaatan, bahkan kasih akan menciptakan suasana yang menarik dalam lingkungan kepemimpinan sehingga memengaruhi orang lain untuk mengikuti teladan pemimpin.

Seorang pemimpin yang memiliki kasih akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi orang lain, bukan sebaliknya memanfaatkan mereka sebagai alat untuk menyempurnakan sebuah tujuan. Pemimpin yang mengasihi orang lain akan mudah berkenan dan menyemangati orang-orang yang akan dipimpinnya. Pemimpin yang memiliki kasih bersedia mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang memiliki kasih tidak menyimpan dendam, mudah mengampuni karena sadar bahwa Kristus telah lebih dahulu mengampuninya. Kasih tidak membuat perhitungan, tetapi berbicara apa adanya. Sebaliknya, pemimpin yang tidak memiliki kasih tidak dapat membedakan antara tindakan dan pribadi yang melakukannya. Dengan demikian kasih merupakan batu penjuru dalam kehidupan kristiani dan merupakan inti dari karakter seorang pemimpin rohani. Kasih seperti Kristus membedakan pemimpin kristiani dari semua teladan kepemimpinan lainnya. Jika memfokuskan kehidupan pada kasih, kepemimpinan akan memuliakan Allah dan menarik perhatian orang lain.[73]

  • Integritas.

Integritas adalah kualitas yang harus dimiliki seorang pemimpin. Karena pemimpin memimpin sesuai dengan jati diri/keberadaannya, dan haruslah merupakan pribadi yang dapat dipercaya dan jujur seingga dapat menumbuhkan kepercayaan dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Tanpa integritas seorang pemimpin akan dikritik, diremehkan, atau tidak diindahkan. Integritas ditunjukkan dan dibangun dari perkara-perkara kecil dalam hidup. Integritas dapat dibangun, maka harus membiasakan diri untuk menunjukkan teladan integritas dalam kehidupan sehari-hari karena ketidakjuuran dalam perkara kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menciptakan kecacatan karakter yang mencegah seseorang memperoleh hasil yang baik. Dengan demikian, menjadi pemimpin yang konsisten dalam perkataan dan perbuatan itu penting jika ingin memiliki pengaruh yang bertahan lama dalam pekerjaan Allah.

Integritas harus mulai dibangun dari hal kecil dalam hidup karena di situlah pola kebiasaan dibangun. Allah tidak mengenal ketidakjujuran, kebohongan, atau dusta kecil. Ia berkata, “Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongandan yang menimbulkan pertengkaran saudara” (Ams. 6:16-19).[74]

  • Kerendahan Hati.

Istilah rendah hati bukan berarti harus merendahkan keberadaan diri. sebaliknya, kerendahan hati yang sejati berasal dari pemahaman terhadap keberadaan diri dalam perbandingannya dengan Allah sendiri. Kerendahan hati adalah jalan untuk bertumbuh dalam kasih karunia. Bahkan doa yang sejati adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan mengakui kebergantungan kita yang seutuhnya kepada-Nya. Merendahkan diri di hadapan Allah adalah tindakan yang didasari kerelaan, dan melakukan hal itu tidaklah mudah. Sebab kedagingan akan menolak sikap rendah hati. Bukti kerendahan hati lainnya adalah ketaatan pada struktur-struktur otoritas yang membawahi, namun salah satu yang menghambat untuk menyerahkan masa depan ke tangan Allah adalah keinginan menjaga reputasi.

Secara manusiawi pasti ada anggapan bahwa mengakui kelemahan atau kesalahan yang dilakukan akan merendahkan martabat sebagai pemmimpin. Karena itu, belajar menerima pujian dengan baik dan tidak membiarkannya tumbuh menjadi kesombongan di dalam diri adalah keterampilan yang perlu dikembangkan, khususnya oleh pemimpin muda. Sebab kesombongan adalah ketidakrelaan untuk merendahkan diri di bawah kekuasaan Allah atau sikap acuh tak acuh dan keinginan untuk lepas dari Allah. Dengan demikian, kerendahan hati adalah kualitas karakter bagi pemimpin rohani dan merupakan akar dari hati hamba. Merendahkan diri juga berhubungan erat dengan hati dan timbul dari perspektif yang benar tentang keberadaan diri di hadapan Allah.[75]

  • Hati Hamba.

Yesus adalah Hamba teladan. Ia telah merendahkan diri dan mengambil rupa seorang hamba untuk menebus umat manusia. Yesus mengajarkan bahwa jati diri utama dari seorang pemimpin adalah seorang hamba. Ada hamba yang dipanggil untuk memimpin dan ada juga yang yang dipanggil untuk menjadi pengikut. Sebagai pengikut Yesus, khususnya sebagai pemimpin kerajaan Allah, jati dirinya adalah menjadi seorang hamba. Pemimpin yang berhati hamba tidak menuntut perhatian, upah, atau ucapan terima kasih. Pemimpin yang berhati hamba akan setia melayani sampai pekerjaannya itu selesai, sekalipun tuntutannya ternyata jauh lebih besar daripada dugaan sebelumnya. Pemimpin yang berhati hamba selalu peka terhadap suara Roh Kudus dalam melayani orang lain. Pemimpin yang behati hamba akan membuat pengecualian dan menerapkan aturan secara fleksibel demi melayani orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang berhati hamba selalu berusaha mempromosikan orang-orang di sekelilingnya sekalipun itu berarti dirinya harus kehilangan sumber daya yang sangat berharga. Pemimpin yang berhati hamba akan menolong orang lain untuk mempertahankan keseimbangan dalam pelayanannya.

Sebaliknya, pemimpin yang tidak memiliki hati hamba memanfaatkan kesempatan dalam memimpin untuk meningkatkan keuntungan pribadi. Dengan demikian, pemimpin kerajaan Allah memandang kepemimpinan sebagai suatu keistimewaan, bukan hak. Jati dirinya adalah sebagai hamba yang memimpin, bukan sebagai pemimpin yang melayani. Pemimpin yang berhati hamba selalu befokus pada kebutuhan orang lain, bukan kebutuhan pribadi, bahkan menjalankan otoritasnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sumber daya yang ada digunakan untuk mengatasi masalah orang lain. Pemimpin yang berhati hamba juga merasakan sukacita karena dapat membantu orang lain yang tidak dapat menyelesaikan masalah sendiri. Pemimpin yang berhati hamba lebih banyak memberi daripada menerima.[76]

  • Kekudusan.

Kekudusan diri adalah paradoks bagi semua orang percaya. Orang percaya dibenarkan karena percaya kepada Kristus, dijadikan benar oleh pengorbanan-Nya. Yang menjadi paradoks adalah meskipun orang percaya dijadikan suci dan kudus di dalam Kristus, kenyataannya orang percaya tetap harus berjuang melawan godaan untuk berbuat dosa. Jadi selama sesorang masih hidup di dunia ini, dirinya akan terus bergumul dengan pencobaan dosa. Memang ketika seseorang percaya kepada Kristus, dirinya menjadi milik Tuhan serta menerima kekudusan dan kesucian-Nya, dibebaskan dari penghukuman atas dosa. Namun iblis telah memperlajari manusia selama berabad-abad dan mengenal tiap-tiap orang karena sudah melihat orang lain yang sama sebelumnya. Iblis juga tahu bagaimana menanamkan benih-benih ke dalam pikiran seseorang karena pernah melakukannya juga kepada orang lain.

Seseorang pernah bekata, “Menabur pikiran, menuai tindakan. Menabur tindakan, menuai kebiasaan. Menabur kebiasaan menuai hidup.” Perhatikan awal dari rangkaian itu, pikiranlah yang menjadi sumber dari tindakan, dan itulah gambaran hidup seseorang. Apa yang masuk ke dalam pikiran melalui pancaindra sangat berpengaruh pada cara berpikir. Oleh karena itu kekudusan pikiran perlu dijaga agar tindakan dapat menjadi teladan bagi orang lain. Teladan yang ditunjukan sebagai pemimpin akan dilihat dan ditiru oleh orang lain. Selain kekudusan pikiran, adu juga kekudusan seksual. Dorongan seksual memiliki ambang batasan tertentu. Ketika belum melampaui batas tersebut, seseorang masih dapat mengontrol tindakannya. Namun, jika batasan telah ditembus, sesorang akan kehilangan kendali dan pada akhirnya mengikuti dorongan bioligis atau emosionalnya. Seorang pemimpin yang bijaksana akan menghindari situasi dan kondisi yang berpeluang menimbulkan godaan seksual.

Ada pula yang namanya kekudusan tubuh. Orang percaya adalah penatalayanan tubuh yang diberikan Allah dan harus merawatnya selama tubuh itu masih dipercayakan Tuhan kepadanya. Beberapa pemimpin tanpa sadar terjebak dalam fokus pada tampilan lahiriah. Mereka beranggapan bahwa penampilan akan melahirkan keyakinan terhadap kemampuan dalam memimpin. Fokus pada tampilan lahiriah dianggap lebih penting sehingga kedewasaan karakter diabaikan. Sebagai penatalayanan tubuh yang baik, harusnya menyayangi tubuh dengan cara beristrahat dan berolahraga dengan cukup.

Segala sesuatu yang menentang kekudusan adalah pencobaan, dan pencobaan adalah godaan atau ketertarikan terhadap dosa. Jika seseorang menyerah pada godaan maka dengan pasti akan jatuh ke dalam dosa. Karena itu, setiap pencobaan harus diatasi. Jadi, kekudusan moral adalah tantangan bagi semua orang percaya di dunia sekarang ini. Namun, tantangan itu akan menjadi lebih besar bagi para pemimpin  karena iblis akan menjadikan mereka sebagai target pencobaan. Iblis tahu bahwa dengan menjatuhkan para pemimpin itu akan menghilangkan pengaruh mereka yang besar dalam kerajaan Allah. Para pemimpin harus siaga dan peka sehingga tidak berkompromi dalam area yang sepertinya sepele dalam kehidupan serta pelayanan mereka.[77]

  • Iman.

Iman bukanlah suatu perasaan atau kesan tetapi iman adalah penerimaan dan kepercayaan yang sederhana terhadap apa yang telah dinyatakan serta dijanjikan Allah di dalam kitab suci. Dien Sumiyatiningsih mengatakan: Iman adalah pemberian Allah. iman bertumbuh karena adanya respons atau tanggapan terhadap firman karunia Tuhan. Iman menjadi nyata dan efektif karena karya Roh Kudus dalam hati dan kehidupan manusia.[78]

Iman selalu berkaitan dengan hari esok yang masih rahasia, sebab Penulis kitab Ibrani berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Kehidupan Kristen dimulai dari kepercayaan terhadap sebuah janji, yaitu janji hidup yang kekal, yang akan diberikan jika seseorang menaruh kepercayaan kepada Yesus, Sang Juruselamat pribadinya. Iman sama seperti otot: semakin sering digerakkan semakin bertambah besar. namun ukuran iman tidak menentukan terjawabnya doa-doa. Objek dari iman itu, yaitu Allah sendiri, yang menjadi penentu. Ukuran iman hanya menentukan besar kecilnya permintaan kita kepada Allah. Iman yang kecil hanya akan menuntut perkara-perkara kecil, iman yang yang besar akan menuntut perkara-perkara besar. namun, bagi Allah, besar atau kecilnya permintaan, semua sama: tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Terkadang Allah tidak hanya mengizinkan ujian dan pencobaan terjadi, Allah  juga membiarkannya terjadi selama jangka waktu yang cukup agar iman seseorang dapat ditempa menjadi maksimal. Namun seorang pemimpin yang baik tidak akan menyangkal kesulitan-kesulitan yang dialami sebab seorang pemimpin tahu bahwa respons yang tepat atas kebaikan dan kasih karunia Allah yang telah membebaskan dirinya dari dosa dan penghakiman adalah mempersembahkan diri sepenuhnya sebagai persembahan yang hidup, entah itu membahagiakan ataupun harus mengalami penderitaan.

Mengenai janji Allah, seseorang tidak boleh menuntut Allah untuk melakukan keinginannya, sebab Allah adalah Tuhan dan pencipta. Ketika meminta penggenapan janji, boleh membuat permohonan spesifik berdasarkan kebutuhan pada saat itu, namun harus berdasarkan janji dalam Kitab Suci dan disertai kesabaran karena roh yang sabar menanti cara dan waktu Tuhan yang tepat dalam menjawab doa adalah ciri dari kedewasaan rohani. Terbalik dari hal itu, pemimpin yang kurang beriman akan terjebak dalam suatu kepemimpinan yang kurang memiliki nuansa sentuhan Allah. Dengan demikian hidup dan memimpin dengan iman harus menjadi suatu kebiasaan bagi orang percaya. Kehidupan yang bergantung pada janji dan kuasa Allah itu dimulai ketika seseorang percaya pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan, menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi, dan memelihara iman itu sampai maut menjemput.[79]

  • Kesabaran.

Kemampuan untuk bertahan dengan sabar adalah kualitas karakter yang penting bagi seorang pemimpin yang ingin berhasil dalam menjalani perlombaan kehidupannya. Kesabaran memiliki pengertian yang sama dengan ketekunan. Sebab, kata ketekunan (Inggris: perseverance) dan (Yunani: huponmone) diterjemahkan beragam di dalam Perjanjian Baru, yaitu menjadi ‘kesabaran’ atau ‘ketekunan’. Dan akar kata “ketekunan” adalah kata lain yang berarti ‘bertahan’. Kebannyakan orang sering lupa bahwa Allah tidak pernah memercayakan kepemimpinan kepada orang-orang yang belum siap secara karakter, pada hal Allah tahu bahwa semua orang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya, sehingga Allah telah mengirimkan Roh Kudus untuk tinggal di dalam diri orang percaya sebab semua orang percaya adalah manusia yang sedang mengalami proses perubahan dan tidak ada seorang pun yang sempurna.

Kesabaran  sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah. Karena itu, para pemimpin harus menuntun orang lain untuk berdoa, meminta pertolongan dan jalan keluar kepada Allah serta mengajak orang lain bersabar menanti jawaban-Nya. Kesabaran juga sangat penting dalam menantikan hasil, karena itu orang percaya tidak boleh putus asa selama masa penantian itu atau tergoda untuk menyerah hanya karena harus menunggu lebih lama daripada yang dikira. Pemimpin yang kurang sabar akan mudah meluapkan amarah karena melihat banyaknya kesempatan yang terlewatkan dan menganggap orang-orang di sekitar lambat dalam merespons kesempatan-kesempatan tersebut.

Dengan demikian kesabaran adalah satu karakter buah Roh dan telah diberikan kepada semua orang percaya bahkan tersedia bagi semua orang yang membuka diri untuk dipenuhi serta dikontrol oleh Roh Kudus. Seseorang dapat bersabar terhadap orang lain dan terhadap dirinya sendiri karena Allah berdaulat serta berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi karena itu janganlah takut karena tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya dan semuanya akan berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan-Nya.[80]

  • Penguasaan Diri.

Penguasaan diri adalah buah Roh dan bagian dari karakter Kristus yang ingin dibangun Allah di dalam diri semua orang percaya (Gal. 5:22-23). Ternyata dalam bagian ini, Tom Yeakley membedakan penguasaan diri dengan disiplin diri. Tom menyatakan, disiplin diri tidak boleh dikacaukan dengan penguasaan diri, sebab disiplin diri berfokus pada perilaku dan tindakan lahiriah dan merupakan tuntutan terhadap diri sendiri untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur atau cermat. Bahkan orang mendisiplinkan diri mengandalkan kemampuan atau tekad diri dan kerja keras untuk mengembangkan pola kebiasaan atau perilaku yang dipandang bermanfaat. Sedangkan penguasaan diri difokuskan pada keinginan dan dorongan batin, bukan perilaku lahiriah. Untuk dapat mengatasi pencobaan dan mewujudkan perilaku Kristus, orang percaya harus mengandalkan Kristus yang bersemayam di dalam diri, bukan malah mengandalkan kemampuan serta tekad. Kehidupan yang dikontrol dan dipenuhi  oleh Roh Kudus merupakan suatu peristiwa yang berlangsung dari waktu ke waktu tanpa berkeputusan. Karena itu para pemimpin yang baik harus menerapkan penguasaan diri dalam menggunakan kekuasaan, dengan mendelegasikan kekuasaan serta otoritas kepada orang lain.

Dalam hal berbicara, pemimpin yang bijak tidak akan mengomentari kepemimpinan orang lain yang berada di luar tanggung jawabnya, karena hanya pemimpin barulah yang rentan mengkritisi pemimpin di atas mereka. Dan dalam hal mengekspresikan emosi/amarah, seorang pemimpin harus pandai-pandai memilah perkataan untuk menghindari agar kelompoknya tidak hanya sekadar melupakan frustrsasi yang terpendam. Sebab bisikan seorang pemimpiin biasanya terdengar seperti teriakan. Memang amarah dan bentuk-bentuk emosi lainnya, secara moral bersifat netral. Allah pun marah, tetapi tidak berbuat dosa. Namun amarah dapat menjadi dosa, bergantung pada cara mengekspresikannya. Paulus menasihatkan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada iblis” (Ef. 4:26-27). Seseorang boleh marah namun jangan biarkan amarah menjadi dosa kaena diekspresikan dengan keliru.

Kehilangan kontrol dalam pembicaraan, terbawa emosi dan tidak menuruti pikiran serta meneriakan perkataan menghina (terutama di depan orang lain) dapat menyakiti serta membawa dampak yang merusak dan tidak mudah untuk memulihkannya. Penguasaan diri dalam mengekspresikan emosi, terutama amarah, tidak perlu bersifat negatif atau merusak. Ketika mengharapkan yang terbaik dari orang lain, boleh mengekspresikan kekecewaan, frustrasi, atau kemarahan terhadap kekurangan orang lain. Namun, ubahlah hal itu menjadi kebaikan dengan berupaya membantu mereka mengembangkan diri menjadi lebih baik pada masa mendatang.

Penguasaan diri adalah buah Roh yang tersedia bagi semua orang percaya. Jika ingin menjadi dewasa di dalam Kristus, harus bertumbuh dan berkembang dalam penguasaan diri. Seseorang bisa menetapkan pilihan untuk mempraktikan penguasaan diri dalam berbagai bidang kehidupan, namun kekuatan untuk mengimplementasikan pilihan itu bukan datang dari tekad sendiri, melainkan dari Roh Kudus yang bersemayam di dalam diri orang itu. Roh Kudus tidak hanya membantu membuat pilihan, tetapi juga membantu melakukan apa yang telah menjadi pilihan. Paulus berkata, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:13).[81]

  • Senang Diajar

Senang diajar merupakan salah satu dari sikap seorang murid. Senang diajar adalah sikap terpenting yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin berkembang dalam kedewasaan. Sikap ini pun berlaku bagi seorang pemimpin karena kepemimpinan dan pelayanan bersumber dari jati diri atau keberadaan yang harus diupayakan untuk dikembangkan melalui belajar yang akan memampukan mereka untuk melayani orang lain. Ciri orang yang senang diajar ialah terbuka terhadap berbagai sumber pengajaran, mau menerima bantuan dan koreksi dari Tuhan dalam kehidupannya. Namun perlu diingat bahwa sikap senang diajar yang selektif (pilih-pilih sumber yang disukai) akan membatasi perkembangan seorang pemimpin.

Sikap penting lain yang membuat seseorang cepat bertumbuh dan berkembang adalah memiliki roh kerendahan hati dan kesediaan untuk mengambil inisiatif dalam upaya pembelajaran dan pengembangan pribadi. Kerendahan hati memampukan seseorang untuk mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui segala sesuatu, tidak memiliki semua jawaban, dan membutuhkan pertolongan orang lain, atau mangakui kekurangan dalam area tertentu serta perlunya upaya untuk mengembangkan diri. kerendahan hati jugalah yang memampukan seorang pemimpin baru untuk tunduk terhadap pengajaran dan bimbingan orang lain. Kebalikan dari hal ini, seorang pemimpin yang tidak mau diajar cenderung mandek dalam belajar dan tidak mau mencari kesempatan untuk belajar dari orang lain.

Seorang pemimpin yang baik akan menunjukkan sikap senang diajar selama hidup dan akan memupuk kebiasaan belajar, menerima perubahan yang terjadi dalam kehidupan dan kepemimpinan. Secara khusus pemimpin kerajaan Allah pasti menjadikan Alkitab sebagai sumber pembelajaran utama, menyusun perangkat inti yang terdiri atas kitab-kitab, perikop-perikop, atau tokoh-tokoh, yang akan memperdalam warta kehdupan dan memunculkan pengaruh yang lebih besar.[82]

  1. Keberanian.

Berani di sini bukan berarti tidak takut sama sekali atau mengabaikan ketakutan itu. Keberanian yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran terhadap ketakutan itu sendiri. Berani berarti dikendalikan oleh Roh Allah, percaya kepada-Nya dan pada janji-Nya, serta tidak membiarkan diri dikuasai oleh ketakutan sendiri. Iblis pasti akan menggunakan ketakutan terhadap masa depan yang belum diketahui untuk melumpuhkan semangat orang percaya dalam perlombaan iman. Karena itu, yang dibutuhkan sekarang ini adalah generasi yang memutuskan untuk mencapai puncak dalam kehidupan kristiani dan tidak berhenti sebelum berhasil mencapainya.

Seperti perasaan-persaan lainnya yang diciptakan Allah, ketakutan pasti memiliki manfaat baiknya, yakni bisa menjadi sarana proteksi yang memperingatkan seseorang terhadap berbagai hal yang asing, yang berpotensi mendatangkan bahaya. Ketakutan terhadap sesuatu yang asing itu  menjaga agar tidak terburu-terburu masuk ke dalam situasi yang mungkin berbahaya itu. Jadi bersikap berani bukanlah mengabaikan ketakutan dalam situasi itu dan berlari tanpa berpikir panjang ke dalam kegelapan. Sebaliknya, dengan mengakui ketakutan, seseorang justru dapat mengendalikan ketakutan itu dan tidak membiarkan ketakutan menguasai dirinya, serta terus bergerak maju dengan hati-hati. Hal penting yang perlu diketahui dan diingat oleh setiap orang Kristen adalah keberanian dan rasa aman akan dirasakan jika seseorang tinggal di dalam Tuhan, bukan jika bahaya itu hilang. Sebab Allah telah berjanji untuk tidak meninggalkan umat-Nya (Ul. 31:6).

Sikap keberanian yang perlu dimiliki oleh pemimpin dan orang Kristen adalah keberanian untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui, keberanian untuk mempertahankan prinsip dan keyakinan, keberanian untuk menegur orang lain, dan keberanian untuk mengandalakan Allah sebagai penyedia segala sumber daya yang dibutuhkan organisasi. Ada juga pemimpin yang tidak memimpin dengan keberanian, yakni mereka yang memilih untuk bermain aman dan menghindari risiko. Kepemimpinan seperti ini tidak dinamis dan tidak merasakan kuasa Allah tampak di dalamnya karena jarang mengambil langkah iman. Seorang pemimpin Kristen dipanggil untuk menjadi orang yang berani, hidup penuh risiko dan harus menghadapinya dengan keberanian dan iman. Jika tidak, orang-orang akan berpaling, mencari harapan dan inspirasi lain untuk menghadapi tantangan serta kesulitan yang menghadang.[83]

Kualitas karakter guru PAK ditinjau dari kualitas karaktrer pemimpin Kristen karena penulis sadar bahwa guru PAK juga merupakan pemimpin Kristen yang mengubah dunia bagi Kristus. Dengan demikian, kualitas karakter yang harus dimiliki dan ditingkatkan guru PAK adalah kasih, integritas, kerendahan hati, hati hamba, kekudusan, iman, kesabaran, penguasaan diri, perasaan senang diajar, dan keberanian.

Inilah kepemimpinan Kristen yang efektif, sebab “salah satu sifat penting dari kepemimpinan Kristen yang efektif adalah kemampuan untuk menyesuaikan bentuk kepribadian seseorang dengan situasi tertentu.”[84] Kehidupan Kristen yang wajar dan normal akan tercapai bila adanya perubahan karakter. Perubahan karakter bukan hanya dengan fasih berkata “Shalom, Haleluya” dan menggunakan atribut-atribut Kristen, tetapi mengerti pelayanan yang sesungguhnya dan menjadi duta-duta Kristus di manapun berada atau hidupnya membawa keharuman bagi sesamanya. Sebab, “Karakter yang baik adalah sarana pelayanan dan kesaksian yang paling utama, yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Inilah yang menjadi paling utama dalam kehidupan seseorang untuk menampilkan diri sebagai saksi Kristus. Kekayaan dan berbagai fasilitas pelayanan lain menjadi tidak berarti ketika karakter seseorang buruk.”[85] Kenyataan yang terjadi bahwa banyak orang tersandung oleh karakter buruk orang-orang Kristen. Sehingga hal itu akan menghambat bahkan menghalangi orang lain untuk percaya kepada Tuhan Yesus.

Stanly Jones (1884-1973) melaporkan apa yang dikatakan oleh Bara Dada (Dwijendranath Tagore), filsuf India dan saudara penulis terkenal Rabinranath Tagore, dan dikutip oleh Erastus Sabdono: “Jesus is ideal and wonderfull, but you Christians – you are not like Him.” (“Yesus itu ideal dan luar biasa, tetapi kalian orang Kristen – kalian tidak seperti Dia.”)[86] Inilah yang terjadi di masyarakat, banyak orang Kristen yang kelakuannya lebih buruk daripada orang-orang bukan Kristen. Orang-orang yang memiliki nama kristiani bahkan pendeta sekalipun masuk penjara karena korupsi, menggelapkan pajak, menipu orang dan sebagainya, sehingga nilai minus ini menutup mata orang terhadap kebenaran injil. Orang bisa berpikir, untuk apa menjadi orang Kristen kalau kelakuan orang-orang Kristen lebih buruk.

Kehidupan memperagakan pribadi Kristuslah yang dapat mengatasi hal ini. Gereja harus membawa jemaat, demikian juga guru PAK harus membawa murid-murid pada tahap ini sehingga di manapun anak-anak Tuhan berada, mereka dapat mengubah masyarakat sekitarnya. Selain itu kehidupan orang percaya dapat membuat lingkungannya berkata “tidak mungkin orang sebaik ini Tuhannya salah”. Jadi orang percaya bisa membuktikan bahwa Yesus ialah Anak Allah dan Juruselamat dunia yang benar melalui kehidupan yang sangat unggul dalam moralnya. Dengan demikian, guru tidak saja dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan emosional dan spiritual. Tujuannya agar guru mampu membuka mata hati anak didik untuk belajar, selanjutnya mampu hidup dengan berkarakter di tengah-tengah masyarakat serta bangsanya.  Inilah kualitas karakter yang harus dimiliki oleh setiap guru, terutama guru PAK.

Adapun karakter baik guru menurut pandangan siswa dan pandangan orang tua siswa yang diringkas dari beberapa penilitian kemudian diuraikan oleh Uhar Saharsaputra:[87]

Taabel 2.1

Karakter guru yang baik menurut pandangan siswa dan orangtua siswa

Karakter Guru yang Baik Menurut Pandangan Siswa  Karakter Guru yang Baik Menurut Pandangan Orang Tua Siswa
Memberi inspirasi, menjadi sumber inspirasi.Simpati dan suka menolong, peduli, dan membuat siswa merasa penting, ramah, mencintai/menyayangi, siswa serta dapat membina hubungan personal dengan baik.Mendorong untuk bekerja keras.Komunikator yang baik.Punya selerah humor yang tinggi.Sangat menguasai materi yang diajarkan.Mau mendengarkan pendapat siswa.Interaktif dan melibatkan emosi positif dalam pembelajaran.Disiplin dan percaya diri.Tidak mudah marah, emosi terkendali.Pemecah maasalah.Bersikap fair/adil.Berdedikasi pada pekerjaan sebagai guru.Pemimpin dan teman yang baik.Mencintai siswa, menerima siswa apa adanya.Sering tampak bahagia dan menyenangkan dan pandangan hidupnya positif.Bersahabat dengan anak dan jadilah teladan.Mencintai pekerjaan sebagai pendidik.Luwes dan mudah beradaptasi dengan perubahan.Selalu belajar, tidak pernah berhenti belajar.

Kemendiknas (2010)[88], mendeskripsikan beberapa nilai luhur yang harus dimiliki dan dipraktikkan terlebih dahulu oleh guru, baru kemudian diajarkan kepada anak didik dalam kehidupan nyata. Adapun nilai-nilai luhur tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 2.2

Nilai dan Deskripsi Nilai Karakter Bagi Guru

NONILAIDESKRIPSI
1ReligiusSikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2JujurPerilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3ToleransiSikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4DisiplinTindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5Kerja kerasPerilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6KreatifBerpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7MandiriSikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8DemokratisCara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9Rasa ingin tahuSikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya.
10Semangat kebangsaanCara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11Cinta tanah airCara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tingi terhadap bahasa, lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12Menghargai prestasiSikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13Bersahabat/ komunikatifTindakan yang memperlihatkan rasa senangberbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14Cinta damaiSikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.
15Gemar membacaKebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16Peduli LingkunganSikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17Peduli socialSikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18Tanggung jawabSikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, (alam, social, dan budaya), Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Ketekunan Guru PAK Menghasilkan Keselamatan

Ketekunan guru PAK menghasilkan keselamatan merupakan pembahasan yang mencakup ketekunan guru dalam mengajar PAK, keselamatan pribadi guru PAK, dan keselamatan orang-orang yang diajar PAK.

  • Ketekunan Guru dalam Mengajar PAK

Mengajar Pendidkan Agama Kristen (PAK) merupakan sebuah Proses pengajaran yang berdasar pada Alkitab dan berpusat pada Kristus dengan tidak melupakan karya Roh Kudus untuk memasuki persekutuan iman yang hidup sebagai orang Kristen yang mempermuliakan nama Tuhan di segala waktu dan tempat. Sebab, Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus.[89]

Homrighausen, dalam bukunya mengatakan Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang diberikan baik pada pelajar muda dan tua memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan sendiri dan oleh serta dalam dia, dan terhisap pada persekutuan jemaat-Nya yang mengakui dan memuliakan nama-Nya di segala waktu dan tempat.[90]

Marthin Luther (1483-1548) menyatakan pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Di samping itu Pendidikan Agama Kristen memperlengkapi jemaat dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, firman tertulis (Alkitab) dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan Negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.[91]

Melihat pengertian PAK yang disampaikan oleh beberapa teolog, secara tersirat dapat dikatakan bahwa orang yang terlibat di dalamnya, secara khusus guru yang mengajar PAK harus memiliki ketekunan untuk melakukannya. Ketekunan adalah perihal mengenai kesungguhan dan rajin dalam bekerja.[92] Ketekunan juga identik dengan ketaatan yang berlandaskan iman, sebab John Owen, dalam bukunya menyatakan “iman kepada Allah dan Yesus Kristus, dasar bagi seluruh ketaatan orang percaya, telah diteguhkan dengan satu jaminan bahwa mereka akan terus bertekun.”[93] Dengan demikian seorang guru yang mengajar PAK harus bertekun dalam melakukannya, yakni mengajar dengan rajin dan sungguh-sungguh, kemudian disertai dengan ketaatan hidup terhadap ajaran firman Tuhan yang diajarkannya kepada murid-murid agar dapat menjadi teladan yang ditiru oleh setiap pribadi yang diajarnya.

Seorang guru harus mengajar dengan tekun, terutama guru PAK. Karena itu, dalam mengajar, guru PAK harus belajar dari Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus Sang Guru Agung, merupakan guru yang menjadi tempat belajar yang baik dan benar. Dalam banyak hal, Yesus memberi teladan yang baik dan jika diikuti akan memberi banyak pengertian dan pengalaman mengajar yang baru dan tidak akan ada habisnya.[94] Yesus mengajar menggunakan berbagai metode, Yesus mengajar tidak mengenal ruang dan waktu, Yesus juga mengajar dengan penuh kuasa, namun satu hal yang tidak kalah pentingnya yang harus dipelajari oleh semua guru, terutama guru PAK adalah ketekunan Yesus dalam mengajar.

Yesus melakukan semua tugas pelayanan-Nya di bumi dengan tekun, baik dalam pemberitaan kabar baik tentang Kerajaan Allah, maupun mengajari orang-orang untuk hidup sebagai ahli waris kerajaan-Nya. Dalam mengajarkan kebenaran sejati, Yesuspun harus menghadapi berbagai hambatan dari berbagai golongan manusia dalam kaum Yahudi, seperti yang dikatakan oleh Yosafat, “Tuhan Yesus dalam pelayanan pemberitaan Injil Kerajaan Allah mengalami banyak tantangan. Ironisnya tantangan tersebut tidak datang dari golongan masyarakat rendah. Mereka yang menamakan diri ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, orang-orang Saduki, dan para pemimpin Yahudi.”[95] Namun Yesus tetap melakukan tugas pemberitaan dan mengajar-Nya sebab Yesus tahu apa yang dilakukan-Nya adalah benar. Selain itu tanggung jawab yang diterima dari Sang Bapa harus terwujud di bumi.

Ketekunan seperti yang dilakukan Yesus harus dimiliki oleh setiap guru PAK sebab guru PAK pun mengajarkan kebenaran sejati yang berdasar pada firman Tuhan (Alkitab). Meski menghadapi berbagai tantangan dan masalah, guru PAK harus tetap melakukannya sebab guru PAK juga mengemban tugas pelayanan sebagai lanjutan dari karya Yesus Kristus secara khusus dalam hal mengajarkan Pendidikan Agama Kristen. Tanggung jawab guru PAK adalah membimbing murid untuk hidup berkebajikan, saleh dan untuk menjadi percaya kepada Kristus. Hal ini sama pentingnya dengan tugas menambah pengetahuan dan pengertian dalam diri murid. Menurut Robert R. Boehlke, guru tidak perlu mengajarkan setiap macam pengetahuan, namun ia wajib menolong anak didik melihat hubungan antara iman dan pokok ilmu pengetahuan tertentu agar menjadi seorang yang berimbang dalam pengetahuan dan gaya hidupnya.[96]

Guru PAK memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik. Adapun tanggung jawab guru menurut E. G. Homrighausen dan I. H. Enklaar adalah sebagai berikut:[97]

  1. Guru menjadi penafsir iman Kristen. Dialah yang menguraikan dan menerangkan kepercayaan Kristen, karena ia harus menyampaikan harta-harta dari masa lampau kepada pengajar yang akan mengajar di masa yang akan datang.
  2. Guru menjadi seorang gembala bagi siswa. Guru memiliki tanggung jawab atas kehidupan rohani mereka. Tuhan Yesus sudah menyuruh dia: “peliharalah segala anak domba-Ku, gembalakanlah segala domba-Ku!” maka guru harus mencintai murid serta mendoakannya. Hal yang demikianpun dinyatakan oleh Khoe Yao Tung dalam mengungkapkan dimensi-dimensi hakikat seorang guru, yakni “guru adalah gembala bagi anak”. Artinya guru adalah seorang yang berusaha untuk membantu mereka yang hilang dan terperangkap dalam dosa. Guru mengembalikan mereka yang tersesat, seperti domba, seperti mata uang, dan anak yang hilang, atau seperti anak sulung[98]
  3. Guru menjadi pedoman dan pemimpin. Ia hendaknya menjadi teladan yang menarik orang kepada Kristus, mencerminkan Kristus dalam sejarah pribadinya. Ia tidak boleh memaksa peserta didiknya untuk masuk ke dalam kepercayaan Kristen, melainkan membimbing mereka dengan halus dan lemah lembut.
  4. Guru menjadi penginjil. Ia bertanggung jawab atas penyerahan diri setiap peserta didiknya kepada Yesus. Artinya peserta didik menjadi murid Tuhan Yesus yang taat dan setia kepada-Nya.[99]

Selain itu, guru PAK juga merupakan pelayan Tuhan, dan seorang pelayan Tuhan harus menjadi saksi Kristus. Artinya guru PAK harus hidup sebagai saksi selain pelayanan mengajar. Untuk sampai kepada maksud ini, seseorang harus mengenakan pikiran dan perasaan Kristus sehingga kehidupannya dapat memperagakan kehendak Tuhan. Dengan hal ini juga seseorang barulah bisa tampil sebagai saksi Kristus. Inilah kehidupan Kristen yang wajar dan normal yang harus dimiliki setiap anak Tuhan dan menjadi tujuan pelayanan. Bila sampai tahap ini, sesorang barulah dapat melayani Tuhan dengan benar dan dengan motif-motif yang murni.[100]

Semua kewajiban dan tanggung jawab ini tidak dapat dilakukan oleh guru dalam mengajar PAK tanpa proses, dan proses membutuhkan ketekunan untuk mencapai hasil yang maksimal. Karena ketekunan juga, Yesus taat sampai mati, bahkan mati di atas kayu salib yang seharusnya menjadi tempat bagi orang hina. Ketekunan Yesuslah yang mengerjakan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya kepada-Nya. Ketekunan seperti yang dilakukan Yesus inilah yang perlu dimiliki oleh setiap guru PAK. Mungkin guru tidak perlu mati di kayu salib, namun pengorbanan harus ada dan keluar dari dalam diri guru yang mengajarkan PAK.

  • Keselamatan Pribadi Guru PAK

Keselamatan secara etimologi barasal dari kata Ibrani yesyu’a dan Yunani soteria, berarti tindakan atau hasil dari pembebasan atau pemeliharaan dari bahaya atau penyakit, mencakup keselamatan, kesehatan dan kemakmuran. Pergeseran arti ‘keselamatan’ dalam Alkitab bergerak dari perihal fisik ke kelepasan moral dan spiritual. Perjanjian Lama menekankan cara-cara hamba Allah yang secara perseorangan terlepas dari tangan musuh-musuh, pembebasan umat-Nya dari belenggu dan bermukimnya di tanah yang makmur dan memberikan tekanan yang lebih besar pada keadaan-keadaan dan kualitas-kualitas keterberkatan secara moral dan religius, dan memperluasnya sampai melampaui batas-batas kebangsaan. Perjanjian Baru dengan jelas menunjukkan keterbudakan manusia kepada dosa, bahaya dan kekuatan dosa, dan kelepasan dari dosa yang hanya dapat diperoleh dalam Kristus. [101]

Alkitab memberikan pernyataan-pernyataan yang makin lama makin jelas tentang bagaimana Allah menyediakan dasar keselamatan, menawarkannya, dan bagaimana Allah sendiri pada diri-Nya adalah satu-satunya keselamatan manusia. Keselamatan yang diberikan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus adalah anugerah yang Cuma-Cuma. Artinya manusia hanya menerimanya dengan iman tanpa membayar apa-apa. Seratus persen gratis.[102] Eddy Fances mengatakan:

“Saudara, kepastian keselamatan bukanlah menunjukkan kehebatan kita yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Sesungguhnya, tidak sedikitpun ‘ruangan’ yang disisakan bagi jasa manusia untuk kekekalan yang disediakan Allah. benar-benar 100% anugerah Allah yang diberikan bagi mereka beriman kepada Yesus Kristus yang rela mati bagi dosa manusia dan bangkit kembali membuktikan keallahan-Nya dan kuasa-Nya yang menaklukkan dosa, kematian, dan iblis. Kebangkitan Kristus adalah jaminan yang pasti atas anugerah keselamatan itu bagi orang-orang yang sungguh beriman kepada-Nya”[103]

Keselamatan yang diberikan gratis itu tidak berarti murahan atau tidak bernilai sama sekali, justru terlalu mahal harganya bahkan seluruh harta di dunia tidak dapat mengimbanginya karena dibayar dengan darah Yesus Kristus yang kekal, harga sebuah hidup dari Allah. keselamatan itu tidak ternilai harganya sehingga itu diberikan kepada manusia sebagai anugerah semata-mata. Dengan kata lain, untuk diselamatkan oleh Kristus dan menjadi seorang percaya, manusia tidak perlu membayar harga apapun.

Knox Chamblin, menyatakan dari awal hingga akhir, keselamatan adalah hasil karya Allah. Untuk mencapai tujuan itu, Allah telah memilih, menentukan, memanggil, membenarkan dan memuliakan (Rm. 8:28-30).[104] Keselamatan dimulai dari rencana Allah di dalam pikiran Allah yang tak terselami (1 Kor. 2:16a; Rm. 11:33-34). Kemudian berdampak dalam pengalaman nyata kaum pilihan-Nya. Kedaulatan kehendak-Nya bukannya menyingkirkan, melainkan memasukkan iman manusia; inilah cara yang diambil-Nya untuk mewujudkan rencana keselmatan-Nya, respon yang ditetapkan-Nya untuk menyambut anugerah keselamatan-Nya (Ef. 2:8). Karena rancangan Allah itu, umat manusia harus memegang hidup kekal sebagaimana telah dipanggil (1 Tim. 6:12.) meski rencana Allah ini khususnya merujuk kepada hadiah sorgawi, namun tujuan Allah meliputi seluruh pengalaman Kristen, yakni Allah memilih umat-Nya agar kudus dan tak bercela di hadapan-Nya karena pada dasarnya umat pilihan Allah adalah hasil karya Allah yang diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Sesuai tujuan anugerah-Nya sendiri, Allah menyelamatkan dan memanggil umat pilihan-Nya untuk hidup kudus. Proses ini akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dari semula pada saat Allah memuliakan umat-Nya dan membuat mereka serupa dengan gambaran Anak-Nya (Rm. 8:29-30; bdk. 1 Kor. 2:7; 2 Kor. 3:18). Penebusan Allah bagi umat manusia yang telah jatuh terletak pada rencana pemulihan seluruh alam semesta untuk mengumpulkan segala sesuatu baik di sorga maupun di bumi di bawah satu kepala, yaitu Kristus (Ef. 1:10; bdk. Kol. 1:20; Rm. 8:18-39).

Rencana keselamatan Allah didasari dengan kasih. Allah menggenapkan rencana dan mewujudkan kasih-Nya melalui kebesaran kuasa-Nya yang tak terukur. Allah melaksanakan tujuan dan memakai kuasa-Nya dengan memanggil mereka datang kepada-Nya. Instrument panggilan itu adalah karya bersama Firman Allah dan Roh Allah, di mana Allah memakai kuasa firman dan Roh saat menyampaikan panggilan-Nya untuk membangkitkan iman yang menyelamatkan di dalam diri orang berdosa. Sehingga benarlah apa yang dikatakan Paulus dalam kitab Roma “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm. 1:16). Dengan demikian, keselamatan pribadi guru PAK pada dasarnya sama dengan keselamatan yang diterima oleh setiap orang, yakni hanya karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus yang berpuncak pada kematian-Nya di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya menjadi bukti bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

  • Keselamatan Orang yang Diajar PAK

Sejak kejatuhannya, manusia berada dalam lingkaran setan pada posisi dan kondisi yang berbahaya, bersalah dan tak berdaya. Kesalahannya tidak melayakkannya menerima bantuan yang dapat melepaskannya dari keadaan dan kedudukannya itu. Tidak ada kebijakan dan kekuatan manusiawi yang mampu memecahkan masalah itu untuk dapat keluar dari dalam lingkaran itu. Manusia memerlukan pertolongan, yaitu keselamatan. Allah sendiri harus mengambil prakarsa jika manusia harus diselamatkan. Sehingga Alkitab tidak bicara tentang keselamatan yang sedikit demi sedikit bagi seluruh umat manusia, baik dalam arti mempersiapkan mereka semua bagi kemuliaan, atau pengubahan masyarakat oleh perkembangan yang berkesinambungan melalui penerapan prinsip-prinsip ‘selamat’. Bahkan orang-orang pilihan diperingatkan supaya makin meneguhkan panggilan dan pemilihan mereka (2Pet 1:10) dan untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar (Fili 2:13).[105]

Persekutuan orang percaya yang sudah diselamatkan (gereja) merupakan penjaga keselamatan. Artinya Gereja harus menjadi ‘persekutuan orang-orang yang prihatin’, umat yang diselamatkan dan menyelamatkan. Tanggung jawab guru PAK yang terutama adalah tanggung jawab Amanat Agung yang harus dilakukan sebagai orang Kristen (Mat. 28:19-20, Yoh. 10). Koe Yao Tung menuliskan:

Tugas guru Kristen harus menyampaikan berita Kerygma, yaitu pemberitaan kabar sukacita yang dinyatakan melalui Tuhan Yesus Kristus, manusia telah diselamatkan dalam kasih anugerah Allah. Guru Kristen harus menjadi rekan rekonsialisasi yang membawa murid kepada kasih anugerah Allah. Guru-guru Kristen adalah individu-individu yang keluar untuk “mencari dan menyelamatkan domba yang hilang”. Guru Kristen adalah orang yang mau bekerja dengan semangat kristiani supaya anak-anak dapat dibawa ke dalam keselamatan yang dari Tuhan melalui pengurbanan Yesus Kristus dengan mengembalikan dan memulihkan peta dan teladan Tuhan.[106]

Dengan demikian, guru PAK harus seperti Yesus yang mengajar tidak hanya sekedar memberi pengertian tetapi mengubah hidup, sebab Tuhan sanggup mengubah hidup seseorang. Orang yang mendengar pengajaran Yesus dan menerima lalu menyimpannya dalam hati akan diselamatkan. Jadi keselamatan seseorang hanya karena kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8). Namun semuanya itu bisa dikerjakan Tuhan melalui hamba-Nya, dalam hal ini Guru PAK. Sebab, “Meskipun iman berasal dari Allah, Tuhan berkenan memakai aktivitas belajar-mengajar menjadi suatu sarana agar dinamika iman menjadi semakin nyata, dirasakan, dan hidup”,[107] Sehingga orang yang mendengarkan pengajaran PAK dan menerima dan menyimpan dalam hatinya akan diselamatkan.

BAB III

ANALISIS EKSEGETIS

Sehubungan dengan teks I Timotius 4:16, hal-hal yang akan dipaparkan adalah analisa latar belakang surat I Timotius yang mencakup penulis, waktu dan tempat penulisan, alamat dan tujuan penulisan, kemudian menguraikan konteks teks yang meliputi konteks jauh dan konteks dekat. Selanjutnya penulis menjelaskan garis besar teks, struktur teks, dan eksegese teks. Bab ini diakhiri dengan rangkuman.

  • Latar Belakang Kitab

Surat I Timotius merupakan salah satu dari surat-surat penggembalaan, selain Titus dan II Timotius. Tidak ada satu pun tersedia sejarah tertulis dalam bentuk yang berurutan mengenai nasib gereja sejak dari berakhirnya kitab Kisah Para Rasul hingga akhir abad yang pertama. Suatu perubahan yang jelas terjadi setelah Paulus dipenjarakan. Meskipun telah dikalahkan oleh waktu, seperti yang dicatat dalam Filemon, Paulus menyebut dirinya sendiri “Paulus yang sudah menjadi tua” (Filemon 9), dan dalam Filipi menyiratkan bahwa hari kematiannya sudah tidak jauh lagi (Fil. 1:20-21). Namun karena tidak siap untuk menghentikan pengejaran yang penuh semangat untuk memenuhi panggilannya, seperti yang ditunjukkan di dalam jemaat Filipi (Fil. 3:12), Paulus mulai menggantungkan dirinya pada bantuan rekan-rekannya yang lebih muda, yang masih bebas dan lebih mampu melanjutkan tugas mengajarnya daripada dirinya. Pada masa inilah surat penggembalaan, I Timotius, Titus, dan II Timotius ditulis.

Jika dilihat dari perkataan Merrril C. Tenney, I Timotius  merupakan surat penggembalaan yang pertama. Merril mengatakan bahwa:

“Mungkin ada beberapa lompatan waktu dalam rangkaian surat-surat penggembalaan. Pertama Timotius melukiskan Paulus yang tengah bepergian dan aktif, membimbing wakilnya yang masih muda mengenai tugas-tugas penggembalaan. Kitab Titus sangat serupa dalam pandanganannya. Namun, II Timotius pasti merupakan yang terakhir, karena jelas bahwa Paulus tidak merasa yakin akan dapat melewati musim dingin dengan selamat (2 Timotius 4:21).”[108]

Surat penggembalaan yang pertama ini dialamatkan kepada Timotius yang sedang melayani di Jemaat Efesus. Di Efesus banyak orang Yahudi, yang menikmati kedudukan khas pada zaman kerajaan Romawi mula-mula, karena selain perdagangan, keutamaan kota Efesus dalam bidang agama pun meningkat pada pemerintahan Roma. Ibadah kepada kaisar yang dimotori oleh wangsa Julius-Claudius diberlakukan di Efesus, dan kuil-kuil dibangun untuk menghormati kaisar Klaudius, Hadrianus dan Severus. Mata uang beserta tulisan ukir menunjukkan bahwa kota itu membanggakan diri dengan gelar neokoros, pengawas kuil, baik kuil Artemis maupun kuil para kaisar.

Menjelang akhir kunjungan Paulus di sana, perkembangan agama Kristen yang menolak sinkretisme, terus-menerus menghadapi perlawanan dari pihak agama yang sudah mapan. Perkembangan itu mulai mempengaruhi tidak hanya ibadah ilmu gaib yang berkembang di sana (Kis 19:13), tapi juga ibadah Diana atau Artemis (Kis 19:27). Penjualan patung-patung dan benda-benda ibadah Artemis merosot tajam, padahal kegiatan itu merupakan sumber kemakmuran Efesus.

Lukas tidak memberi banyak informasi mengenai waktu Paulus tinggal di Efesus namun selama masa ini agama Kristen berkembang (Kol 1:7; 2:1) sehingga Efesus merupakan markas besar Paulus selama berlangsungnya surat-menyurat dengan jemaat Korintus (1Kor 16:8). Sesudah Paulus berangkat, Timotius tinggal di Efesus (1Tim 1:3) dan segera harus menghadapi ajaran sesat (Kis 20:29-30; 2Tim 4:3).[109]

Guna mengatasi ajaran sesat yang mengancam kehidupan iman jemaat dan mengingat usia Timotius yang masih muda, Paulus menyadari bahwa Timotius butuh bimbingan dalam menggembalakan umat Tuhan  yang dilayaninya. Dengan latar belakang persoalan yang terjadi di Efesus, yakni tempat di mana Timotius melayani maka surat penggembalaan yang pertama (I Timotius) ini ditulis.

  • Penulis

Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan dengan jelas memberi keterangan bahwa penulis kitab I Timotius adalah Paulus. Blaiklock, dalam bukunya yang berjudul Surat-surat Penggembalaan, mengatakan bahwa tak ada alasan untuk meragukan bahwa rasul Pauluslah yang menulis surat-surat ini (surat-surat penggembalaan termasuk I Timotius). Bermacam-macam pendapat yang berdasarkan kriteria yang berubah-ubah sehubungan dengan perbendaharaan kata dan gaya bahasa, yang menentang keaslian surat-surat tersebut, telah diselidiki dalam artikel tentang surat-surat penggembalaan yang terdapat di dalam Zondervan Pictioral Bible Dictionary.[110]

Jika diteliti dari perkataan Blaiklock, sangat jelas tersirat bahwa keabsahan penulis surat-surat penggembalaan telah diperdebatkan karena perbedaannya dengan hasil tulisan Paulus lainnya dalam hal kosa kata, gaya bahasa dan isi. Selain itu, di halaman yang sama dalam bukunya, Blaiklock juga mengatakan bahwa “Belakangan ini ada usaha-usaha yang berdasarkan teknik-teknik komputer, untuk mengacaukan pandangan tradisional yang berpendapat bahwa Rasul Pauluslah yang menulis surat-surat ini”[111].

Sekalipun demikian, bukti yang kuat dalam surat-surat ini menunjukkan bahwa Paulus adalah penulisnya, sebab namanya tercantum di dalam setiap bagian salam pembukaan dari surat-surat ini, dan berbagai keterangan riwayat hidup pribadi yang ditulis sendiri di dalamnya cocok dengan kehidupan Paulus sebagaimana tercatat di bagian lainnya; misalnya: 1Tim 1:12,13; 2Tim 3:10,11; 4:10,11,19,20.

Mengenai keabsahan penulis surat penggembalaan, Meril C. Tenney juga mengatakan bahwa:

“Tetapi mereka masih menyandang nama Paulus, dan hubungannya dengan riwayat hidupnya yang sudah diketahui masih cukup kuat untuk dapat diterima, lagipula kosakata dan gaya dapat berubah sejalan dengan perubahan usia dan keadaan. Antara surat yang ditulis dari dalam penjara dan yang ditulis dalam masa perjalanan juga terdapat suatu perbedaan yang mencolok, sehingga tidak akan terlalu mengejutkan bila kemudian ada perbedaan lagi dengan surat-surat penggembalaan.”[112]

Pemahaman Meril juga diperkuat dengan komentar dari Blaiklock yang mengatakan bahwa setiap orang yang banyak menulis, akan menyadari perubahan-perubahan dalam gaya bahasanya sesuai dengan pokoknya, orang yang menerimanya, kesadaran diri dan efeknya terhaadap pemakaian kata-kata, gaya, keadaan, terburu-buru, dan ratusan daya dengan mana dia menentukan sifat dan bentuk penulisannya sendiri[113].

Patokan dasar untuk menentukan keaslian sebuah dokumen ditetapkan sejak dahulu oleh Simon Greenleaf, “Setiap dokumen, yang jelas kuno, yang berasal dari tempat penyimpanan yang patut dan yang tidak menunjukkan tanda-tanda adanya usaha pemalsuan, secara hukum dianggap asli dan beban untuk membuktikan ketidakasliannya berpindah pada pihak yang bertentangan pendapat” (An Examination of the Testimony of the Four Evangelists. London 1847, hlm. 7).Surat-surat penggembalaan ini merupakan kitab-kitab kuno yang berasal dari tempat penyimpanan yang patut, yakni gereja. Gereja senantiasa menganggap Paulus yang menulis surat-surat ini; tidak ada suara yang mempersoalkannya hingga zaman modern.[114]

Berdasarkan keterangan di atas , penulis mengambil satu kesimpulan bahwa penulis surat I Timotius adalah Paulus. Selain itu, satu bukti yang lebih kuat dari sekian banyak sumber adalah yang tertera secara jelas dalam surat itu sendiri. Paulus menyebut namanya sebagai pengirim surat tersebut. Misalnya pada bagian utama (salam), pengirim surat dengan jelas berkata “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, kepada Timotius, anakku yang sah di dalam iman: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.” (1 Tim. 1:1-2).

  • Waktu dan Tempat Penulisan

Surat pertama kepada Timotius dan surat kepada Titus ditulis selama masa perjalanan dan pelayanan pemberitaan Injil di antara dua pemenjaraan Paulus di Roma. Sebuah tanggal di antara tahun 61 dan 63 M tidak akan meleset jauh.[115] Alkitab penuntun juga memberi keterangan bahwa waktu dan tempat penulisan surat I Timotius adalah sekitar tahun 64 Masehi, dari Roma atau Makedonia (mungkin Filipi), barangkali sebelum pemenjaraan terakhir Paulus di Roma.[116]

Menurut Blaiklock, surat ini (I Timotius) ditulis (teori ini didukung oleh tradisi kuno) setelah penawanan Paulus yang pertama kalinya di Roma. Tanggalnya kira-kira setelah Paulus dilepaskan pada akhir tahun 62 atau 63, dan sebelum politik penganiayaan yang mengikuti tindakan-tindakan Nero melawan orang-orang Kristen di Roma pada akhir tahun 64, yang dimulai dengan Kebakaran Besar di Roma dalam bulan Juli tahun 64. Diperkirakan bahwa penahanan Paulus yang kedua kalinya (di Troas) dan kematiannya terjadi pada tahun 67. Tahun 65 ditentukan sebagai tahun penulisan surat kiriman ini.[117]

Beradasarkan keterangan di atas, penulis menyimpulkan bahwa surat I Timotius ditulis sekitar tahun 64 atau 65 Masehi. Penulis tidak menentukan waktu yang tepat karena dalam penulisan surat I Timotius, pengirimnya tidak menyertakan waktu penulisannya secara jelas. Dengan kata lain, penentuan waktu penulisan surat kiriman ini hanya berdasarkan perkiraan dari keterangan yang diperoleh ketika melakukan studi pustaka.

  • Alamat dan Tujuan Penulisan

I dan II Timotius dialamatkan kepada Timotius yang disebut dalam I Timotius 1:2 Gnesion teknon en pistei (anak yang sah di dalam iman) dan dalam II Timotius 1:2 Agapeton teknon (anak yang kekasih).[118] Timotius adalah pelayan di jemaat Kristen di Efesus (1:3). Saat itu Timotius masih muda jelas dari ucapan-ucapan Paulus dalam kedua surat ini dan ayat-ayat dalam Kisah Para Rasul 16. Jelas pula Paulus sangat mengasihinya.[119] Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius dengan tujuan memberi dorongan dan petunjuk kepada Timotius, seorang pemimpin yang muda. Dalam menyampaikan tujuannya, Paulus menegaskan hubungan mereka (1:2) dan memulai nasihatnya sebagai bapak dengan memperingatkan Timotius tentang guru-guru palsu(1:3-11) dan mendesak Timotius agar tetap berpegang teguh pada imannya kepada Kristus (1:12-20).[120]

Sebagaimana Musa menugaskan Yosua dan Tuhan Yesus menugaskan para rasul-Nya, demikianlah Paulus menugaskan Timotius. Demikian pula, sebagaimana Musa mengakhiri penugasannya dengan memberikan nasihat bagi seluruh Israel. dan Kristus bagi seluruh Gereja, Paulus mengakhiri penugasannya dengan sebuah berkat “Kasih karunia beserta kamu” (“kamu” di sini adalah jamak: 1Tim 6:21).[121]

Alasan Penulisan surat ini adalah untuk memelihara iman dan memastikan kesinambungan Gereja Yesus Kristus sebab penugasan resmi “Peliharalah harta yang indah. yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita” (2Tim 1:14) merupakan inti surat-surat penggembalaan. Di sini Timotius, bersama-sama dengan seluruh gereja, ditugaskan untuk memelihara “iman”. Sehingga pada bagian penutup surat diakhiri dengan sebuah himbauan yang sangat menyentuh, “Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu.” (1 Timotius 6:20).

Sidlow Baxter, dalam bukunya yang berjudul Menggali Isi Alkitab, mengatakan bahwa kedua surat itu (I dan II Timotius) adalah tugas dari Paulus kepada Timotius, yakni supaya Timotius memelihara sesuatu yang dipertaruhkan kepadanya (1 Tim 1:18; 6:20; 2 Tim 1:12, 14; 2:22). Intisari dari sesuatu yang dipertaruhkan kepada Timotius dinyatakan dalam 1 Tim 1:11, yaitu ajaran sehat yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan mahabahagia, seperti yang dipercayakan kepada Paulus sebelumnya[122].

Jadi Pelaksanaan tugas ini bukan hanya memelihara iman melalui perbuatan baik dan perilaku yang benar di rumah Allah saja, tetapi juga melalui penolakan terhadap iman yang salah atau palsu. Kebutuhan yang lebih mendesak dari surat yang pertama (I Timotius) tidak diragukan lagi terletak pada fakta bahwa banyak hal di Efesus memerlukan penyesuaian. Sekalipun demikian, Paulus yang bermaksud memberikan nasihat kepada anak-anaknya di dalam iman, berketetapan untuk menasihati orang lain juga pada saat yang sama.

  • Konteks Teks

Pada bagian ini, penulis akan menguraikan korelasi kitab I Timotius 4:16 dengan kitab-kitab yang lain. Dalam hal ini penulis menganalisa dari dua pola pikiran yaitu konteks jauh dan konteks dekat.

  • Konteks Jauh

Konteks jauh Surat I Timotius 4:16 berbicara tentang nasihat yang Paulus berikan kepada semua orang, khususnya kepada guru-guru pendidikan agama kristen yang terpanggil untuk melayani Tuhan dalam hal mengajarkan kebenaran agar mereka melakukan tugas dan tanggung jawab besar yang Tuhan berikan kepada mereka sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Dalam pelayanan, seseorang harus mengawasi dirinya sendiri dan ajarannya. Kesemuanya itu harus dilakukannya dalam ketekunan. Singkatnya, harus memperhatikan semua aspek di dalam kehidupannya. Akibat yang ditimbulkan dari semua ini adalah “engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”. Hal ini berarti melalui karya pelayanan soorang guru dan melalui ketekunannya di dalam melakukan hal-hal di atas tadi, Allah bekerja untuk menyelamatkan orang-orang yang mendengarkannya, dan juga dirinya sendiri.

Sebagai pelayan Tuhan, seorang guru harus sungguh-sungguh memperhatikan hidupnya, mengusahakan hal-hal yang sempurna bagi Allah dalam ketekunan. Semua ini bertujuan tidak hanya agar orang tidak menganggap rendah dirinya karena umurnya, tetapi terutama demi terlaksananya panggilan Allah bagi dirinya. Melayani Tuhan bukan hanya berarti menyisihkan sebagian waktu yang dikhususkan untuk Tuhan, tetapi, seperti yang pernah diajarkan rasul Paulus kepada jemaat di Roma, mempersembahkan seluruh tubuh atau hidup (Rom 12:1).

Ketekunan sangat diperlukan di dalam mewujudkan semua hal tadi, yakni kehidupan sebagai pelayan-pelayan-Nya. Istilah  “Bertekunlah” termasuk istilah inti yang dipakai untuk melukiskan ketabahan seorang Kristen. Di bagian firman Tuhan lainnya, ketekunan juga sering disebut dengan istilah kesetiaan dan dibahas secara positif maupun negatif. Secara positif berarti berbicara mengenai orang-orang yang bertekun sedangkan secara negatif berarti berbicara menegnai orang-orang yang tidak tekun atau setia. Dalam kitab Galatia 3:10 mengatakan bahwa orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat akan dikutuk, dan surat kepada orang Ibrani 8:9 juga mengatakan bahwa orang-orang yang tidak setia kepada perjanjian Tuhan akan ditolak oleh Tuhan.Sedangkan dalam Yakobus 1:25 dikatakan bahwa setiap orang yang bertekun dalam merenungkan firman Tuhan dan melakukannya akan berbahagia oleh perbuatannya seendiri. Kisah Para Rasul 14:22 juga memberi pengertian bahwa ketekunan dalam iman sangat diperlukan ketika menghadapi sengsara yang dialami oleh orang Kristen untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Istilah ketekunan atau kesetiaan yang dibahas dalam bagian firman Tuhan di atas, pada dasarnya yang dimaksudkan sama dengan istilah “tinggallah” dalamYohanes 15.

Dampak dari ketekunan seorang pelayan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius, baik dalam hal mengawasi diri maupun ajaran adalah menyelamatkan dirinya dan orang yang mendengarkannya. Istilah Menyelamatkan yang dipakai di sini memiliki pengertian yang sama dengan Filipi 2:12, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu.”[123] Kerjakan keselamatan dalam bagian firman Tuhan ini memberi pengertian bahwa Paulus mengajak jemaat Filipi untuk mengerjakan keselamatan yang telah diterima. Bukan bekerja dan berbuat baik agar mendapat keselamatan, melainkan mengerjakan (bhs. Inggris: work out), menggarap apa yang sudah kita terima. Kita harus mengekspresikan keselamatan yang telah kita terima itu dalam perbuatan baik. Jadi keselamatan yang dimaksudkan pada bagian ini adalah pembebasan Gereja hingga mencapai kedewasaan Kristen.

  • Konteks Dekat

Konteks dekat I Timotius 4:16 berbicara tentang nasihat yang Paulus berikan kepada Timotius di mana isi nasihat itu mengingatkan Timotius untuk tekun memperhatikan semua aspek di dalam hidupnya serta dampak yang dihasilkan dari ketekunan tersebut. Paulus merasa hal ini sangat penting karena Sejak gereja mula-mula terbentuk, umat Allah diperhadapkan dengan pengajar-pengajar sesat, sebagaimana dihadapi oleh Timotius dalam pelayanannya di Jemaat Efesus. Paulus  memperingatkan Timotius agar berhati-hati dalam mengambil sikap terhadap hal tersebut (1 Tim. 4:6).

Paulus memberitahukan kepada Timotius mengenai ciri-ciri dari para pengajar sesat dan ajarannya (4:1-3). Pengaruh ajaran mereka pada masa itu membuat orang-orang menjauhkan diri dari makanan tertentu, kewajiban selibat, dan mendengarkan cerita-cerita yang tidak berasal dari Allah. Lalu Paulus menegaskan apa yang benar menurut firman Tuhan (1 Tim 4:4-5,9) dan menasihati Timotius agar memagari dirinya dan jemaat Efesus dengan ajaran yang benar (4:6), rajin beribadah dan melayani sesuai karunia (4:7-9,14), tetap berjuang dalam kebenaran Allah (4:10), bertekun dalam firman dan pengajaran (4:11, 13, 15-16), dan menjadi teladan (4:12).Paulus mengingatkan bahwa semua itu perlu dilakukan untuk menangkal pengajaran sesat dan adanya pengharapan yang dimiliki di dalam Allah yang hidup (4:10b).

Salah satu kesulitan Timotius adalah karena usianya yang masih muda. Namun, bukan berarti Timotius masih remaja. Sebab, Timotius sudah menjadi pembantu 15 tahun. Kata Yunani yang digunakan untuk “muda” adalah neotes”, yang digambarkan sebagai usia untuk masuk militer hingga berumur 40 tahun. Namun, gereja pada umumnya menghendaki agar pemegang jabatan adalah orang-orang yang sudah matang. Kanon Rasuli mengatakan bahwa seseorang tidak boleh menjadi penilik jemaat sebelum umurnya lebih dari 50 tahun karena dengan itu ia telah melewati kenakalan masa muda. Timotius jauh lebih muda bila dibandingkan dengan Paulus. Karena itu banyak orang akan memandangnya dengan sebelah mata.[124] Ketika Timotius dapat melakukan peran itu melalui karunia yang ia miliki, maka dia tidak akan dipandang rendah oleh siapapun; pemberitaannya akan didengarkan sehingga menyelamatkan semua orang yang mendengarkannya (4:16, bnd. 2 Tim. 3:15).

Guna mengatasi ajaran palsu yang mengancam kehidupan iman jemaat, Timotius diperintahkan untuk mengangkat pemimpin-pemimpin jemaat sebagai pengajar dan pemberi teladan iman bagi jemaat (pasal 3). Para pemimpin ini, yang terdiri atas penilik jemaat dan diaken ( pelayan meja), haruslah “tak bercacat” (ay. 2, 10), yaitu, perilaku atau reputasi mereka di mata masyarakat adalah tak bercela. Perilaku demikian dijabarkan Paulus dalam lima kriteria utama. Dalam karakter pribadi, pemimpin jemaat harus dewasa serta menguasai diri (2, 3, 8); dalam hubungan dengan keluarga, ia setia terhadap istri dan dapat mendisiplinkan anak-anaknya (2, 4, 5, 12); dalam relasi dengan orang lain, ia dapat dipercaya, peramah, dan suka memberi tumpangan (2, 3, 11); terhadap orang luar, reputasinya baik (7, 8); dan dalam hal iman, ia teguh memelihara kebenaran Injil (bnd. 1Tim 3:16; Rom 16:25-26; Kol 1:26,27), cakap mengajar, dan bukan orang yang baru bertobat (1Tim 3:2,6,9). Dari perikop ini jelas pula, bahwa tugas diaken bukan hanya melayani kebutuhan praktis anggota jemaat. Para diaken juga membantu gembala jemaat dalam pelayanan firman dan pemberitaan Injil (9, 13; lih. Kis 6:8-10; 8:5-7).

Penilik jemaat pada waktu itu adalah tuan rumah dari jemaat yang beribadah di rumahnya, dan karena itu menjadi pengawas/penilik atas pertemuan jemaat di sana (jabatan ini berkembang menjadi penatua seperti yang ada pada gereja masa kini). Namun, harus diingat, jabatan ini adalah jabatan yang diangkat atau dipilih. Rasul Paulus menasihatkan Timotius dan jemaat agar tugas ini tidak diberikan kepada sembarang orang. Memang melayani Tuhan adalah suatu panggilan terhormat dan juga indah (1Tim 3:1). Maka, harus ada syarat atau kriteria yang khusus untuk orang yang dipilih ke dalam pelayanan ini.

Pada bagian-bagian selanjutnya Paulus membahas tentang sikap dan kewajiban Timotius sebagai pemimpin jemaat. Jika para pengajar sesat di awal pasal empat menggunakan “tipu daya pendusta-pendusta,” maka Paulus memerintahkan Timotius menangkalnya “dengan penuh kemurnian” (1Tim 5:1).Paulus meminta Timotius agar tidak “keras terhadap orang yang tua, tetapi menegur dia sebagai bapa” (1Tim 5:1). Tugas Timotius sebagai pemimpin tidak boleh membuatnya mengesampingkan kewajiban untuk menghormati orang yang lebih tua. Kata “bapa” dan “ibu” yang digunakan di ayat 1Tim 5:1,2 menunjuk pada pengertian orang tua kandung; ia harus menghormati orang-orang yang lebih tua seperti kepada orang tua kandungnya. Bagi kebanyakan orang, rasanya sulit untuk melaksanakan kedua prinsip ini sekaligus. Namun, itu mutlak harus ditaati oleh seorang pelayan Kristen.

Paulus juga mengingatkan Timotius, dalam menegur orang-orang yang lebih muda, agar tetap menganggap mereka sebagai “saudaramu” dan “adikmu”. Anak kalimat “dengan penuh kemurnian” (1Tim 5:2), selain menunjuk pada semua kelompok orang yang ada dalam ayat 1-2, secara khusus juga menunjuk pada perlakuan terhadap para “perempuan muda” jemaatnya. Hubungan yang terjadi antara pria dan wanita di dalam lingkungan jemaat dan pelayanan harus dilandasi oleh kemurnian hati dan hidup di dalam Tuhan. Ketiadaan kemurnian seperti ini telah menyebabkan tercemarnya kesaksian jemaat karena masalah seksual.

Tuntunan yang diberikan Paulus kepada Timotius ini memberikan beberapa pengajaran penting tentang kehidupan berjemaat. Pertama, suatu jemaat/komunitas Kristen harus memperhatikan sesama saudara yang hidup berkekurangan (misalnya para janda). Harus ada kebijakan dan langkah yang jelas dan dapat dilaksanakan. Kedua, tidak teraturnya perhatian jemaat terhadap pelayanan diakonia seperti ini akan memberikan “alasan bagi lawan untuk memburuk-burukkan nama jemaat” (Ul 24:14). Ini akan berpengaruh pada kesaksian jemaat bagi orang-orang lain. Terakhir, Paulus menunjukkan bahwa mereka yang berkekurangan juga punya kontribusi bagi kehidupan jemaat sebagaimana yang lainnya. Walaupun mereka dibantu, mereka tetap punya peranan dalam kehidupan jemaat yang saling melayani (Ul 24:9). Bentuk dan kebutuhan pelayanan diakonia mungkin berbeda-beda menurut waktu, tempat, dan konteks sosial jemaat, namun dasarnya tetap sama, yakni kepedulian Allah terhadap semua orang yang terpinggirkan.

Jadi dalam konteks dekatnya I Timotius 4:16 yang berbicara mengenai tugas Timotius dalam menghadapi ajaran sesat juga dibahas dalam ayat bahkan pasal sebelum dan sesudahnya. Dalam pasal sebelumnya, Paulus menjelaskan kepada Timotius tentang ciri-ciri ajaran sesat dan pengajarannya serta bagaimana cara menangkal pengajaran sesat yang mempengaruhi iman jemaat Efesus pada saat itu. Dan dalam pasal sessudahnya Paulus menjelaskan kepada Timotius mengenai cara memimpin dan memelihara jemaat yang digembalakannya agar para pengajar sesat tidak mendapat celah untuk mempengaruhi iman jemaat. Hal ini berarti ayat bahkan pasal sebelum dan sesudahnya sangat berkaitan.

  • Garis Besar Teks
  • Integritas Guru PAK

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu

Bertekunlah dalam semuanya itu,

  • Ketekunan Guru PAK  menghasilkan keselamatan

Karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu

dan semua orang yang mendengar engkau.

  • Struktur Teks
Ayat 16: Awasilah  
   dirimu sendiri 
   dan 
  awasilah  
   ajaranmu. 
  Bertekunlah  
     
   dalam semuanya itu, 
karena dengan    
  berbuat demikian  
 engkau   
  akan menyelamatkan  
   dirimu 
   dan 
   semua orang 
    yang mendengar engkau.
  • Eksegese Teks

Pada bagian ini penulis menjelaskan tentang integritas guru Pendidikan Agama Kristen menurut I Timotius 4:16 melalui studi eksegese yang penulis bagi menjadi dua berdasarkan garis besar teks, yaitu integritas guru dan ketekunannya menghasilkan keselamatan. Bunyi firman Tuhan yang akan diletiti adalah sebagai berikut:

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”[125]

  • Integritas Guru PAK

Integritas guru PAK akan dikaji berdasarkan ayat 16a melalui studi eksegese, dan penjabarannya adalah sebagai berikut:

Ayatnya yang dieksegese pada poin satu ini adalah: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu,”

Teks Asli dan Terjemahan Interlinear

ἔπεχεσεαυτῳκαὶτῃδιδασκαλία
Awasilahdirimu sendiridan~pengajaran(mu),
ἐπίμενεαὐτοιϛ∙τουτο
bertekunlahdalam mereka;ini

Parsing/uraian

ἔπεχεKata kerja, orang ke-2 tunggal, presen aktif imperative, Awasilah!
σεαυτῳKata ganti refleksif orang ke-2, maskulin tunggal, datif, dirimu sendiri.
καὶKata penghubung, koordinatif, kopulatif, dan.
τῃKST, feminim tunggal, datif, ini; itu; -nya. Tanda (~) ini menunjukan bahwa kata Yunani yang bersangkutan tidak diterjemahkan.
διδασκαλίαKata benda, feminim tunggal, datif, pengajaran.
ἐπίμενεKata kerja, orang ke-2 tunggal, presen aktif imperative, tinggalah; tetaplah.
αὐτοιϛKata ganti personal, orang ke-3, neuter jamak, datif, diri; sendiri; itulah; bahkan; yang sama; ia.
τουτοKata ganti, demonstratif, neuter tunggal, akusatif, sepert ini; demikian; saja; maka; sesuai dengan; begitu saja; begitu.

Terjemahan Literatur

  • LAI, TB (Terjemahan Baru)

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu,

  • BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Awasilah dirimu dan awasilah juga pengajaranmu. Hendaklah engkau setia melakukan semuanya itu,

  • NIV (New International Version)

Watch your life and doctrine closely. Persevere in them,

  • BSD (Bahasa Indonesia yang Disederhanakan)

Jagalah hidupmu supaya jangan berbuat salah. Hati-hatilah atas apa yang kauajarkan kepada orang-orang. Jika engkau terus melakukan semua itu,

  • Terjemahan Bebas (Menurut Penulis)

Perhatikanlah cara hidup dan ajaranmu. Lakukanlah semua hal ini selama hidupmu secara terus-menerus.

Kata ἔπεχε (dibaca: epeche, dari kata dasar epecho) merupakan kata kerja bentuk orang ke-2 tunggal dengan presen aktif imperative yang berarti “awasilah”.[126] Modus Imperatif dipakai untuk memberikan perintah atau permintaan, dan mempertegas kemauan, serta menyatakan larangan. Subyek tidak menyatakan bahwa sesuatu sedang terjadi (Indikatif), atau mungkin terjadi (Subjungtif), atau dapat terjadi (optatif), tetapi menyatakan bahwa ia menginginkan atau berniat agar sesuatu terjadi. Modus ini menyatakan tindakan yang akan terwujud melalui penggunaan kehendak seseorang untuk mempengaruhi kehendak orang lain. Kata ini tergolong dalam bentuk kata orang ke-2 tunggal karena dalam Bahasa Yunani bentuk orang ke-2 tunggal selalu dipakai ketika berkata-kata kepada satu orang. Pada bagian ini, sangat jelas bahwa pengirim surat, yakni Paulus sedang berkata-kata kepada satu orang yaitu Timotius, anak rohanimnya.

Kata epeche berarti “awasilah”, dipakai juga oleh Lembaga Alkitab Indonesia, khususnya dalam Terjemahan Baru, sedangkan dalam terjemahan bahasa Indonesia yang disederhanakan (BSD) menggunakan kata “jagalah” dan dalam terjemahan bahasa asing lainnya, yakni NIV menggunakan kata watch. Kata watch juga dipakai dalam KJV untuk menerjemahkan arti dari kata νηφε (dibaca: nephe) dalam 2 Tim. 4:5, yang dalam terjemahan LAI, TB berarti “kuasailah”. Dalam bahasa Yunani, kata nepho bisa berarti abstain from wine (= berpantang terhadap/dari anggur) atau keep sober (= tetap sadar/tidak mabuk).[127] Sungguh unik, jika kata “kuasailah” di dalam bahasa Yunani dikaitkan dengan kata “awasilah” dalam terjemahan bahasa asing lainnya seperti pada NIV dan KJV. NIV menerjemahkan kata epeche berarti awasilah dengan kata watch, dan KJV menerjemahkan kata nephe berarti kuasailah dengan kata yang sama, yakni watch. Dengan demikian, kata “awasilah” dan “kuasailah” sangatlah berkaitan atau memiliki pengertian yang sama. Hal ini pun dapat dibuktikan jika dipahami berdasarkan konsep bahasa Indonesia, yakni  meneliti dan membandingkan arti kata-kata tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Mengawasi atau menguasai diri harus dilakukan seperti seorang atlet yang keinginan, selerah makanan dan keberaniannya terkendali dengan baik. Selain itu memiliki mental yang bebas dari segala kegelisahan atau ketakutan. Hal yang sama juga dikatakan oleh Tom Yeakley, dalam tulisannya tentang Watak Pekerja Kristus, dan lebih diperjelas bahwa “penguasaan diri dalam bahasa Yunani “enkrateia” berarti mengendalikan diri; menjauhkan diri, mendisiplinkan diri sendiri, menguasai diri di dalam segala hal seperti seorang atlet”.[128] Oleh karena itu seluruh pancaindera perlu dikuasai sepenuhnya dan berani melihat semua fakta, serta mempertimbangkan dengan hati-hati. Sebab, orang Kristen tidak boleh menjadi korban segala kegilaan; kestabilan adalah jati dirinya di tengah dunia yang tidak seimbang dan acapkali gila.[129]

Kata σεαυτῳ (dibaca: seautō, dari kata dasar seautou) merupakan kata ganti reflektif orang kedua maskulin tunggal dan kasus akusatif yang berarti “dirimu sendiri”.[130] Kata ini menunjuk pada diri sendiri tetapi ditujukan kepada pribadi yang menjadi objek seperti yang dipakai oleh Paulus dalam Roma 14:22 “biar itu tetap menjadi urusan antara ‘kamu’ dengan Allah”. Kata ini merupakan ketegasan dari Paulus saat menasihati Timotius yang ditugaskannya di Efesus dalam menghadapi pengajar-pengajar sesat, agar Timotius dapat memberitakan pengajaran yang benar dari dirinya sendiri.

Arti dari kata “dirimu sendiri” ini ditujukan kepada Timotius agar setiap ajarannya dapat dipertanggung jawabkan melalui kehidupannya sehingga orang-orang yang sudah mengikuti ajaran sesat yang ada di Efesus, dapat menerima ajaran benar dari Timotius dan orang yang masih tetap percaya kepada injil Kristus semakin diperkuat imannya kepada Yesus Kristus. Pertanggung jawaban atas tugas yang diberikan kepada Timotius ini tidak hanya di hadapan orang-orang yang dilayaninya, tetapi juga dan terutama di hadapan Tuhan.

Kata “dirimu sendiri” juga menjadi bahan refleksi bagi pemimpin atau pengajar Pendidikan Agama Kristen, untuk dilakukan dalam hidupnya, karena apa yang dikeluarkan dari dalam dirinya bagi orang lain harus dipertanggung jawabkan. Arti dari kata “dirimu sendiri” ini ditujukan bagi setiap pribadi guru PAK, agar mempertanggung jawabkan apa yang diberikan dari diri sendiri kepada siswa dan dapat mempertanggung jawabkan itu dengan Allah. Karena, sebagai guru bukan hanya sekedar mengajar siswa saja tetapi harus menunjukkan apa yang diajarkan melalui dirinya sendiri atas apa yang diberikan kepada siswa.

Kata διδασκαλία (dibaca: didaskalia) merupakan kata benda feminim tunggal dengan modus datif yang artinya “ajaran atau pengajaran”.[131] Kata ini dipakai untuk pribadi sebagai pengajar agar dalam pemberitaan atau ajarannya, dapat menyampaikannya dengan benar atau sehat dan tidak bercela (bnd. Tit. 2:7-8).

Mengajar merupakan suatu karunia yang diberikan oleh Tuhan, sekaligus sebagai perintah yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Orang yang mengajar disebut sebagai pengajar dan apa yang diberikan oleh pengajar itulah yang disebut sebagai ajaran atau pengajaran. Pengajaran yang Paulus berikan kepada Timotius ini menegaskan bahwa Timotius juga harus memberi pengajaran yang benar, yaitu pengajaran yang sehat dan tidak bercela bagi orang-orang yang sudah tidak hidup menurut firman Tuhan dan mengikuti ajaran sesat. Artinya Timotius harus melakukan tugas yang diberikan oleh Paulus dengan benar sehingga orang-orang kembali hidup benar sesuai kehendak Tuhan dan para pengajar sesat tidak mendapat cela untuk mempengaruhi orang yang berpegang teguh pada injil kebenaran Allah, yang menjadi kekuatan Allah untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya.

Secara khusus dalam ayat ini, Timotius diingatkan untuk menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan moral dan iman bagi orang-orang yang dipimpin dan ajarkan, hal ini memang harus dilakukan karena “tugas mengajar merupakan kegiatan untuk melepaskan orang dari ilah zaman yang membutakan kemampuan rohani mereka.”[132]  Paulus juga menasihati Timotius agar memberitakan ajaran yang benar, yaitu ia harus memberitakan injil menurut firman Tuhan dan berkelakuan baik sehingga tidak dipandang rendah karena usianya yang masih muda.

Paulus juga telah berpesan kepada Timotius supaya menjadi teladan dalam perkataan, maupun tingkah laku. Artinya bahwa setiap kelakuannya harus sesuai dengan ajarannya. Paulus sendiri pun telah menjadi teladan bagi Timotius “sebab kamu masih ingat, saudara-saudara akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami beritakan injil Allah kepada kamu. Kamu adalah saksi, demikian juga Alah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku, yang percaya” (I Tesalonika 2:9-10). Itulah teladan Paulus bagi Timotius dan ia meminta Timotius menjadi teladan yang sama bagi orang lain dalam pengajarannya, supaya orang yang tidak mengasihi kebenaran dan yang suka menyalahkannya tidak dapat mengatakan hal-hal buruk mengenai Timotius. Lebih dari itu dirinya sendiri dan orang-orang yang mendengarkannya diselamatkan.

Kata ini lebih menjelaskan kepada pengajar secara umum, bukan saja kepada guru PAK yang dipanggil secara khusus untuk mengajar. Namun pada teks ini Paulus menggunakan kata didaskalia untuk menegaskan kepada orang yang benar-benar terpanggil secara khusus untuk menjadi guru PAK. Oleh sebab itu bagi guru PAK diperlukan hubungan yang intim dengan Tuhan sehingga dalam pengajarannya tidak menyimpang dari kebenaran.

Guru PAK diperintahkan untuk menjadi pengajar yang memberikan ajaran yang benar, yaitu pengajaran yang sehat dan tidak bercela agar siswa dapat bertumbuh dalam kerohanian untuk masa depannya dan hidup benar sesuai ajaran yang benar. Karena itu, ajaran yang diberikan oleh guru PAK harus berdasar pada Alkitab. Artinya Alkitab harus dijadikan sebagai referensi utama pembelajaran kehidupan manusia sehingga setiap orang Kristen semakin dewasa dalam kristus. Sebab,   I Putu Ayub Darmawan mengatakan:

“Alkitab memang tampak sebagai sebuah kitab yang kuno. Namun, harus disadari bahwa setiap kali menggali isinya, kita akan memperoleh pemahaman yang baru. Alkitab memiliki materi pembelajaran yang tidak terhingga banyaknya. Adapun topik-topik penting yang dapat diajarkan dari Alkitab adalah hukum Taurat (Kel. 24:12); peraturan dan ketetapan-ketetapan Tuhan (Ul. 4:1, 5, 14; 6:1, Mzm. 119:12, 26, 64, 68, 108, 124, 171); nyanyian-nyanyian (Ul. 31:19, 2, 2 Sam. 1:18, Mzm. 60:1); jalan baik dan lurus (1 Sam. 12:23); hukum beribadah dan cara berbakti kepada Tuhan (2 Raj. 17:27-28, Luk. 11:1); jalan Tuhan (Mzm. 25:9, 15; 51); ketaatan kepada Tuhan (Mzm. 45:5); hikmat dan nasihat (Mzm. 105:22, Rm. 15:14, Ef. 6:4); kebijaksanaan dan pengetahuan (Mzm. 119:66); iman (Ams. 22:19); perintah Tuhan (Mat. 28:20).”[133]

Topik-topik tersebut yang dipaparkan hanya sebagian kecil dari isi Alkitab. Dengan demikian tugas mengajar merupakan pekerjaan penting dan sangat mulia. Hal ini diperlihatkan Paulus dengan adanya karunia mengajar yang diberikan Tuhan bagi guru PAK, yang dipanggil sebagai pengajar. Setiap ajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, haruslah terlebih dahulu dilakukan dalam hidupnya, sehingga siswa akan melihat contoh dari kehidupan guru yang memperlihatkan hal-hal yang benar.

Kata ἐπίμενε (dibaca: epimene, dari kata dasar epimeno) merupakan kata kerja bentuk orang ke-2 tunggal dengan present aktif imperative yang berarti“tinggalah; tetaplah”.[134] Namun pada bagian firman Tuhan ini, kata ini diterjemahkan dengan istilah bertekunlah”. Kata bertekun pada dasarnya memiliki pengertian yang sama dengan kata tinggal dan tetap, tergantung konteks teks atau dalam hal apa pembicara sedang berbicara. Kata ini juga sering digantikan dengan kata setia namun semuanya itu merujuk pada satu makna, yaitu tidak berpindah, tidak berubah atau melakukan suatu pekerjaan secara terus menerus sampai akhir hidup. Istilah yang lebih rohani untuk menjelaskan arti kata ini adalah “taat sampai mati”.

Bentuk kata yang digunakan pada teks asli adalah modus aktif imperative, yaitu untuk memberikan perintah atau permintaan, dan mempertegas kemauan, serta menyatakan larangan. Di sini Paulus sedang menasihati dengan tegas agar Timotius tetap melakukan semua yang telah disampaikan oleh Paulus kepadanya, baik cara hidup maupun perkataannya secara terus menerus selama hidupnya. Paulus menyadari bahwa ketekunan sangat penting bagi Timotius karena peristiwa yang dihadapi oleh Timotius di Efesus bukanlah hal mudah di usianya yang muda itu. Bukan hanya masalah tentang mampu atau tidaknya Timotius dalam melakukan tugasnya, namun lebih kepada tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan pengajar kebenaran sejati di hadapan Tuhan.

Hal yang demikian, yakni pentingnya ketekunan pun disampaikan oleh penulis kitab Ibrani dan dikutip oleh Jerry Bridges, dalam bukunya yang berjudul Mengejar Kekudusan. Jerry mengatakan bahwa:

“Penulis Ibrani berkata, “karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengililingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibrani 12:1). Ia mengajak kita untuk menanggalkan semua dosa serta mengajak kita untuk berlomba dengan tekun. Nyata benar bahwa ia mengharapkan kita agar kita memikul tanggung jawab kita untuk turut serta dalam perlombaan Kristiani.[135]

Jadi ketekunan merupakan suatu sikap yang sangat penting karena dengan ketekunan dalam melakukan suatu hal membuat seseorang dapat bertahan untuk melakukannya, bahkan akan memberi hasil yang maksimal dan pastinya berdampak baik bagi diri sendiri dan orang-orang yang di sekitar pun turut merasakannya. Hanya ketekunan yang membuat seseorang dapat bertanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan kepada dirinya.

Kata αὐτοιϛ∙ (dibaca: autois, dari kata dasar autos) merupakan kata ganti personal bentuk orang ke-3 neuter jamak dengan kasus datif yang berarti“diri; sendiri; itulah; bahkan; yang sama; ia”. Namun karena kata ini dalam kategori jamak orang ke-3 maka lebih tepatnya diterjemahkan menjadi “mereka”.[136] Kata mereka lebih tepat digunakan sebagai kata ganti untuk menyatakan pribadi (manusia), sedangkan di sini kata autois dugunakan sebagai kata ganti untuk menyatakan hal-hal yang harus dilakukan oleh Timotius sehingga lebih tepat diterjemahkan oleh LAI, TB dengan kata yang lebih umum yaitu, “semuanya”.

Kata “semuanya” di sini menunjuk kepada kata-kata yang berlaku sebagai objek pada kalimat sebelumnya, yakni “dirimu sendiri dan ajaranmu”. Dengan kata lain, kalimat yang berbunyi “bertekunlah dalam semuanya” berarti Paulus ingin menegaskan kepada Timotius agar baertekun dalam memperhatikan diri sendiri dan pengajarannya. Kata “dirimu sendiri dan ajaranmu” mewakili apa yang telah disampaikan Paulus pada ayat-ayat sebelumnya.  Jadi kata “semua” yang dipakai oleh Paulus pada teks ini mewakili semua yang telah dikatakannya sebelumnya, yakni dari ayat 6 hingga ayat 15 sehingga setelah kata “semua”,  diikuti dengan kata τουτο (dibaca: touto) merupakan kata ganti demonstratif kategori neuter tunggal dengan kasus akusatif yang berarti“ini”.[137] Jelaslah bagi pembaca bahwa kalimat “semua ini” atau “semua itu (oleh LAI, TB)” menggambarkan poin demi poin dalam nasihat-nasihat Paulus kepada Timotius yang disampaikan dalam perikop ini, yakni “Tugas Timotius dalam menghadapi pengajar sesat” (I Timotius Ps. 4) agar dilakukannya dengan tekun dalam pelayanannya sebagai pemimpin jemaat dan pengajar kebenaran untuk menghadapi pengajar sesat yang mencoba mempengaruhi iman jemaat Efesus pada zaman itu.

Mengawasi diri dan ajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan oleh seorang pengajar, terlebih guru PAK. Kedua hal ini harus selalu melekat dalam diri guru PAK karena mengajarkan kebenaran tidak bisa hanya dengan kata-kata, tetapi harus disertai tindakan yang tegas sesuai ajaran agar menjadi contoh yang hidup. Bahkan melakukan kebenaran lebih cepat diterima oleh orang lain daripada mengajarkan tanpa melakukan, hal itu hanya akan menjadi cemoohan bagi orang lain sehingga terkesannya orang yang kuat imannya bukan menguatkan iman orang lain, malah semakin melemahkan atau menjatuhkan.

Dengan demikian, susunan kata yang dipakai oleh Paulus dalam teks ini sangat tepat, yakni “awasilah diri sendiri dan ajaran”. Hal ini berarti sebelum seorang pengajar mengajarkan kebenaran kepada orang lain, haruslah terlebih dahulu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang lain tidak hanya mendengar tetapi juga melihat apa yang diajarkan sehingga menjadi kesaksian dan keselamatan bagi orang lain. Namun kesemuanya itu harus dilakukan dengan ketekunan karena hanya dengan ketekunanlah seseorang dapat bertahan melakukan segala tugas dan tanggung jawabnya hingga akhir hidup, sehingga memberi hasil yang maksimal.

  • Ketekunan Guru PAK Menghasilkan Keselamatan

Ketekunan guru PAK menghasilkan keselamatan akan dikaji berdasarkan ayat 16b-c melalui studi eksegese, dan penjabarannya adalah sebagai berikut:

Ayatnya yang dieksegese pada poin dua ini adalah: “karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

Teks Asli dan Terjemahan Interlinear

γὰρποιωνκαὶσεαυτὸν
Karena(dengan) melakukan{bukan saja}dirimu
σώσειϛκαὶτοὺϛἀκούοτάϛσου
engkau akan menyelamatkan+{tetapi juga}(orang2 yang)mendengarengkau.

Parsing/uraian

γὰρ   ποιων   καὶ σεαυτὸν σώσειϛ   καὶ τοὺϛ   ἀκούοτάϛ     σουKata penghubung, subordinatif, causal, sebab; apa; mengapa; pasti; lalu; maka; karena itu; tetapi; memang; lihatlah. Kata kerja, presen aktif participle, maskulin jamak, nominative, melakukan Kata penghubung, koordinatif, korelasif. Bukan saja. Kata ganti refleksif orang ke-2, maskulin tunggal, akusatif. Dirimu. Kata kerja, orang ke-2 tanggal, future aktif indikatif. Menyelamatkan; menyembuhkan. Kata penghubung, koordinatif, korelatif. Tetapi juga. KST, maskulin jamak, akusatif. Ini; itu; -nya; ia; yang lain; siapa saja; apa saja. Kata kerja, presen aktif participle, maskulin jamak, akusatif. Mendengar; mendengarkan; mendengar (dalam pemeriksaan perkara); mengetahui; menaati; mengerti. Kata ganti personal, orang ke-2 tunggal, genetif. engkau; mu; kamu

Terjemahan Literatur

  • LAI, TB (Terjemahan Baru)

Karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

  • BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Sebab dengan demikian engkau akan menyelamatkan baik dirimu sendiri maupun orang-orang yang mendengarmu.

  • NIV (New International Version)

Because if you do, you will save both yourself and your hearers.

  • BSD (Bahasa Indonesia yang Disederhanakan)

Jika engkau terus melakukan semua itu, Allah akan menyelamatkan engkau dan memberikan hidup yang baru kepadamu. Dan bukan hanya engkau; orang-orang yang mendengar ajaranmu juga akan diselamatkan.

  • Terjemahan Bebas (Menurut Penulis)

Sebab jika engkau melakukan semua itu, engkau akan mengerjakan keselamatan dari Allah dalam hidupmu dan orang-orang yang mendengar ajaranmupun diselamatkan.

Kata γὰρ (dibaca: gar) merupakan kata penghubung subordinatif dengan kasus causal yang berarti“karena”.[138] Kata ini menggambarkan hubungkan kalimat sebelum dan sesudahnya tetapi bersifat sebab-akibat. Kalimat sebelumnya sebagai penyebab dan kalimat sesudahnya sebagi akibat. Dengan kata lain, kalimat sesudah merupakan hasil yang ditimbulkan dari kalimat sebelumnya.

Kata ποιων (dibaca: poion, dari kata dasar poieo) merupakan kata kerja dengan modus presen aktif participle kategori maskulin jamak dengan kasus nominatif yang berarti “melakukan; membuat; mencipta; menyebabkan; menghasilkan; bertindak; berlaku; berbuat”. Dalam terjemahan interlinear, kata ini didahului dengan kata “dengan” namun diberi tanda dalam kurung, merupakan tambahan dari penerjemah untuk memperjelas terjemahan interlinear itu.[139] Modus Partisip adalah kata sifat yang berasal dari kata kerja (Verbal Adjectif), menggambarkan partisipasi dalam tindakan yang dilakukan oleh kata kerja. Dengan demikian kalimat “dengan melakukan” atau “dengan berbuat demikian (oleh LAI) menunjuk kepada kata kerja sebelumnya, yakni “bertekun”. Dalam konteks ini Paulus ingin mengatakan kepada Timotius bahwa dengan ketekunan dalam memperhatikan semua aspek kehidupan, akan memberi dampak.

Kata καὶ (dibaca: kai) merupakan kata penghubung koordinatif dengan kasus korelasif yang berarti “bukan saja”. Dalam terjemahan interlinear, kedua kata ini dalam tanda kurawal. Penggunaan tanda kurawal untuk menjelaskan hubungan erat kedua kata yang tak dapat dipisahkan. Kata σεαυτὸν (dibaca: seauton dari kata dasar seautou) merupakan kata ganti refleksif orang ke-2 kategori maskulin tunggal dengan kasus akusatif yang berarti “dirimu; dirimu sendiri”.[140] Kalimat “bukan saja dirimu” ini berarti bahwa tidak hanya diri (Timotius) yang akan menerima dampak dari ketekunannya tetapi juga ada pihak lain yang turut merasakannya.

Kata σώσειϛ (dibaca: soseis dari kata dasar sozo) merupakan kata kerja bentuk orang ke-2 tunggal dengan tense future aktif indikatif yang berarti “engkau menyelamatkan; engkau menyembuhkan”.[141] Tense future berarti suatu perbuatan yang belum terjadi, dan masih akan dilakukan oleh subyeknya untuk menyatakan kegiatan/tindakan yang berlangsung terus menerus pada masa akan datang. Modus Indikatif adalah modus yang menegaskan aktualitas, kepastian, atau realitas tindakan dari sudut pandang pembicara. Modus ini terdiri dari pernyataan fakta, tetapi juga dapat digunakan dalam kalimat pertanyaan ataupun negatif. Voice Aktif bermakna Subyek sendiri yang melakukan tindakan, dalam hal ini, Subyek menyebabkan, menghasilkan dan mengadakan tindakan itu.

Sangat jelaslah bahwa keselamatan itu pasti akan terjadi dan disebabkan oleh suatu tindakan yang dilakukan oleh pribadi sebagai subjek. Berdasarkan struktur teks (lih. Butir 3.4), pada bagian ini Timotius berlaku sebagai subjek, sehingga tidak salah jika LAI, TB mengartikan kalimat ini dengan “engkau akan menyelamatkan”. Artinya bahwa jika Timotius bertekun dalam memperhatikan semua aspek hidupnya, baik cara hidup mau pun ajarannya, maka dampak yang pasti terjadi adalah keselamatan. Namun yang akan menjadi pertanyaan adalah apakah Timotius sendiri belum diselamatkan? Sehingga Paulus menasihatinya dengan tegas bahwa dengan bertekun, dirinya (Timotius) bersama dengan orang-orang yang akan mendengarkannya diselamatkan.

Ketekunan mendatangkan keselamatan sering disalahpahami. Karena itu demi untuk menempatkan doktrin ketekunan di posisi yang tepat, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang tidak tepat. Ketekunan bukan berarti setiap orang yang mengaku beriman di dalam Kristus dan menerima-Nya sebagai orang percaya di dalam persekutuan orang kudus, dijamin di dalam kekekalan dan mendapatkan jaminan keselamatan yang kekal.[142]

Tuhan sendiri memperingatkan pengikut-Nya ketika Ia berada di dunia ini dengan mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, “jikaulah kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengerti kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32). Ini berarti Yesus telah menetapkan syarat yang akan membedakan mana murid-murid-Nya yang sejati dan kriteria itu terus berlaku bagi setiap perkataan Yesus.

Di tempat lain juga ditemukan Yesus berkata, “Ia yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat. 10:22). Kriteria ini juga diterapkan di dalam surat Ibrani, yaitu ketika penulisnya berkata, “karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (Ibr. 3:14). Pelajaran yang sama juga diberikan oleh Yesus di dalam pengajaran Yohanes 15 tentang perumpamaan pokok anggur dan rantin-rantingnya, “Barang siapa yang tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering.” (Yoh. 15:6). Jadi, ujian yang paling sulit bagi iman yang sejati adalah ketekunan sampai pada akhirnya, tinggal di dalam Kristus, dan terus menerus berada di dalam firman-Nya.

Penekanan ayat-ayat Alkitab ini memberikan makna murtad, yaitu mereka yang memberikan tanda-tanda iman di dalam Kristus dan ketaatan kepada-Nya secara penampilan luar, untuk satu waktu tertentu seolah memberikan kesaksian dari suatu pengakuan yang baik dan menunjukkan keseriusan bekerja bagi Kristus dan kerajaan-Nya, tetapi kemudian kehilangan semua minat atau perhatian itu dan menjadi acuh tak acuh, bahkan sampai menjadi kasar dan dengan keras melawan Kristus dan kerajaan-Nya. Dalam lingkup yang lebih luas, perlu juga memperhatikan bahasa yang dipakai oleh penulis Ibrani, ketika ia berkata tentang mereka “yang telah diterangi hatinya dan mengecap karunia rohani, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah, dan karunia-karunia dunia yang akan datang.” (Ibr. 6:4-5). Hal ini dapat memicu untuk berpikir bahwa istilah-istilah di atas dapat diterapkan pada mereka yang bisa murtad.

Fakta kemurtadan iman yang sama, dan pengalaman-pengalaman yang terkait, dibicarakan Petrus di dalam 2 Petrus 2:20-22. Di dalam ayat ini petrus sedang berbicara tentang orang-orang yang telah mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus, yang telah mengenal jalan kebenaran, dan yang telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi kemudian terlibat lagi di dalamnya dan berpaling dari perintah-perintah kudus yang diberikan kepada mereka.

Dengan demikian, Alkitab sendiri memberi kesimpulan bahwa sangat mungkin seseorang bisa mengalami pengalaman rohani, diperbaharui, dibentuk dan ditakjubkan dengan kuasa kebenaran Injil, namun tetap bukanlah merupakan orang-orang yang turut ambil bagian di dalam Kristus dan mewarisi hidup kekal. Pemahaman inilah yang menuntun kepada pengertian yang lebih baik tentang ketepatan dan kecocokan mengenai konsep ketekunan menghasilkan keselamatan.

Doktrin ketekunan adalah doktrin yang menekankan bagaimana orang-orang percaya bertekun.[143] Maksudnya, mereka yang telah dipersatukan dengan Kristus melalui panggilan Allah Bapa dan tinggalnya Roh Kudus di dalam diri orang itu, sehingga menjadikannya dapat bertekun sampai pada akhirnya. Sama sekali bukan berarti mereka diselamatkan tanpa mempedulikan kesinambungan dan ketekunan mereka, tetapi mereka dijamin dapat bertekun. Akibatnya, jaminan bahwa keselamatan itu bagi mereka, tidak dapat dilepaskan dari ketekunan mereka.

Pengertian inilah yang diungkapkan oleh Petrus ketiaka ia menulis tentang orang-orang yang memiliki hidup yang penuh pengharapan, “untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga.” Mereka itu “dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman, sementara menantikan keselamatan yang telah tersedia.”(1 Pet. 1:4-5). Ada tiga hal yang perlu dicatat di sini: (1) mereka dipelihara; (2) mereka dipelihara di dalam iman; (3) mereka dipelihara sampai ke kesempurnaan terakhir, yaitu keselamatan yang akan dinyatakan pada zaman akhir.[144] Pemeliharaan ini bukan hanya untuk waktu yang singkat, tetapi sampai akhir zaman, dan bukan dipelihara terlepas dari iman, tetapi justru melalui iman.

Bagian firman Tuhan yang dijekaskan di atas memberi pandangan mengenai hubungan antara ketekunan dan keselamatan. Hubungannya adalah ketekunan menghasilkan keselamatan dan wujud keselamatan berintikan ketekunan. Ketekunan yang dimaksudkan adalah taat melakukan kehendak Tuhan sampai akhir hidup. Namun jangan salah sangka, manusia selamat bukan oleh ketaatan. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah tanpa syarat. Persyaratan yang Allah tuntut sudah dibayar oleh ketaatan hidup dan kematian Kristus. Maka perolehan keselamatan tidak melibatkan andil apa pun di pihak manusia. Manusia hanya memercayai janji dan undangan Injil serta memercayakan hidup kepada Yesus, dan diselamatkan. Dengan demikian akibat ketidaktaatan Adam yang diubah oleh ketaatan Yesus tidak hanya menghasilkan keselamatan, tetapi ketaatan Yesus pun menghasilkan kehidupan yang tumbuh dalam ketaatan bagi orang percaya.

Jadi ketekunan mengahsilkan keselamatan yang dimaksud Paulus adalah mengerjakan keselamatan dengan tekun atau taat melakukan kehendak Tuhan sampai mati setelah menerima keselamatan dari Tuhan seperti yang disampaikannya kepada jemaat di Filipi (Fil. 2:12-16). Hasilnya adalah kehidupan yang tidak beraib dan bernoda, bahkan menjadi kesaksian bagaikan bintang yang bersinar menerangi dunia yang berdosa.

Kata καὶ (dibaca: kai) merupakan kata penghubung bentuk koordinatif dengan kasus korelatif yang berarti “tetapi juga”. Dalam terjemahan interlinear, kedua kata ini juga dalam tanda kurawal, tak dapat dipisahkan dan memiliki tanda (+) karena kedua kata ini termasuk kelompok kedua yang menggunakan tanda kurawal.[145] Penggunaan kalimat ini oleh penulis dengan tujuan menghubungkan kalimat yang berlaku sebagai pihak lain yang turut merasakan dampak dari tindakan yang menjadi penyebab. Dalam konteks ini Paulus ingin mengungkapkan bahwa bukan hanya Timotius sendiri yang merasakan dampak dari ketekunannya.

Kata τοὺϛ (dibaca: tous, dari kata dasar ho untuk maskulin, he untuk feminism, dan to untuk neuter) merupakan artikel/Kata Sandang Tertentu (KST) kategori maskulin jamak dengan kasus akusatif yang berarti “yang lain; siapa saja; apa saja”. Dalam terjemahan interlinear, kata ini berarti “orang-orang yang”, dan diberi tanda dalam kurung, merupakan tambahan dari penerjemah. Penambahan demikian bertujuan memperjelas terjemahan interlinear itu.[146] Kalimat “orang-orang yang”, yang ditambahkan oleh penerjemah dalam terjemahan interlinear tidak salah karena jika mengikuti arti sebenarnya dari kata ini, maka artinya masih bersifat abstrak atau samar-samar. Dengan kata lain, keterangan tentang pihak lain yang menerima dampak dari ketekunan Timotius tidak terlalu jelas. Penggunaan kalimat “orang-orang yang” oleh penerjemah didasari dengan kesadaran bahwa pihak lain yang turut merasakan dampak dari ketekunan Timotius adalah orang-orang, bukan makhluk ciptaan lainnya.

Kata ἀκούοτάϛ (dibaca: akoutas, dari kata dasar akouo) merupakan kata kerja dengan modus presen aktif participle kategori maskulin jamak dengan kasus akusatif yang berarti “mendengar; mendengarkan; mengetahui; menaati; mengerti”. Kata σου (dibaca: sou) merupakan kata ganti personal bentuk orang ke-2 tunggal dengan kasus genetif yang berarti “engkau; kamu; kamu sendiri; -mu”.[147] Pada bagian ini Paulus memperjelas keterangan mengenai pihak yang turut merasakan dampak dari ketekunan Timotius secara spesifik, yakni setiap mereka yang mendengarkan perkataan atau ajaran Timotius. Kata “mendengarkan” yang dimaksudkan Paulus bukan sekedar suatu proses alamiah yang terjadi, di mana suara yang keluar dari mulut Timotius masuk ke telinga orang-orang, tetapi  yang dimaksudkan Paulus adalah apa yang diajarkan oleh Timotius itu dipahami, kemudian dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Jadi orang-orang yang mendengarkan, memahami, dan melakukan pengajaran Timotius juga akan diselamatkan.

  • Rangkuman

Surat I Timotius yang merupakan salah satu dari “Surat-Surat Penggembalaan”, adalah surat dari Paulus  kepada Timotius di Efesus mengenai pelayanan pastoral di gereja. Beberapa pengeritik telah mempersoalkan kepenulisan Paulus atas surat ini, namun gereja mula-mula dengan tegas menempatkannya sebagai surat-surat Paulus yang asli. Walaupun ada perbedaan gaya penulisan dan kosakata dalam Surat-Surat Penggembalaan dibanding dengan surat kiriman lain dari Paulus, usia lanjut dan perhatian pribadi Paulus terhadap pelayanan Timotius dan Titus dapat menerangkan perbedaan ini dengan cukup menyakinkan.

Paulus menulis surat 1 Timotius sesudah peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam pasal terakhir Kisah Para Rasul. Berdasarkan data dalam Surat-Surat Penggembalaan ini, Paulus kemudian kembali ke Kreta, Makedonia, dan Yunani untuk pelayanan selanjutnya. Sementara waktu itu (sekitar tahun 64-65 M), Paulus menugaskan Timotius sebagai wakil rasuli untuk melayani di Efesus. Dari Makedonia, Paulus menulis surat yang pertama kepada Timotius. Setelah itu, Paulus kembali ditawan di Roma, ketika dia menulis surat yang kedua kepada Timotius, tidak lama sebelum dia mati syahid pada tahun 67/68 M.

Paulus mempunyai tiga maksud ketika menulis surat ini: (1) menasihati Timotius sendiri mengenai kehidupan pribadi dan pelayanannya; (2) mendorong Timotius untuk mempertahankan kemurnian Injil dan standarnya  yang kudus dari pencemaran oleh guru palsu; dan (3) memberikan pengarahan kepada Timotius mengenai berbagai urusan dan persoalan gereja di Efesus. Salah satu hal utama yang disampaikan Paulus ialah supaya Timotius tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang sejati dan membuktikan kesalahan ajaran palsu yang melemahkan kuasa Injil yang menyelamatkan.

Paulus juga menginstruksikan Timotius mengenai syarat-syarat kerohanian dan sifat-sifat serta memberikan gambaran tersusun mengenai orang yang diizinkan menjadi pemimpin rohani gereja. Paulus menasihatkan Timotius bagaimana bergaul dengan berbagai kelompok dalam jemaat, seperti perempuan, janda-janda, orang laki-laki tua dan muda, para penatua, budak, guru palsu dan orang kaya. Paulus memberikan lima instruksi jelas kepada Timotius yang harus dilaksanakannya. Di dalam surat ini Paulus menyatakan kasih sayangnya kepada Timotius sebagai anak rohaninya dalam iman dan mengajukan suatu standar kesalehan yang tinggi untuk kehidupannya dan untuk gereja.

Secara umum, surat ini yang dialamatkan langsung kepada Timotius sebagai wakil Paulus di jemaat Efesus, sangat pribadi dan ditulis dengan emosi dan perasaan yang mendalam. Surat ini juga menekankan tanggung jawab pemimpin jemaat untuk memelihara Injil agar tetap murni dan bebas dari ajaran palsu yang akan melemahkan kuasanya untuk menyelamatkan, serta menekankan nilai unggul dari Injil, pengaruh setan di belakang semua pencemaran, panggilan gereja yang kudus dan syarat tinggi yang ditetapkan Allah bagi para pemimpinnya. Selain itu, surat ini memberikan pedoman yang paling lengkap dalam Perjanjian Baru mengenai bagaimana seorang gembala harus berhubungan secara patut dengan pria dan wanita serta dengan semua kelompok usia dan sosial dalam gereja.

Secara khusus di dalam I Timotius 4:16, Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius tentang bagaimana menguasai diri, ketika memimpin jemaat yang akan diajarnya di Efesus. Nasihat ini diberikan karena Paulus menyadari bahwa tanpa adanya penguasaan diri dalam pengajarannya, Timotius akan gagal dalam memelihara jemaat Kristus yang akan dilayaninya, Sebab dasar pengajaran yang baik harus disertai denga kelakuan yang baik. Dalam hal ini, Timotius harus menjadi seorang pemimpin yang benar-benar menunjukkan dari dirinya suatu gaya hidup yang dapat menjadi teladan yang baik, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam pengajarannya. Paulus juga berpesan kepada Timotius bahwa orang yang mengajar orang lain patut mengajarkan dirinya sendiri, sebab apa yang diajarkan, itulah yang akan dilihat oleh orang-orang yang ada di Efesus melalui kehidupannya.

Paulus juga berharap kepada Timotius untuk menjadi seorang pemimpin yang memberi pengajaran yang sehat dan dan tidak membuka cela bagi lawannya sehingga mereka tidak dapat menuduh setiap ajaran yang diberitakan oleh Timotius sesuai kebenaran. Selain itu orang-orang tidak menganggap rendah dirinya karena usianya yang muda, dan orang-orang yang dialayaninya semakin teguh iman , bahkan orang-orang yang sudah mengikuti ajaran sesat pun kembali hidup benar sesuai kebenaran injil yang telah disampaikan olehnya.

Seorang pemimpin, termasuk pengajar secara otomatis adalah contoh yang ditiru. Oleh sebab itu, penguasaan diri seorang pemimpin sangatlah penting untuk dimiliki dalam kehidupannya agar setiap pengajarannya dapat dipercayai sehingga menjadi kesaksian dan keselamatan bagi dirinya dan orang lain. Dalam hal ini, guru Pendidikan Agama Kristen harus mampu memberi yang terbaik dalam pengajarannya bagi murid atau orang-orang yang dilayaninya. dirinya harus menunjukkan karakter Kristus dalam hidup agar menjadi teladan bagi orang percaya, baik dalam perkataan, tingkah laku, dalam kasih, kesetiaan, dan kesucian. Semuanya itu harus dilakukan dengan ketekunan sebagai tugas dan tanggung jawab di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya.

Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan siswa dalam dunia pendidikan formal (sekolah). Oleh karena itu, seorang guru PAK harus benar-benar mampu menguasai dirinya dari hawa nafsu atau keinginan duniawi sehingga menjadi contoh yang hidup bagi murid yang diajarnya. Setiap apa yang diajarkan akan dilihat dari kehidupannya, dengan kata lain apa yang dikatakan itulah yang dilakukan sehingga menjadi seorang guru PAK yang berintegritas.

BAB IV

IMPLIKASI INTEGRITAS GURU PAK MENURUT 1 TIMOTIUS 4:16 BAGI GURU PAK

Sehubungan dengan teks 1 Timotius 4:16, penulis menemukan dua pokok pembahasan, yakni integritas guru PAK yang mencakup perhatian terhadap cara hidup serta ajaran, dan ketekunan guru PAK dalam mengerjakan keselamatan secara pribadi dan bagi orang lain. Kemudian membandingkan pokok pembahasan tersebut dengan teori yang telah dipaparkan pada kajian teoritis, menarik penerapan praktis bagi guru PAK dan, mengakhiri bab ini dengan rangkuman.

  • Integritas Guru PAK

Integritas guru PAK berdasarkan ajaran Paulus dalam 1 Timotius 4:16, menunjuk kepada kesatuan cara hidup dan ajaran sehingga hal yang ditekankan Paulus adalah memperhatikan cara hidup dan pengajaran. Paulus merasa kedua hal ini sangat penting bahkan tidak dapat dipisahkan dalam diri seorang guru, sebab jika guru hanya mengajarkan kebenaran tanpa melakukan kebenaran akan dipandang rendah dan tidak dipercaya, pengajarannya sia-sia. Bahkan bisa menjadi bahan cemoohan bagi setiap orang yang mendengarnya. Di samping itu, pengajaran yang disertai tindakan nyata lebih dipahami oleh orang-orang yang sedang belajar karena orang-orang tersebut mendengar, sekaligus melihat.[148] Akhirnya setiap orang yang mendengar pengajaran dari guru yang berintegritaspun melakukannya. Hal ini berarti guru yang berintegritas dapat memberi hasil yang maksimal dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya.

Berdasarkan teori, arti integritas bagi setiap individu adalah kejujuran dalam pembicaraan dan perbuatan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain, atau pribadi yang memiliki kualitas diri dalam segala dimensi kehidupannya. Hal ini berarti, orang yang berintegritas adalah orang jujur dan bermoral teguh.[149] Sedangkan secara khusus bagi guru PAK, arti integritas adalah kesatuan antara ajaran dan cara hidup.[150] Jadi arti integritas guru PAK bardasrkan analisis eksegetis dan kajian teori memiliki keselarasan, yakni kesatuan antara ajaran dan cara hidup, apa yang dikatakan itulah yang dilakukan.

Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggapnya sebagai guru,[151] Karena pada dasarnya guru adalah sosok yang dipercayai dan ditiru.[152] Namun kebanyakan guru gagal dalam memperlihatkan jati diri sebagai sosok yang dipercayai dan ditiru karena tidak adanya kesatuan antara pembicaraan (pengajaran) dan tindakan (cara hidup). Hal yang serupapun dialami oleh guru PAK yang mengajarkan kebenaran namun tidak sanggup melakukan kebenaran.

Seharusnya, seorang pengajar kebenaran tidak sekedar mengajar tetapi juga melakukan yang benar. Artinya guru PAK harus memiliki kerohanian yang baik agar bisa menjadi pengajar yang berkualitas dan memiliki teladan hidup yang benar sehingga mendukung pengajaran yang disampaikan. Guru yang demikan adalah guru yang berintegritas dan pastinya berbeda dengan guru-guru lainnya. Yesus adalah sosok guru yang berbeda itu. Dalam banyak hal, Yesus memberi teladan yang baik dan jika diikuti akan memberi banyak pengertian dan pengalaman mengajar yang baru dan tidak akan ada habisnya.[153] Yesus melakukan pengajaran secara praktis dan menarik karena memulai pengajaran-Nya dengan memperhatikan kebutuhan para pendengar-Nya (Mat. 9:36), kemudian menghubungkan kebenaran dengan kehidupan (Mat. 13:34).

Guru PAK harus memiliki integritas, apa yang diajarkan itulah yang dilakukan. Kalau guru mengajar untuk mengasihi musuh sedangkan guru sendiri tidak melakukan apa yang diajarkan, maka semuanya tidak akan berhasil, karena orang yang diajar selalu memperhatikan apa yang gurunya lakukan dan mengamati kehidupan guru. Oleh karena itu, guru PAK harus memperhatikan pengajaran dan cara hidupnya agar menjadi kesatuan yang utuh dalam dirinya. Akhirnya guru PAK memiliki pengaruh yang sangat besar bagi pendengarnya, karena dengan mudah para pendengar meniru semua hal baik yang dilakukan oleh guru lewat tutur kata dan tingkah lakunya.

  • Memperhatikan Cara Hidup

Pemahaman mengenai konsep memperhatikan cara hidup yang diajarkan oleh Paulus kepada anak rohaninya, Timotius dalam 1 Timotius 4:16 diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, Terjemahan Baru menggunakan kalimat “Awasilah dirimu sendiri”. Berdasarkan hasil eksegese pada bab tiga, Memperhatikan atau mengawasi dalam teks aslinya (Yunani) bisa diterjemahkan dengan istilah menguasai.[154] Oleh karena itu, kalimat awasilash diri sendiri tidak berarti sekedar memperhatikan diri dalam pengertian fisik atau penampilan luar, tetapi lebih kepada sikap dan tingkah laku yang sering dikenal dengan istilah ‘kehidupan’ atau cara hidup (karakter). Memperhatikan atau mengawasi diri sendiri yang dimaksudkan Paulus bukan sekadar berjaga-jaga agar tidak terjatuh dalam godaan iblis, melainkan suatu proses latihan sampai benar-benar menguasainya seperti seorang atlet.[155]

Sehubungan dengan konteks dekat 1 Timotius 4:16, memperhatikan diri sendiri yang dimaksudkan adalah rajin beribadah dan melayani sesuai karunia (4:7-9,14), tetap berjuang dalam kebenaran Allah (4:10), bertekun dalam firman dan pengajaran (4:11, 13, 15-16), dan menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan dalam kesucian (4:12).[156] Semua ini merupakan kesatuan kualitas karakter yang utuh dalam pribadi yang berintegritas.[157] Jika dibandingkan dengan teori-teori yang dipaparkan oleh penulis pada bab 2, maka konsep Paulus tentang memperhatikan atau mengawasi diri ini merujuk pada poin-poin yang telah dibahas dalam kajian teoritis., yakni ciri-ciri guru PAK yang berintegritas, kehidupan rohani guru PAK, pembentukan integritas guru PAK, dan kualitas karakter guru PAK. Dengan demikian, memperhatikan atau mengawasi diri sendiri merupakan unsur penting yang harus dilakukan seorang guru PAK agar bisa menjadi guru yang berintegritas.

  • Memperhatikan Ajaran

Guru yang berintegritas selalu memberi yang terbaik kepada orang-orang yang diajarnya, bahkan tidak memusingkan dirinya demi kebaikan orang lain. Artinya para pendengar itu penting dan menjadi prioritas. Memberi yang terbaik dalam konteks guru adalah ajaran yang baik. Sehingga Paulus menasihati Timotius agar memperhatikan ajarannya.  Sehubungan dengan konteks ayat 1 Timotius 4:16, ajaran yang dimaksud adalah ajaran tentang soal-aoal pokok iman dan ajaran sehat.[158] Ajaran sehat yang dimaksudkan Paulus adalah ajaran yang tidak bercela, tidak bercacat, atau tidak memberi peluang kepada pengajar-pengajar sesat untuk menyebarkan hal-hal buruk tentang pengajaran yang disampaikan. Ajaran yang sehat bukanlah ajaran yang melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah, bukan juga bersumber pada dongeng nenek-nenek tua dan takhayul seperti ajaran para pengajar sesat.[159] Ajaran yang sehat adalah ajaran yang berdasarkan firman Tuhan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius melalui tulisannya di dalam 2 Tim 3: 14-16. Dalam konteks sekarang, ajaran yang sehat adalah ajaran berdasarkan Alkitab.

Setiap guru tentunya diharapkan memiliki kurikulum dan topik pelajaran, namun dalam pendidikan Kristen, Alkitab harus menjadi referensi utama pembelajaran kehidupan manusia. Alkitab memang tampak sebagai wadah sebuah kitab yang kuno namun harus disadari bahwa setiap kali menggali isinya, akan memperoleh pemahaman yang baru. Alkitab memiliki materi pembelajaran tidak terhingga banyaknya. Sebagaimana sudah diungkapkan sebelumnya, Alkitab yang begitu kaya harus terus dieksplorasi sebagai bahan pembelajaran sepanjang rentang masa hidup sehingga setiap orang Kristen semakin dewasa dalam Kristus.[160]

Memperhatikan ajaran sangatlah penting bagi seorang guru PAK jika ingin menjadi guru yang berintegritas. Sebab apa yang disampaikan dalam pengajaran haruslah benar dan jujur. Jika dibandingkan degan kajian teori pada bab 2, memperhatikan ajaran juga bisa berarti seorang guru harus memiliki teologi yang benar. Tujuan guru PAK memiliki teologi yang benar adalah agar guru mempunyai pemahaman yang memadai. Itu harus menjadi salah satu syarat untuk menjadi pengajar di tengah-tengah orang percaya yang dipercayakan untuk dilayani. Alasan penting seorang guru PAK memiliki pemahaman teologi yang benar adalah agar mampu mengajar dan melayani dengan benar. Ada bahayanya jika guru tidak mempunyai pemahaman yang baik dan benar. Misalnya, menyampaikan firman Tuhan secara keliru, dan tidak bisa dengan jelas membedakan ajaran yang menyimpang dari iman Kristen,[161] sehingga orang yang diajarpun tetap tinggal dalam pemahaman yang salah tentang iman Kristen, akhirnya kehidupannya tidak mencerminkan kehidupan Kristen sejati. Dengan demikian, memperhatikan  ajaran adalah perihal mutlak bagi guru PAK.

  • Ketekunan Guru PAK dalam Mengerjakan Keselamatan

Berdasarkan struktur teks, ketekunan yang dimaksudkan Paulus agar dikerjakan oleh Timotius adalah bertekun dalam memperhatikan atau mengawasi,[162] baik mengawasi diri sendiri maupun mengawasi ajarannnya. Kalimat yang digunakan oleh Paulus adalah “bertekunlah dalam semuanya itu,” (1 Tim.4:16). Paulus percaya bahwa ketekunan dalam memperhatikan diri sendiri dan pengajaran dapat memberi dampak kepada keselamatan bagi diri sendiri dan bagi orang lain sehingga Paulus melanjutkan perkataannya dengan kalimat “karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” (1 Tim. 4:16).

Ketekunan yang dimaksudkan Paulus adalah melakukan suatu pekerjaan secara terus menerus sampai akhir hidup. Istilah yang lebih rohani untuk menjelaskan maksud Paulus adalah “taat sampai mati”.[163] Pandangan ini memberi pengertian bahwa orang yang bertekun adalah orang yang memiliki iman dan berpengharapan teguh sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh disertai ketaatan hidup terhadap sesuatu yang mengaturnya baik itu perintah maupun larangan. Pandangan ini sejalan dengan teori mengenai ketekunan yang dipaparkan dalam kajian teoritis, yang mengatakan bahwa ketekunan adalah perihal mengenai kesungguhan dan rajin dalam bekerja; Ketekunan juga identik dengan ketaatan yang berlandaskan iman.[164]

Dampak dari ketekunan seorang pelayan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius, baik dalam hal mengawasi diri maupun ajaran adalah menyelamatkan dirinya dan orang yang mendengarkannya. Oleh karena itu, guru PAK harus memiliki ketekunan dalam mengerjakan keselamatan pribadinya yang telah diterima melalui kasih karunia oleh iman agar menjadi kesaksian dan keselamatan bagi orang lain yang mendengarkan pengajarannya.

  • Mengerjakan Keselamatan Pribadi

Keselamatan terjadi disebabkan oleh suatu tindakan yang dilakukan oleh pribadi sebagai subjek.[165] Subjek keselamatan itu adalah pribadi Allah sendiri, sehingga keselamatan pribadi seseorang merupakan anugerah.[166] Para teolog pun setujua akan hal ini, yakni keselamatan adalah anugerah atau pemberian Allah secara cuma-cuma melalui Yesus Kristus.[167] Namun, keselamatan haruslah tetap dikerjakan dalam penantian akan kedatangan Kristus kembali untuk menjemput setiap orang yang percaya kepada-Nya ke dalam hidup yang kekal.

Istilah mengerjakan keselamatan pribadi dalam teks yang Paulus tuliskan kepada Timotius menggunakan kalimat “menyelamatkan diri senndiri”. istilah ini merupakan salah satu dampak dari ketekunan seorang pelayan Tuhan, termasuk guru PAK dalam hal mengawasi diri maupun ajaran.[168] Istilah Menyelamatkan yang dipakai di sini memiliki pengertian yang sama dengan Filipi 2:12, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu.” Kerjakan keselamatan dalam bagian firman Tuhan ini memberi pengertian bahwa Paulus mengajak jemaat Filipi untuk mengerjakan keselamatan yang telah diterima. Bukan bekerja dan berbuat baik agar mendapat keselamatan, melainkan mengerjakan apa yang sudah diterima, dengan cara mengekspresikannya dalam perbuatan baik.[169]

  • Mengerjakan Keselamatan bagi Orang Lain

Anugerah keselamatan yang telah diterima melalui kasih karunia oleh iman perlu diberitakan kepada orang lain karena semua orang belum mendengar berita sukacita (injil) tentang keselamatan di dalam Yesus Kristus. Pemberitaan injil inilah yang dinamakan “mengerjakan keselamatan bagi orang lain”. Tugas guru dalam mengerjakan keselamatan bagi orang lain adalah mengajarkan PAK bagi orang lain.

Mengajar PAK bagi orang lain haruslah memperhatikan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam diri guru tersebut, yakni cara hidup dan ajaran.[170] Cara hidupnya menjadi contoh atau teladan yang berpatokan pada karakter Kristus, dan ajarannya berpatokan pada injil/firman Tuhan (Alkitab). Hal yang sama juga disampaikan oleh para ahli teologi, yakni Mengajar Pendidkan Agama Kristen (PAK) merupakan sebuah Proses pengajaran yang berdasar pada Alkitab dan berpusat pada Kristus dengan tidak melupakan karya Roh Kudus untuk memasuki persekutuan iman yang hidup sebagai orang Kristen yang mempermuliakan nama Tuhan di segala waktu dan tempat.[171] Bila kedua hal ini diperhatikan dengan baik dan tekun dilakukan oleh guru PAK, maka setiap orang yang mendengar pengajaran PAK, memahami dan ikut melakukannya akan diselamatkan.

Keselamatan telah dikerjakan oleh Allah sendiri melalui pribadi Yesus Kristus, dan mengaruniakannya kepada setiap orang melalui iman. Namun, semuanya itu bisa dikerjakan Tuhan melalui hamba-Nya, dalam hal ini Guru PAK. Sebab, “Meskipun iman berasal dari Allah, Tuhan berkenan memakai aktivitas belajar-mengajar menjadi suatu sarana agar dinamika iman menjadi semakin nyata, dirasakan, dan hidup”. Sehingga orang yang mendengarkan pengajaran PAK dan menerima serta menyimpan dalam hatinya akan diselamatkan.[172]

  • Implikasi Praktis bagi Guru PAK

Setelah meneliti dan membahas poin demi poin dalam penulisan ini, penulis menemukan beberapa penerapan praktis  yang harus dilakukan guru PAK dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar kebenaran sejati. Oleh karena itu, pada bagian ini penulis memaparkan beberapa hal praktis yang harus diterapkan guru PAK sehubungan dengan integritas guru PAK dan ketekunannya dalam mengerjakan keselamatan. 

  • Integritas Guru PAK

Guru PAK haruslah guru yang berintegritas. Apa yang dikatakan, itulah yang dilakukan. Agar mencapai tuntutan ini, guru PAK haruslah memperhatikan atau mengawasi bahkan menguasai cara hidup dan pengajarannya. Artinya, guru PAK  harus menjadi guru yang jujur, tulus, konsisten, memiliki kemurnian dan kerendahan hati, tidak egois, dan terpercaya atau bertanggung jawab. Semua sikap ini akan dimiliki oleh guru PAK apabila guru tersebut mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan atau kehidupan rohani yang benar, yaitu telah lahir/hidup baru, dipimpin Roh kudus, beriman, hidup dalam doa, dan pastinya senantiasa belajar firman Tuhan. Inilah yang disebut integritas guru PAK.

Jika guru PAK tidak berintegritas, dirinya tidak memancarkan kewibawaan. Dalam hal ini guru PAK akan diremehkan bahkan menjadi bahan cemooh di lingkungan masyarakat sekitar, akhirnya apa yang di ajarkannya  menjadi sia-sia. Selain itu setiap orang yang mendengarkan ajarannya tidak mengalami pertumbuhan secara rohani bahkan sebaliknya mengalami kemunduran sehingga kehidupan orang-orang yang mendengar pengajaran dari guru PAK yang tidak berintegritas tersebut semakin jauh dari kehendak Tuhan. Dengan demikian, guru PAK yang tidak berintegritas bukan menciptakan generasi yang takut akan Tuhan, melainkan menciptakan generasi yang menentang Tuhan dan ajaran-Nya. Oleh karena itu, guru PAK harus membangun integritas dalam kehidupannya.

Integritas guru PAK harus mulai dibangun dari hal kecil dalam hidup karena di situlah pola kebiasaan dibangun. Oleh karena itu, guru PAK harus mulai membiasakan diri untuk berbicara sesuai kenyataan dari berbagai pengalaman bertemu dan berinteraksi dengan berbagai kalangan, memenuhi sesuai apa yang dijanjikan, konsisten dalam Perkataan dan Perbuatan. Selain itu, bahkan yang terutama guru PAK harus hidup dalam prinsip yang benar atau berpegang pada prinsip kebenaran yaitu sesuai kebenaran firman Tuhan (Alkitab), hidup dalam kesatuan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan, dan hidup dalam  hubungan yang benar karena hubungan lebih penting, bahkan lebih penting dari pelayanan (Mat. 5:23-24).

  • Ketekunan Guru PAK dalam Mengerjakan Keselamatan

Guru PAK bertanggung jawab untuk mengajarkan PAK bagi orang lain. Dalam mengajarkan PAK, guru harus tekun memberikan pengajaran yang benar, yakni pengajaran yang bersumber atau refernsi utamanya adalah firman Tuhan (Alkitab). Selain mengajar, guru PAK juga bertanggung jawab dalam mendidik. Karena itu, guru PAK harus menjadi penafsir iman Kristen, menjadi seorang gembala yang bertanggung jawab atas kehidupan rohani murid, menjadi pedoman dan pemimpinyang hendaknya menjadi teladan untuk menarik orang kepada Kristus dan mencerminkan Kristus dalam sejarah pribadinya.

Selain itu, guru PAK juga merupakan pelayan Tuhan, dan seorang pelayan Tuhan harus menjadi saksi Kristus. Artinya guru PAK harus hidup sebagai saksi selain pelayanan mengajar. Untuk sampai kepada maksud ini, seseorang harus mengenakan pikiran dan perasaan Kristus sehingga kehidupannya dapat memperagakan kehendak Tuhan. Secara sederhana, guru PAK harus menekuni prinsip Integritas dalam mengajar, yaitu tekun memperhatikan cara hidup dan ajaran karena dengan berbuat demikaian, guru PAK dapat mengerjakan keselamatan pribadinya dan keselamatan orang-orang yang mendengarkan pengajarannya. Namun ketika guru PAK tidak tekun  mengerjakan keselamatan maka keselamatan itu sendiri tidak akan dialami oleh orang lain melalui dirinya, dan keselamatan pribadinyapun perlu dipertanyakan. Keselamatan akan terus dikerjakan oleh Tuhan tetapi bukan lagi melalui guru yang tidak bertekun. Dengan demikian guru PAK yang tidak bertekun dapat di katakan sebagai guru yang gagal dalam mempertanggung jawabkan tugas mulia yang diberikan oleh Tuhan.

  • Rangkuman

Guru PAK haruslah menjadi guru yang berintegritas sesuai dengan yang diajarkan oleh Paulus kepada anak rohaninya Timotis, pemimpin sekaligus pengajar jemaat. Menjadi guru PAK yang berintegritas haruslah memperhatikan cara hidup dan ajaran agar membentuk suatu kesatuan yang utuh dalam bertindak dan berbicara. Dalam hal bertindak, seorang guru PAK haruslah menjadi contoh yang diteladani, dan dalam hal pengajaran, guru PAK harus mengajar berdasarkan isi firman Tuhan (Alkitab).

Integritas guru PAK akan terlihat, ketika dalam kesehariannya selalu menampilkan gaya hidup Kristen yang berpatokan pada karakter Kristus, yaitu jujur, tulus, konsisten, memiliki kemurnian dan kerendahan hati, tidak egois, dan terpercaya atau bertanggung jawab. Semua sikap ini akan dimiliki oleh guru PAK apabila memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Membangun hubungan yang intim dengan Tuhan bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena itu seorang guru PAK harus mulai membangunnya dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, secara khusus dalam kehidupan rohani.

Integritas merupakan kualitas karakter yang sangat penting dan harus dimiliki oleh setiap guru PAK, karena integritas memiliki manfaat yang berdampak kepada keselamatan, baik dalam mengerjakan keselamatan diri, maupun keselamatan orang-orang yang mendengarkan pengajarannya. Menjadi guru yang berintegritas haruslah disretai ketekunan karena mengerjakan keselamatan bukanlah hal singkat dan sementara, melainkan seuatu yang kekal. Artinya harus dikerjakan sepanjang hidup.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Setalah menguraikan tentang Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen menurut 1 Timotiu 4:16 dan implikasinya bagi Guru PAK, pada bagian ini penulis memaparkan dua pokok yaitu kesimpulan dan  saran. Pada bagian kesimpulan penulis menjelaskan mengenai pokok-pokok penting secara keseluruhan bab, sedangkan pada bagian saran, penulis memberikan solusi kepada guru PAK masa kini sesuai dengan topik yang dibahas.

  • KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan bab I sampai IV, penulis dapat menyimpulkan bahwa:

  1. Integritas guru PAK menurut 1 Timotius 4:16 adalah memperhatikan atau mengawasi diri dan pengajaran agar membentuk suatu kesatuan yang utuh dan tidak bercela dalam pengajaran sehingga seorang pengajar, meskipun di usia yang muda tidak akan dipandang rendah, bahkan orang lain yang ingin mencemooh pengajarannya tidak mendapat peluang. Hal ini berarti,  integritas adalah mutu, sifat, yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Guru PAK yang berintegritas pasti memiliki kehidupan rohani yang baik , yakni dapat membangun hubungan intim dengan Tuhan dan memiliki kualitas karakter yang bermutu, baik dalam hal kasih, kerendahan hati, sikap mau melayani, kekudusan hidup, iman kepada Tuhan Yesus, kesabaran, penguasaan diri, keberanian, dan hati yang senang diajar. Sehingga kehidupannya selalu ditandai dengan sikap yang jujur, tulus, konsisten, memiliki kemurnian dan kerendahan hati, tidak egois, dan terpercaya atau bertanggung jawab.
  2. Integritas guru PAK dalam mengajar harus dilakukan dengan ketekunan agar menjadi kesaksian dan keselamatan bagi orang lain, sebab ketekunan guru PAK dalam mengajar dapat membawa keselamatan bagi diri sendiri dan orang yang diajar. Dengan kata lain, ketekunan memiliki hubungan dengan keselamatan, yakni ketekunan menghasilkan keselamatan dan keselamatan memotivasi orang-orang untuk bertekun. Tuhan Yesus Sang Guru Agung, telah menunjukan teladan dalam bertekun, baik cara hidup-Nya maupun dalam perihal mengajarkan kebenaran. Ketekunan Yesus mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang peraya kepada-Nya, dan setiap orang yang telah menerima anugerah keselamatan itu dijamin untuk terus hidup dalam penantian akan kedatangan-Nya kembali sebagai Raja, yakni hidup bertumbuh ke arah Kristus dengan tuntunan Roh Kudus. Inilah yang patut diteladani oleh guru PAK saat ini, yaitu menjadi guru PAK yang berintegritas dengan selalu bertekun memperhatikan cara hidup agar sesuai dengan ajaran hingga akhirnya mendatangkan keselamatan dalam diri sendiri dan bagi orang yang mendengarkan pengajarannya.

Sehubungan dengan dua poin di atas, dapat dikatakan guru PAK memiliki peranan penting dalam menciptakan generasi yang takut akan Tuhan. Peran guru dalam hal ini adalah mengajar orang-orang Kristen sesuai dengan firman Tuhan untuk mencapai kedewasaan iman sehingga tugas mengajar PAK merupakan suatu tanggung jawab besar dan panggilan mulia sekaligus amanat dari Tuhan Yesus. Tugas dan tujuan ini dapat dilakukan guru dengan baik dan mencapai hasil yang maksimal apabila guru tidak sekadar mengajar teori, tetapi harus disertai tindakan nyata yang selaras dengan pengajaran. Itulah yang disebut integritas guru PAK, apa yang diajarkan itulah yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Cara hidup dan pengajaran yang selaras tidak dapat dipisahkan dalam diri seorang guru karena guru adalah orang yang dipercaya perkataannya dan ditiru kelakuannya. Keselarasan cara hidup dan pengajaran bisa terpelihara apabila dilatih dengan tekun, secara terus menerus dari hari kesehari. Ketekunan bukanlah sesuatu yang hari ini dilakukan dan besok dilupakan, melainkan tindakan yang sungguh-sungguh dan di dalamnya terkandung ketaatan, iman, harapan, dan kasih. Oleh karena itu, integritas adalah kualitas karakter yang mutlak dimiliki setiap guru Pendidikan Agama Kristen masa kini.

  • SARAN

Dalam penyusunan skripsi yang berjudul Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen Menurut 1 Timotius 4:16, penulis berharap kepada setiap guru Pendidikan Agama Kristen, baik yang mengajar di dunia pendidikan formal (sekolah) maupun dalam jemaat (gereja) masa kini agar:

  1. menjadi guru PAK yang berintegritas dengan cara memperhatikan cara hidup dan ajaran. Cara hidup menjadi contoh yang diteladani, dan ajaran mengarahkan pemahaman orang-orang Kristen bertumbuh ke arah pengenalan akan Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ajaran yang diberikan oleh guru PAK harus benar-benar bersumber dari Alkitab atau pengajaran yang alkitabiah dan cara hidupnya harus sesuai dengan yang diajarkan, patokannya adalah karakter Kristus. Dengan demikian guru serta pengajarannya tidak diremehkan, bahkan sebaliknya dianggap penting dan sanggat bermanfaat oleh setiap pendengar. Guru PAK haruslah menjadi sumber dan jawaban orang percaya, tempat di mana orang-orang yang belum mengenal Kristus secara benar bertanya serta menjadi figur dalam pembentukkan karakter.
  2. Semua yang guru PAK lakukan, baik dalam mengajarkan kebenaran maupun mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, haruslah dilakukan dengan tekun. Tanpa ketekunan, guru PAK tidak dapat bertahan sampai garis akhir pelayanan sebagai pengajar sejati dan tidak dapat menjadi mitra kerja Allah dalam membangun kerajaan-Nya di bumi dengan baik. Oleh karena itu guru PAK harus tekun dalam mengawasi diri sendiri dan pengajarannya karena dengan berbuat demikian seorang guru PAK dapat mengerjakan keselamatan pribadi yang telah diterima oleh iman melalui anugerah di dalam Yesus Kristus dan mengerjakan keselamatan bagi orang lain dengan baik dan benar.

Akhir dari penulisan skripsi ini, penulis sangat berharap kepada setiap guru Pendidikan Agama Kristen untuk menjadikan firman Tuhan sebagai kesukaan dengan cara tekun membaca, merenungkan serta melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak sanggup, percayalah kepada Tuhan dan serahkanlah segala kelemahan kepada-Nya maka Tuhan akan menggantikan kelemahan menjadi kekuatan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012)

Arthur G. Homles, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, (Jakarta: Lembaga Reformed Injil Indonesia, 1990)

B.S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional, (Bandung: Kalam Hidup, 2009)

Badan Pengurus Harian Gereja Bethel Indonesia, Modul Pelatihan Pelayan Tuhan Pembuat Sejarah, (Jakarta: Bethel Empowering Center, t.th)

Bram Soei Ndoen, Kingdom Discipleship Commission, (t.t.p: EAGLES Institute,  2012)

Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab Wycliffe, (Malang, Gandum Mas, 2001)

David L. Barteltt, Pelayanan dalam Perjanjian Baru, terj. Lien Siem Kie (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003

Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik. Buku Pegangan untuk Mengajar Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2012)

Don Richardson, Kerinduan Akan Allah yang Sejati, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996)

E. G. Homrighausen & I. H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985)

E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,   1984), t.n.h.

E. M. Blaiklock, Surat-surat Penggembalaan, (Malang: Gandum Mas,)

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,   2011)

Eddy Fances, Mengenal dan Dikenal Allah, (Jakarta: Yasinta, 2008)

Eddy Fances, Transformasi Pikiran, (Jakarta: YASINTA, 2004)

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  2007)

Erastus Sabdono, Menemukan Kekristenan yang Hilang, (Jakarta: Rehobot Literatur, 2014)

Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia & Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid I, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia & Hasan Sutanto, 2004)

Howard G. Hendricks, Mengajar untuk Mengubah Hidup (Yogyakarta,  Yayasan Gloria, 2011)

http://www.bu.edu/wcp/Papers/Soci/SociTori.htm, diakses pada tanggal 25 April 2018.

http://www.charis.wlc.edu/publications/charis spring02/olson.pdf, diakses pada tanggal 25 April 2018.

https://ekonomi.kompas.com/read/2013/04/09/11144792/Langkah.Mengembangkan.Integritas.Pribadi, Internet. Diakses: 06 April 2018.
https://ekonomi.kompas.com/read/2013/04/09/11144792/Langkah.Mengembangkan.Integritas.Pribadi. diakses: 05 April, 2018.

I Putu Ayub Darmawan, Menjadi Guru yang Terampil, (Bandung: Kalam Hidup,   2014)

Iwance Penuam, Tanggung Jawab Guru PAK Menurut 2 Timotius 4:1-5 dan Aplikasinya bagi Pelayanan Guru PAK Masa Kini, Skripsi, (SoE: STT SOE, 2017)

J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi, (Surabaya: Momentum, 2009)

J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008)

Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional, (Jakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2014)

Jerry Bridges, Mengejar Kekudusan, (Bandung: Pionir Jaya, 2010

John Murray, Penggenapan & Penerapan Penebusan, (Surabaya: Momentum, 2010)

John Owen, Jaminan Keselamatan Kristen, (Surabaya: Momentum, 2005)

Kamisa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: CV Cahaya Agency, 2013)

Kelompok kerja PAK-PGI, Tuhan Mengasihi Semua Orang. Buku Guru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)

Kenneth O. Gancel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen, (Malang: Gandum Mas, 1998)

Khoe Yao Tung, Filsafat Pendidikan Kristen, (Yogyakarta: Andi, 2017)

Khoe Yao Tung, Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen yang Berhati Gembala, (Yogyakarta: ANDI, 2016)

LAI,  Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Cetakan ke-2 (Malang, Gandum Mas, 2016)

Lembaga Alkitab Indonesia, TB (Jakarta, 2008), I Timotius 4:16

Manuel G. Velasquez, Etika Bisnis Konsep dan Kasus, terj. Ana Purwaningsih, dkk (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2005)

Mariant Brant, Pekerja dalam Gereja Tuhan, (Malang: Gandum Mas, t.th)

Meriil C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2006)

Michael Youssef, Gaya Kepemimpinan Yesus, (t.t.p: t.p, t.th)

Paulus Lilik Kristanto, Pendidikan Agama Kristen di Gereja. Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), t.n.h

R. T. France, Yesus Sang Radikal, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998)

Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Ig. Loyola, (Jakarta: BPK Guning Mulia)

Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003)

Sidjabat, Ed. D, Menjadi Guru yang Profesional, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005)

Stephen L. Carter, Integritas, terj.T. Hermaya, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,     1999)

Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, (edisi kesepuluh), terj. Benyamin Molan, (Jakarta: PT Indeks, 2006),

Suharso & Ana Retnoningsih, Kamus Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2005), t.n.h.

Suyanto,  Pedoman Pembinaan Akhlak Mulia Siswa Melalui Pengembangan Budaya Sekolah, (Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, 2010)

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 2001)

Tim Penyusun, kamus Besar,.

Tom Yeakley, Character Formation for Leaders; 10 Kualitas Karakter yang Harus Dimiliki Pemimpin Kerajaan Allah, terj. Debora L. Manulga dan Faisal, S.S. (Bandung: Kalam Hidup, 2013)

Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1997)

Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1997)

Uhar Suharsaputra, Menjadi Guru Berkarakter, (Bandung: Refika Aditama, 2013)

Willi Marxen, Pengantar Perjanjian Baru, Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994)

William Barclay, Pemahaman Aalkitab Setiap Hari: Surat 1 dan 2 Timotius, Titus, Filemon, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)

Yasraf A. Piliang, Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualiitas, (Bandung: Jalasutra, 2005)

Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2003)

Yosafat B, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI, 2014)


[1] Yosafat B, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: ANDI, 2014), 89.

[2] Ibid.

[3]  Uhar Suharsaputra, Menjadi Guru Berkarakter, (Bandung: Refika Aditama, 2013), 1.

[4] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,  2007), 377.

[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini…, 377.

[6] I Putu Ayub Darmawan, Menjadi Guru yang Terampil, (Bandung: Kalam Hidup,   2014), 3

[7] Howard G. Hendricks, Mengajar untuk Mengubah Hidup (Yogyakarta,  Yayasan Gloria, 2011), 19.

[8]  Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 2001), 437.

[9] Kamisa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: CV Cahaya Agency, 2013), 244.

[10] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders; 10 Kualitas Karakter yang Harus Dimiliki Pemimpin Kerajaan Allah, terj. Debora L. Manulga dan Faisal, S.S. (Bandung: Kalam Hidup, 2013), 66.

[11] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 88.

[12]  http://www.bu.edu/wcp/Papers/Soci/SociTori.htm, diakses pada tanggal 25 April 2018.

[13] Stephen L. Carter, Integritas, terj.T. Hermaya, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,     1999), 10.

[14] http://www.charis.wlc.edu/publications/charis spring02/olson.pdf, diakses pada tanggal 25 April 2018.

[15] Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1997), 49.

[16] Tim Penyusun, kamus Besar, 377.

[17] Suharso & Ana Retnoningsih, Kamus Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2005), t.n.h.

[18] Hamzah B. Uno, Profesi Kependidika, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 15.

[19] Suyanto,  Pedoman Pembinaan Akhlak Mulia Siswa Melalui Pengembangan Budaya Sekolah, (Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, 2010), 15.

[20] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,   2011), 45.

[21] Jamil Suprihatiningrum, Guru Profesional, (Jakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2014), 17.

[22] Sidjabat, Ed. D, Menjadi Guru yang Profesional, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2005), 35.

[23] Khoe Yao Tung, Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen yang Berhati Gembala, (Yogyakarta: ANDI, 2016), 1.

[24] I Putu Ayub Darmawan, Menjadi Guru…, 3.

[25] Kenneth O. Gancel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen, (Malang: Gandum Mas, 1998),  97.

[26] Mariant Brant, Pekerja dalam Gereja Tuhan, (Malang: Gandum Mas, t.th), 98.

[27] Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik. Buku Pegangan untuk Mengajar Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2012), 38.

[28] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 94.

[29] Kamisa, Kamus Besar …, 264.

[30] Kelompok kerja PAK-PGI, Tuhan Mengasihi Semua Orang. Buku Guru, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 39.

[31] Eddy Fances, Transformasi Pikiran, (Jakarta: YASINTA, 2004), 185.

[32] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 99-100.

[33] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 100.

[34] Manuel G. Velasquez, Etika Bisnis Konsep dan Kasus, terj. Ana Purwaningsih, dkk (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2005), 101.

[35] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 102.

[36] Arthur G. Homles, Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah, (Jakarta: Lembaga Reformed Injil Indonesia, 1990), 134.

[37] Michael Youssef, Gaya Kepemimpinan Yesus, (t.t.p: t.p, t.th), 58.

[38] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 104.

[39] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 106.

[40] R. T. France, Yesus Sang Radikal, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 55.

[41] R. T. France, Yesus Sang Radikal…, 55.

[42] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 108.

[43] Michael Youssef, Gaya Kepemimpinan Yesus…,130.

[44] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 109.

[45] Stephen P. Robbins, Perilaku Organisasi, (edisi kesepuluh), terj. Benyamin Molan, (Jakarta: PT Indeks, 2006), 464.

[46] Mariant Brant, Pekerja dalam Gereja Tuhan…, 98.

[47]https://ekonomi.kompas.com/read/2013/04/09/11144792/Langkah.Mengembangkan.Integritas.Pribadi, Internet. Diakses: 06 April 2018.

[48] Bram Soei Ndoen, Kingdom Discipleship Commission, (t.t.p: EAGLES Institute,  2012), 53.

[49] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 94.

[50] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2003), 51.

[51] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 102.

[52] Yasraf A. Piliang, Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualiitas, (Bandung: Jalasutra, 2005), 155.

[53] Yasraf A. Piliang, Transpolitika: Dinamika Politik…, 159-160.

[54] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 27.

[55] Yosafat B, Integritas Pemimpin…, 28-44.

[56] Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik…, 32.

[57] Ibid…, 33.

[58] Don Richardson, Kerinduan Akan Allah yang Sejati, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 31-52.

[59] Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik…, 30.

[60] Eddy Fances, Mengenal dan Dikenal Allah, (Jakarta: Yasinta, 2008), 49.

[61] David L. Barteltt, Pelayanan dalam Perjanjian Baru, terj. Lien Siem Kie (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), 238.

[62] Khoe Yao Tung, Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen…, 189.

[63]https://ekonomi.kompas.com/read/2013/04/09/11144792/Langkah.Mengembangkan.Integritas.Pribadi. diakses: 05 April, 2018.

[64] Badan Pengurus Harian Gereja Bethel Indonesia, Modul Pelatihan Pelayan Tuhan Pembuat Sejarah, (Jakarta: Bethel Empowering Center, t.th), 12

[65] Tom Yeakley, Character Formation…, 77.

[66] Uhar Suharsaputra, Menjadi Guru…, 31.

[67] Uhar Suharsaputra, Menjadi Guru Berkarakter…, 61.

[68] Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 47.

[69] Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter…, 47.

[70] Kenneth O. Gancel, Membina Pemimpin…,104.

[71] Kamisa, kamus Besar…, 244.

[72] Kamisa, kamus Besar…, 152.

[73] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 40-53

[74] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 66-77.

[75] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 86-102.

[76] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 110-127.

[77] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 139-155.

[78] Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik…, 29.

[79] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 164-184.

[80] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 194-211.

[81] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 220-238.

[82] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 246-249, 264..

[83] Tom Yeakley, Character Formation for Leaders…, 273-288.

[84] Kenneth O. Gancel, Membina Pemimpin…,104.

[85] Erastus Sabdono, Menemukan Kekristenan…, 163.

[86] Erastus Sabdono, Menemukan Kekristenan…, 163.

[87] Uhar Suharsaputra, Menjadi Guru Berkarakter…, 62-63.

[88] Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter…, 46-46.

[89] Paulus Lilik Kristanto, Pendidikan Agama Kristen di Gereja. Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: ANDI, 2008), t.n.h.

[90] E. G. Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,   1984), t.n.h.

[91]  Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai Ig. Loyola, (Jakarta: BPK Guning Mulia), 342.

[92] Tim Penyusun, Kamus Besar…, 1159.

[93] John Owen, Jaminan Keselamatan Kristen, (Surabaya: Momentum, 2005), 65.

[94] I Putu Ayub Darmawan, Menjadi Guru…, 7.

[95] Yosafat B, Integritas Pemimpin Pastoral…, 4.

[96] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2003), 63.

[97] E. G. Homrighausen & I. H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985), 164.

[98] Khoe Yao Tung, Filsafat Pendidikan Kristen, (Yogyakarta: Andi, 2017), 319.

[99] Ibid…, 180-181.

[100]Erastus Sabdono, Menemukan Kekristenan yang Hilang, (Jakarta: Rehobot Literatur, 2014), 159.

[101] Ensiklopedi Alkitab…, 377.

[102] Eddy Fances, Mengenal dan Dikenal Allah…, 50.

[103] Eddy Fances, Transformasi Pikiran…, 15.

[104] J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi, (Surabaya: Momentum, 2009), 55.

[105] Ensiklopedi Alkitab…, 377.

[106] Khoe Yao Tung, Filsafat Pendidikan…, 318-319.

[107] Dien Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif & Menarik…, 30.

[108]Meriil C. Tenney, Survei Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2006), 413.

[109] Ensiklopedi Alkitab…, 268-269.

[110]  E. M. Blaiklock, Surat-surat Penggembalaan, (Malang: Gandum Mas,), 4.

[111] Ibid.

[112] Meriil C. Tenney, Survei Perjanjian…, 412.

[113] E. M. Blaiklock, Surat-surat Penggembalaan…, 4.

[114] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab Wycliffe, (Malang, Gandum Mas, 2001), 857

[115] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab…, 859

[116] LAI,  Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Cetakan ke-2 (Malang, Gandum Mas, 2016), 2588

[117] E. M. Blaiklock, Surat-surat Penggembalaan…, 6.

[118] Willi Marxen, Pengantar Perjanjian Baru, Pendekatan Kristis terhadap Masalah-masalahnya, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 243.

[119] J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 4: Roma-Wahyu, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008), 157.

[120] LAI,  Alkitab Penuntun Hidup…,2588.

[121] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab…, 859.

[122] J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab…, 158

[123] Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, Tafsiran Alkitab…, 876.

[124] William Barclay, Pemahaman Aalkitab Setiap Hari: Surat 1 dan 2 Timotius, Titus, Filemon, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) ,153.

[125]Lembaga Alkitab Indonesia, TB (Jakarta, 2008), I Timotius 4:16

[126] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia & Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK) Jilid I, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia & Hasan Sutanto, 2004), 1117.

[127] Iwance Penuam, Tanggung Jawab Guru PAK Menurut 2 Timotius 4:1-5 dan Aplikasinya bagi Pelayanan Guru PAK Masa Kini, Skripsi, (SoE: STT SOE, 2017), 59.

[128] Tom Yeakley, Watak Pekerja Kristus, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1997), 61.

[129] William Barclay, Surat 1 dan 2 Timotius…, 321.

[130] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…,1117.

[131] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[132] B.S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional, (Bandung: Kalam Hidup, 2009), 56.

[133] I Putu Ayub Darmawan, Menjadi Guru…, 5.

[134] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[135] Jerry Bridges, Mengejar Kekudusan, (Bandung: Pionir Jaya, 2010), 74.

[136] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[137] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[138] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…,1117.

[139] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[140] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[141] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[142]  John Murray, Penggenapan & Penerapan Penebusan, (Surabaya: Momentum, 2010), 190.

[143] John Murray, Penggenapan & Penerapan…, 193.

[144] John Murray, Penggenapan & Penerapan…, 194.

[145] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[146] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[147] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear…, 1117.

[148] BAB III, 99.

[149] BAB II, 12.

[150] BAB II, 16.

[151] BAB II, 14.

[152] BAB II, 14.

[153] BAB II, 64.

[154]  BAB III, 92.

[155]  BAB III, 93.

[156]  BAB III, 83.

[157] BAB II, 12.

[158] BAB III, 94.

[159] BAB III, 83.

[160] BAB III, 96.

[161] BAB II, 34-35.

[162] BAB III, 88.

[163] BAB III, 97.

[164] BAB II, 63.

[165] BAB III, 104.

[166] BAB III, 108.

[167] BAB II, 67-68.

[168] BAB III, 105.

[169] BAB III, 82.

[170] BAB III, 95-96.

[171] BAB II, 62.

[172] BAB II, 62.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Komentar